Puisi Polanco S. Achri

0
129

Seribu Bangau Kertas

—sebuah hadiah untuk nona k.

Pada tiap-tiap lembar kertas yang hendak dilipatnya
menjadi seekor bangau, selalu dituliskannya sebuah haiku.
Hari ini, sudah genap seribu! Dan dimintanya
seribu bangau itu terbang ke tempatmu kini berada
dan berkata, bahwa sudah dibuatnya satu permintaan:
agar engkau tetap sesuai dengan nama.

(2016-2018)

Mencari Gemak
bersama kawan dan sepupuku

Bermodalkan batu di tangan dan sebuah keyakinan
kita akan pergi mencari gemak di semak-semak hutan.
Tak pernah kita dapat! Selain lelah, tawa, dan kenangan
yang kini selalu kita ceritakan dalam perjalanan panjang.

(2018)

Bulan Juli

bersama utusan negeri dongeng.

kita terbangun di sini: di sebuah hari yang menolak untuk dinamai
menikmati hangatnya segelas pagi dan puisi-puisi yang mudah dimengerti
kita tak pernah tahu, kenapa kenangan selalu datang di saat-saat seperti ini
dan mengembalikan kita menjadi bocah yang suka mendengarkan kisah-kisah
bermain tanpa peduli menang-kalah, dan saat kita melihat langit: kita amat hapal
kapan saatnya untuk kembali ke rumah.

Gunung Kidul, 2018

Malam Yang Abadi

kucoba berjalan beriringan dengan dirimu
namun aku jatuh dan tertinggal
kucoba menemukan jejak kakimu
namun aku gagal

aku kian tersesat di malam yang tiada bintang
tak tahu arah dan hanya bisa menunggu pagi
namun pagi sudah kau kantongi . . . sendirian

(2018)

Sajak Untuk Seorang Kawan
Dikehidupanku Sebelumnya

Pohon-pohon rindang di tepi jalan menjadi saksi perjalanan
dua orang pemuda yang sepakat menolak menjadi sosok Arjuna:
yang satu memilih Ekalaya dan yang satunya memilih Karna.

Berjalan di antara sawah mengingatkan mereka tentang rumah
tentang kisah Dewi Sri dan tembang-tembang saat masih bocah.

Konten Terkait:  Puisi Indri Yuswandari

Di bawah pohon beringin, mereka berhenti: yang satu bersila
dan mulai menulis cerita, sedang yang satunya memandang surya
dan menyanyikan sebuah gita. Mereka sedang menanti sebuah lakon
di mana mereka akan kehilangan pemberian dewata
hanya untuk kemenangan dan hal-hal yang berkaitan
dengan sosok Arjuna.

Taman Sriwedari, 2018

Malam 25 Desember

Malam yang cerah. Sudah kulewati banyak rumah-Mu
sampai kuputuskan berhenti di sebuah rumah-Mu yang tak begitu besar.
Aku tak masuk. Hanya duduk, di seberang jalan, memandang orang-orang
yang berpakaian bersih dan wangi: tengah memuji dan mengagungkan nama-Mu.
Aku menikmati suasana itu, lalu pergi kembali: terus berjalan dan berjalan.
Di sebuah sudut, aku tersenyum! Ingin kutemukan diri-Mu yang lebih suka
di tempat mereka yang dipinggirkan dan mereka yang sering tersakiti
lalu mengulurkan seluruh tangan-Mu. Kupandang langit! Langit masih saja
cerah . . . masih saja cerah.

(2017)

Polanco S. Achri lahir dan tinggal di Yogyakarta. Ia mahasiswa jurusan Sastra Indonesia, yang senang mengumpulkan dan membaca buku. Menjadi seorang tukang antar-jembut buku-buku selain bergiat di Susastra dan Utusan Negeri Dongeng.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here