Masyarakat Dusun Mangir, Kelurahan Sendangsari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul pada tahun 2018 ini melaksanakan kegiatan Merti Dusun dengan tema Mikul Dhuwur Mendhem Jero. Merti dusun yang dimulai dengan ziarah ke makam Ki Ageng Mangir di Sorolaten, Sidokerto, Godean, Sleman ini diikuti dengan serangkaian acara atau kegiatan lain seperti Nunggal Tirta (pengambilan air dari tujuh sumber mata air oleh tujuh perjaka), Jamasan Sela Gilang, Umbul Donga, Gelar Potensi Seni Mangir, Ketoprak Gilang Mudha Budaya, Jamasan Nunggal Banyu (jamasan membersihkan semua peninggalan Ki Ageng Mangir di Dusun Mangir), Pagelaran Wayang Kulit, Festival Gudeg Manggar dan Launching Buku Ki Ageng Mangir, Pentas Reog Wayang Orang, dan Jalan Sehat dan Festival Dolanan Anak.

Kepala Desa Sendangsari Pajangan Bantul, Muhammad Irwan Susanto ST dan Bupati Bantul, Drs H Suharsono dalam peluncuran buku Ki Ageng Mangir Wanabaya-Foto-A.Sartono
Kepala Desa Sendangsari Pajangan Bantul, Muhammad Irwan Susanto ST dan Bupati Bantul, Drs H Suharsono dalam peluncuran buku Ki Ageng Mangir Wanabaya-Foto-A.Sartono

Khusus acara Festival Gudeg Manggar dan Launching Buku Ki Ageng Mangir dilaksanakan hari Sabtu, 6 Oktober 2018. Kedua acara itu dilaksanakan di Ndalem Saryantan di Legokan Ngancar Mangir yang menjadi lokasi bertemunya Sungai Progo dan Sungai Bedog. Festival Gudeg Manggar melibatkan 13 RT di Dusun Mangir Lor, Mangir Tengah, dan Mangir Kidul. Gudeg Manggar dipilih menjadi ikon menu khas di Dusun Mangir dengan alasan karena jenis gudeg ini diyakini diciptakan oleh Rara Pembayun yang menjadi istri dari Ki Ageng Mangir Wanabaya (III).

Kuncup bunga kelapa atau manggar sebagai bahan baku gudeg manggar-Foto-A.Sartono
Kuncup bunga kelapa atau manggar sebagai bahan baku gudeg manggar-Foto-A.Sartono

Rara Pembayun menciptakan gudeg yang berasal dari kuncup bunga kelapa ini bukan tanpa alasan. Penciptaan itu terjadi karena Rara Pembayun yang merupakan salah satu putri Panembahan Senapati dari Mataram itu melihat bahwa begitu banyak tanaman kelapa tumbuh di wilayah Mangir pada masa itu. Oleh karena melimpahnya pohon kelapa di wilayah Mangir tidak aneh jika kemudian banyak orang Mangir yang berprofesi sebagai penderes nira kelapa, pembuat gula jawa, pembuat aneka peralatan dari hasil pohon kelapa (irus, siwur, sapu lidhi, tali timba, keset, dan sebagainya).

Konten Terkait:  Adisarisara Penggal Sejarah dalam Musik Mantradisi di Sono Budoyo

Kecuali itu, pada masa itu orang-orang Mangir terbiasa juga makan pondoh (bagian termuda dari pohon kelapa bisa berupa bagian batang, bakal pelepah daun, atau kuncup bunga/manggar). Pondoh ini bisa dimakan langsung karena rasanya manis dan renyah. Akan tetapi pondoh ini juga bisa dimasak dengan kuah santan (semacam opor). Berdasarkan hal itulah muncul gagasan Rara Pembayun untuk menciptakan menu gudeg manggar. Tidak aneh jika gudeg manggar kemudian menjadi ikon bagi wilayah Mangir dan akhirnya juga melebar ke wilayah Mangiran yang terletak di sisi selatan Mangir. Berkait dengan hal itu, ada pula kepercayaan bahwa siapa pun yang rajin menyantap gudeg manggar wajahnya akan semakin bercahaya (kinclong) sehingga akan menambah nilai kecantikan atau ketampanan seseorang.

Penampilan gudeg manggar yang lain dalam Festival Gudeg Manggar di Mangri, Bantul-Foto-A.Sartono
Penampilan gudeg manggar yang lain dalam Festival Gudeg Manggar di Mangri, Bantul-Foto-A.Sartono

Festival Gudeg Manggar yang dilombakan ini melengkapi acara Launching Buku Ki Ageng Mangir Wanabaya yang untuk tahun 2018 ini merupakan cetakan ke-2. Acara ini dihadiri oleh tokoh-tokoh desa dan dusun setempat, para sesepuh, pemerhati budaya, muspika, dan juga Bupati Bantul. Dua kegiatan sekaligus ini merupakan kegiatan penggalian sekaligus pengenalan potensi Dusun Mangir. Baik itu potensi kuliner khasnya maupun potensi kesejarahan dan arkeologisnya yang pada gilirannya turut memperkokoh jati diri Mangir, Sendangsari, Pajangan, Bantul dan Yogyakarta itu sendiri. Potensi-potensi semacam itu perlu terus digali dan dikenalkan pada masyarakat luas sehingga kekayaan budaya yang ada di masing-masing daerah/wilayah semakin dapat memberi warna bagi kebudayaan lokal, nasional, maupun internasional. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here