Dibandingkan jenis kesenian lain, jenis tari kontemporer di DIY sepertinya tidak segegap gempita kesenian lainnya. Sekalipun demikian, seniman/seniwati tari di DIY yang mengkhususkan diri dalam olah dan garap tari kontemporer terus bergerak. Setidaknya hal itu dibuktikan dengan Gelar Tari Kontemporer yang dilaksanakan di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta Kamis malam, 18 Oktober 2018.

Pergelaran tari ini diinisiasi oleh Dinas Kebudayaan DIY dan TBY. Ada pun nama atau tema-tema tari yang disajikan adalah Titi Mangsa karya Arjuni Prasetyorini MSn, Urip Urub karya Tri Anggoro SSn, dan Siklus karya Pulung Jati Ronggo Murti SSn. Keseluruhan presentasi karya itu dibingkai dalam tema besar, yakni Mata Matra Mantra.

Titi Mangsa karya Arjuni selain menggambarkan tentang babak waktu atau saat, juga menggambarkan tentang dunia pertanian, khususnya Dewi Sri atau sering juga disebut Mbok Sri. Mbok Sri adalah Simbok bagi semua orang. Simbok yang penuh kasih, welas asih, dan pengorbanan untuk menghidupi anak (orang lain). Namun padi di sawah terus menghadapi ancaman keterbatasan lahan. Lahan menjadi tanah bagi tumbuhan berupa beton, aspal, dan semen yang ditingkah deru aneka mesin.

Siang telah meninggi, tanah mongering… tertutup jerami kering, dimana Simbok ? Lelahkah ? Tidurkah ? Atau pergi bersama deru traktor dan truk…. Angin semilir, senthir tertiup angin, aku teringat…. Siapa namamu ? … Sri. Siapa ?…. aku Sri.

Tari Urip Urub karya Tri Anggoro SSn. Foto: A. Sartono
Tari Urip Urub karya Tri Anggoro SSn. Foto: A. Sartono

Urip Urub karya Tri Anggoro SSn menggambarkan hakikat hidup itu nyala atau bersinar. Hendaknya selalu memberikan naungan faedah atau manfaat bagi semua insan di mayapada. Semakin besar manfaat yang bisa diberikan seseorang kepada orang lain (sesama) tentu akan menuai energi positif bagi kelangsungan hidup. Janganlah merasa paling pandai agar tidak salah arah. Janganlah suka berbuat curang agar tidak celaka. Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.

Tari Siklus karya Pulung Jati Ronggo Murti SSn. Foto: A. Sartono
Tari Siklus karya Pulung Jati Ronggo Murti SSn. Foto: A. Sartono

Siklus karya Pulung Jati Ronggo Murti menggambarkan putaran waktu atau perjalanan yang di dalamnya terdapat rangkaian-rangkaian peristiwa. Karya tari ini mencoba menginterpretasikan tentang urutan tembang macapat sebagai rentetan peristiwa yang menjadi rangkaian hidup manusia. Tari Siklus mencoba menggarap atau memvisualisasikan tentang esensi dari 11 tembang macapat.

Bukan hanya pola gerak tari dari ketubuhan penari yang digarap dalam Tari Sklus ini, namun koreografer juga menghadirkan pendukung artistik lainnya sebagai sebuah pertunjukan yang lebih kaya, seperti dance property, lighting, dan setting property untuk membantu memberi kekuatan dalam suasana maupun visualisasi yang dibutuhkan.

Penari dan koreografer berfoto bersama seusai pentas Gelar Tari Kontemporer di TBY. Foto: A. Sartono
Penari dan koreografer berfoto bersama seusai pentas Gelar Tari Kontemporer di TBY. Foto: A. Sartono

Masing-masing suguhan tari ini didukung oleh puluhan penari yang tentu saja profesional di bidangnya. Namun di balik itu faktor pendukung lain juga sangat menentukan, seperti sound system, lighting, musik (iringan), setting property, tata rias dan kostum. Semua itu menjadikan pertunjukan tari mewujud dalam suguhan tari yang lengkap, kaya, terpadu, dan utuh. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here