Centhini PUPUH 355

57. Nikèn Tambangraras rantas
tyasira tumpês kêtawis
kêdaut dahat karantan
runtuh tyasira mawêrdi
tanpa awêr rêdatin
katêmbèn dènnira wuyung
wiyung nguyang ing driya
andrawaya waspa mijil
manah bêbêg jujur kajala ing priya

58. Priya ingkang lagya prapta
pratamèng ngèlmi kajatin
Tambangraras ling ing driya
ki dalêm bisa karya gring
paran bisa wakmami
lumadèng pada angèstu
mring ki dalêm kang memba
nyudama purnama sidhi
dhuh ki dalêm dalêma ing Wanamarta

Dua pada atau bait tembang Sinom dari Serat Centhini di atas mengawali acara macapatan malam Rabu Pon putaran 167 yang digelar di Tembi Rumah Budaya pada 4 September 2018, mulai pukul 20.00 sampai dengan 23.00. Bait tersebut menggambarkan suasana hati Niken Tambangraras yang gundah gulana karena sedang jatuh cinta kepada Seh Amongraga.

Para pecinta macapat malam Rabu Pon. foto herjaka HS
Para pecinta macapat malam Rabu Pon. foto herjaka HS

Perasaan Niken Tambangraras yang sangat pribadi tersebut hanya diungkapkan kepada orang-orang terdekat yaitu Cethi Centhini abdinya dan Nyai Malarsih ibunya. Oleh Nyai Malarsih ungkapan perasaan putrinya disampaikan kepada Ki Bayi Panurta. Ki Bayi Panurta pun merasa lega di hati. Inilah saat yang ditunggu-tunggu keluarga besar Wanamarta. Dikarenakan sebagai saudara sulung dari Jayengwesthi dan Jayengraga, Niken Tambangraras belum mau menikah. Sementara kedua adik laki-lakinya sudah menikah. Ia hanya mau menikah dengan pria yang mempunyai ilmu di atas ilmu ayahnya. Dan pria yang diidamkan itu ada pada sosok Seh Amongraga.

Masa lajang Niken Tambangraras, wanita pujaan seluruh padukuhan Wanamarta pun hampir berakhir, setelah Ki Bayi Panurta berembuk dengan kedua adiknya yaitu Jayengwesthi dan Jayengraga untuk merencanakan pernikahan kakak sulungnya Niken Tambangraras dengan Seh Amongraga.

kelompok karawitan Among Raos dari Ngentak Bangunjiwo Kasihan foto herjaka HS
kelompok karawitan Among Raos dari Ngentak Bangunjiwo Kasihan foto herjaka HS

Di sela-sela memacapatkan kisah yang ditulis pada Serat Centhini jilid 5 ini, selain diselingi gending-gending Jawa oleh karawitan Among Raos dari Ngentak Bangujiwo Bantul, Ki Warjudi Wignya Swara sebagai pemandu acara memberikan kawruh-kawruh kepada para pandemen macapat yang hadir. Menurut Ki Warjudi bahwa kawruh itu adalah pengetahuan yang didapat atau didengar dari orang lain dan kemudian diomongkan kembali kepada orang lain pula. Tetapi jika kawruh yang didapat tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, itu namanya ilmu.

Konten Terkait:  Suara Malam dan Pesona Bulan di Malioboro Mengisi Sastra Bulan Purnama
pemandu acara, Ki Warjudi Wignyaswara yang adalah dalang, artis ketoprak, dan juga pelawak. foto Herjaka HS
pemandu acara, Ki Warjudi Wignyaswara yang adalah dalang, artis ketoprak, dan juga pelawak. foto Herjaka HS

Ilmu kelakone kanthi laku, sebuah ungkapan yang menggambarkan bahwa untuk meraih sebuah ilmu itu membutuhkan laku atau proses. Seperti laku yang dijalani oleh Niken Tambangraras. Ia menjalani laku untuk mendapatkan ilmu baru yang lebih tinggi dibandingkan dengan ilmu yang telah ia mililki. Dan ilmu yang dimaksud ada pada Seh Amongraga.

Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa apa yang dijalani Niken Tambangraras tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan para pecinta macapat. Kesetiaan mereka selalu datang pada malam Rabu Pon adalah sebuah laku untuk menghidupi seni macapat. Karena di dalam seni macapat tersebut terdapat aneka ilmu yang masih relevan dengan zamannya. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here