Dalam rangka pentas seni budaya, Sanggar Seni Keprak Jogja menyuguhkan pementasan ketoprak tobong dengan lakon Kyai Plered Serial Banteng Mataram. Pementasan ketoprak tobong oleh Sanggar Seni Keprak Jogja pimpinan Ibu Darini SIP ini dlaksanakan di Plaza Ngasem Yogyakarta, Jumat malam, 5 Oktober 2018 pukul 20.00-23.00 WIB. Naskah lakon Kyai Plered Serial Banteng Mataram ditulis oleh Nano Asmorodono dan disutradarai oleh Miyanta. Sebelum pementasan ketoprak ditampilkan pementasan jenis kesenian lain yang dimulai pada jam 15.00 WIB. Jenis kesenian lain tersebut adalah Jatilan Kuda Kumara, Tari Anak-anak, Tari Ibu-ibu, Kalpika Band, Extravagongso, dan Swara Minoritas Band.

Buntoro menyerahkan tombak Kyai Plered kepada Jaka Umbaran-Foto-A.Sartonoi
Buntoro menyerahkan tombak Kyai Plered kepada Jaka Umbaran-Foto-A.Sartonoi

Pementasan ketoprak tobong yang memiliki ciri khas berupa permainan tonil (lukisan setting) yang dapat dinaikturunkan dan diganti-ganti sesuai tuntutan latar cerita ini juga dimeriahkan dengan adanya bintang-bintang tamu seperti Bagong Trisugananto, Hargi Sundari, Santosa, Tuminten, Miyanto, Rio Srundeng, Novi Kalur, dan Harin.

Jaka Umbaran menyerahkan Kyai Plered kepada Ki Ageng Pemanahan dan ia kemudian diwisuda menjadi senopati Mataram-Foto-A.Sartono
Jaka Umbaran menyerahkan Kyai Plered kepada Ki Ageng Pemanahan dan ia kemudian diwisuda menjadi senopati Mataram-Foto-A.Sartono

Pengadeganan pentas ketoprak lakon Kyai Plered serial Banteng Mataram dimulai dengan suasana gedong pusaka Keraton Mataram tempat tombak Kyai Plered diletakkan. Tiba-tiba para penjaganya terserang kantuk. Ketika mereka tertidur Kyai Plered diambil pencuri. Maka gemparlah Keraton Mataram. Adegan ini disusul dengan adegan latihan perang/kanuragan prajurit Mataram yang disertai dengan sayembara untuk menduduki jabatan salah satu senopati perang Mataram. Dalam acara itu tiba-tiba ada pemuda dari Pengging bernama Jaka Umbaran ikut sayembara dan ia berhasil. Untuk itu ia ditugaskan untuk mencari tombak Kyai Plered yang hilang. Untuk itu ia akan meminta izin dan petunjuk kepada senopati besar Mataram, Senopati Witaradya.

Nyai Adipati Witaradya jatuh hati kepada Jaka Umbaran-Foto-A.Sartono
Nyai Adipati Witaradya jatuh hati kepada Jaka Umbaran-Foto-A.Sartono

Nyai Senopati Witaradya justru jatuh cinta kepada Jaka Umbaran ketika bertemu Umbaran. Senopati Witaradya marah dan meminta Umbaran untuk menanyakan kepada Adipati Rangga Keniten di Pasuruan tentang ketidakhadirannya ke Mataram beberapa waktu. Ia juga diminta untuk mencari tombak Kyai Plered. Sebelum Umbaran sampai di Pasuruan, Adipati Wasis Jayakusuma telah mendahului sampai di sana dan meminta kembali tombak Kyai Plered yang ternyata dicuri oleh Rangga Keniten. Perang tidak terhindarkan. Umbaran yang datang belakangan ikut membantu Adipati Wasis Jayakusuma. Namun Mataram kalah. Bahkan Umbaran menderita luka-luka yang cukup parah. Umbaran lari bersama pasukan Mataram yang kocar-kacir. Umbaran dirawat keluarga Ken Warsi istri Buntoro yang memiliki anak bernama Kunti. Buntoro sendiri berprofesi sebagai maling dan begal.

Konten Terkait:  Gatotkaca Membagi Kesucian Kepada Musuhnya

Ketika Umbaran dirawat Ken Warsi, Buntoro cemburu sehingga menganiaya Umbaran yang sedang sakit. Untung semua dapat dicegah oleh Kunti dan Ken Warsi. Akhirnya Buntoro menyesal dan berjanji akan membalas mencuri Kyai Plered yang sekarang berada di Pasuruan. Dengan aji sirepnya Buntoro dapat mengambil Kyai Plered dari Pasuruan dan menyerahkannya kepada Jaka Umbaran. Buntoro dikejar oleh prajurit Pasuruan. Kedatangan pasukan Pasuruan bisa diusir dengan tombak Kyai Plered oleh Senopati Wasis Jayakusuma. Akhirnya Jaka Umbaran secara resmi diwisuda menjadi senopati Mataram dengan gelar Banteng Mataram. Sedangkan Buntoro yang semula menjadi maling namun berjasa bagi Mataram kemudian diberi kedudukan cukup menjanjikan di Mataram.

Adipati Rangga keniten mencuri tombak Kyai Plered di gedong pusaka Mataram-Foto-A.Sartono
Adipati Rangga keniten mencuri tombak Kyai Plered di gedong pusaka Mataram-Foto-A.Sartono

Pentas ketoprak tobong ini ditonton tidak saja oleh orang dewasa namun mulai anak-anak, remaja, dewasa, kakek-kakek dan nenek-nenek warga Ngasem, Tamansari, dan sekitarnya yang memang telah menantikan sejak sore hari. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here