Selama ini Bentara Budaya Yogyakarta dikenal sebagai tempat yang memberi ruang terhadap seni rupa dan koleksi ke-kuno-an. Bisa dikatakan setiap minggu selalu ada pembukaan pameran seni rupa karya perupa yang berbeda-beda. Namun kali ini, Bentara Budaya Yogya menyajikan puisi, yang tidak dibacakan, melainkan dilagukan. Maka disebut sebagai lagu puisi.

Lagu puisi ini dibarengkan dengan kegiatan Pasar Yakoban, yang diselenggarakan secara rutin setiap tahun pada akhir September, dan lagu puisi mendapat ruang, Jumat, 28 September 2018, dengan menampilkan 4 group yang menyajikan puisi-puisi karya sejumlah penyair, baik yang tinggal di Yogya maupun penyair yang tinggal di Jakarta.

Donas, nama panggilan dari Rimawan Ardono, yang sering pentas lagu puisi di beberapa tempat, termasuk sudah beberapa kali tampil di Sastra Bulan Purnama Tembi Rumah Budaya. Di Bentara Budaya Yogya kali ini, Donas menyanyikan 5 lagu puisi, di antaranya karya Nana Erna Wati, Dhenok Kristianti, Achmad Masih, Alya Salaisha.

“Lagu puisi ini sudah sering saya bawakan di beberapa tempat, karena memang sudah saya siapkan sejak lama,” kata Donas.

Ana Ratri
Ana Ratri

Selain Donas, tampil juga Ana Ratri dan Nyoto Yoyok. Ana bertindak sebagai vokal dan Yoyok memetik gitar. Dua pasangan in terlihat sering pentas di beberapa tempat, terutama pada perhelatan sastra dan pembukaan pameran. Ana Ratri dan Yoyok membawakan 5 lagu puisi dari puisi karya, Umi Kulsum. Novi Indrastuti, Latief Noor Rochman, Ana Ratri dan WS Rendra.

“Puisi Aroma Rindu karya Bu Novi, pernah saya pentaskan di Aula Fakultas Farmasi UGM pada saat peluncurkan buku puisi fotografi karya Novi Indrastuti dan Harno Depe,” ujar Donas.

Jalidu, dengan grupnya yang diberi nama GMT, kependekan dari Gundhule Mumet Tenan, melagukan 4 puisi dari karya Sapardi Djoko Damono, Dorothea Herliani dan Damtoz Andreas. Jalidu bertindak sebagai vokalis.

Konten Terkait:  Warga Dusun Kuwaru Menggelar Upacara Sedekah Sewu Tumpeng

Penampil terakhir, Doni Onfire hanya membawakan 3 lagu puisi, di antaranya karya Umi Kulsum. Dalam penampilannya, Doni ditemani dua orang secara bergantian. Penampilan pertamanya ditemani seorang pemetik gitar dan penampilan berikutnya seorang penggesek biola. Doni yang selama ini, setiap tampil, selalu menggesek biola, kali ini dia memetik gitar.

Empat grup musik tampil secara berbeda, hanya Donas yang selalu bermain sendiri sambil memetik gitar dan bernyanyi. Tampaknya, Donas lebih menyukai tampil secara personal ketimbang ditemani orang lain, untuk memberi variasi penampilannya, misalnya menampilkan vokal perempuan, yang bergantian menyanyi atau berduet dengannya.

Rimawan Ardono atau Donas
Rimawan Ardono atau Donas

Ana Ratri dan Yoyok sering bongkar pasang personel. Terkadang ada personel yang memainkan biola dan memetik gitar menemani Yoyok, dan kali ini keduanya, Ana Ratri dan Yoyok tampil berdua.

Doni, yang sering tampil dengan personel berbeda-beda, dan ia selalu menggesek biola. Kali ini biola dimainkan orang lain, dan Doni merasa lebih nyaman memetik gitar sambil bertindak sebagai vokalis.

Jalidu memang memiliki kelompok berbeda dari ketiga grup musik lainnya. Jalidu, memang sengaja tampil secara variatif, dan tampaknya orientasi pop pada lagu puisi yang dibawakan Jalidu sangat kuat, dan terlihat dia menikmati itu.

Lagu pusi. Mengolah puisi menjadi lagu. Maka puisinya perlu terlihat muncul, sehingga orang yang mendengar bisa mengenali, bahwa lagu yang dibawakan berangkat dari puisi. Dengan demikian membawakan lagu puisi berbeda dengan menyajikan lagu pop seperti saban hari bisa kita dengar. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here