Syukuran dengan menyajikan kenduri di Sendang Banyu Urip, Kelurahan/Desa Jatimulyo, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul DIY, selalu dilakukan antara tanggal 10-20 bulan Sura. Namun jika ada orang yang hendak menyelenggarakan kenduri syukuran di tempat itu pada hari yang lain tidak ada larangan.

Kenduri syukuran Sendang Banyu Urip untuk bulan Sura tahun 2018 ini dilaksanakan pada tanggal 30 September 2018. Syukuran yang disertai dengan menyembelih kambing sebanyak 5 ekor ini tidak hanya dilakukan oleh warga setempat. Namun juga oleh warga di luar wilayah Dlingo atau Bantul seperti Kota Yogyakarta, Sleman, Gunung Kidul, Karawang, Bekasi, Malang, dan lain-lain.

Suasana kenduri syukuran di kompleks Sendang Banyu Urip Dlingo Bantuil-Foto-A.Sartono
Suasana kenduri syukuran di kompleks Sendang Banyu Urip Dlingo Bantuil-Foto-A.Sartono

Ada yang menarik dengan penyelenggaraan syukuran di kompleks Sendang Banyu Urip ini, yakni bahwa ujub syukurnya umumnya didasarkan oleh karena mereka merasa memperoleh keberhasilan atau kelancaran akan peraihan harapan dan cita-cita mereka setelah berziarah di tempat ini. Ada ujub atau keinginan, harapan, cita-cita yang disampaikan di tempat ini umumnya adalah kelancaran dalam berbisnis (dagang) dan kesembuhan dari penyakit. Sekalipun demikian, ujub-ujub yang lain juga sering disampaikan di tempat ini.

Ritual yang dilakukan di Sendang Banyu Urip biasanya dengan memanjatkan doa di dalam ruangan tertentu yang berada di sisi sendang dengan diantarkan atau didampingi oleh jurukunci setempat. Usai itu orang yang berziarah akan mengambil air dari sendang. Umumnya air akan digunakan untuk mandi, membuat minuman, memasak, dan sebagainya. Tidak aneh jika orang yang datang ke tempat ini umumnya juga membawa wadah air. Bisa berupa botol plastik air mineral, jerigen, atau yang lain. Bahkan beberapa orang dari luar Yogyakarta banyak juga yang datang ke tempat ini dengan membawa puluhan galon yang ditempatkan pada mobil pick up.

Konten Terkait:  Pekan Ini Semua Hari Tergolong Baik
Profil inti Sendang Banyu Urip Dlinngo Bantul-Foto-A.Sartono
Profil inti Sendang Banyu Urip Dlinngo Bantul-Foto-A.Sartono

Kepercayaan pada khasiat atau tuah air Sendang Banyu Urip mungkin telah berjalan ratusan tahun yang lampau berkait dengan kisah pengembaraan Sunan Kalijaga dalam syiar agama Islam. Kisah ini menyebutkan bahwa pada suatu ketika Sunan Kalijaga bertemu dengan Ki Cakrajaya yang pekerjaannya adalah sebagai penderes nira kelapa. Ia berprofesi sebagai pembuat gula jawa. Pertemuan ini akhirnya menyebabkan Ki Cakrajaya bertekad untuk menjadi murid Sunan Kalijaga. Ia diminta bertapa sambil menjaga tongkat Sunan Kalijaga. Ia tidak boleh melepaskan tapanya sebelum ditengok oleh Sunan Kalijaga.

Nasi kenduri dan kelengkapannya disiapkan untuk syukuran di kompleks Sendang Banyu Urip-Foto-A.Sartono
Nasi kenduri dan kelengkapannya disiapkan untuk syukuran di kompleks Sendang Banyu Urip-Foto-A.Sartono

Hingga delapan tahun Sunan Kalijaga tidak menengoknya sehingga tempat bertapa Ki Cakrajaya telah dipenuhi oleh semak belukar dan pepohonan yang tinggi dan besar. Ki Cakrajaya tidak bisa keluar dari lebatnya belukar dan pepohonan sehingga Sunan Kalijaga terpaksa membakar belukar tersebut. Ki Cakrajaya pun terbakar di dalamnya dan kulitnya menghitam (hangus). Ia kemudian dibersihkan oleh Sunan Kalijaga.

Sendang Banyu Urip Dlingo yang diberi cungkup dan tempat doa-Foto-A.Sartono
Sendang Banyu Urip Dlingo yang diberi cungkup dan tempat doa-Foto-A.Sartono

Tiba-tiba Sunan Kalijaga melihat sinar terang di sebuah rumpun pepohonan. Ia mendatanginya dan kemudian mendapatkan sebuah sumber air jernih di bawah rumpun pepohonan tersebut. Di tempat itu Ki Cakrajaya dimandikan sehingga sembuh dari luka-luka terbakarnya dan sehat seperti sediakala. Sumber air yang ditemukan Sunan Kalijaga ini kemudian dinamakan Sendang Banyu Urip karena dengan air dari sendang itu Ki Cakrajaya disembuhkan. Setelah itu sendang ini kemudian dipercaya sebagai sendang bertuah. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here