Tak Apa-Apa (Medan Kesepian) Karya Franky di Miracle Prints

0
23
Drawing karya Franky di Miracle Prints Studio-Foto-A.Sartono
Drawing karya Franky di Miracle Prints Studio-Foto-A.Sartono

Kebosanan akan rutinitas sering menjadi pemicu bagi seseorang untuk melakukan sesuatu. Demikian pula halnya dengan Franky Pandana, seorang seniman yang sekaligus kolektor. Bahkan juga disebut sebagai provokator seni oleh banyak orang. Rutinitas yang membosankan mendorong Franky untuk menjadikannya sebagai sesuatu. Dari sesuatu itu jadilah pameran seni yang dilakukannya di Miracle Prints, Suryodiningratan MJ II/853, Mantrijeron, Yogyakarta. Franky memberi tema pamerannya “Tak Apa-Apa”. Pameran seni rupa berupa karya-karya kolase itu ia lakukan mulai tanggal 14-28 September 2018.

Seperti judul tema pada pamerannya itu dan seperti pengakuannya sendiri, tidak ada konsep yang berat-berat dalam pameran ini. Tidak ad aide yang cerdas sekali, kadang juga tidak untuk memuaskan nafsu visual. Karya-karyanya kali ini hanya seperti “mainan” yang menghibur dalam masa kebosanan. Sekalipun demikian, karya-karyanya ini diharapkan bisa juga memberikan kesenangan bagi apresian.

Karya-karya Franky dalam pameran ini termasuk karya mini karena hanya berukuran antara 14 cm x 9 cm sampai 16 cm x 12,8 cm untuk kolase dan A5 untuk drawing. Judul pamerannya pun Tak Apa-Apa. Sangat santai, sesantai jawaban seseorang ketika terpaksa menerima sebuah keadaan yang sebetulnya ia sendiri ragu atau tidak siap menerimanya, namun ia tidak enak hati jika harus menyatakan perasaannya yang sesungguhnya. Seperti sebuah kalimat yang belum selesai, menggantung khas basa-basi Timur.

Kolase mini karya Franky di Miracle Prints Studio-Foto-A.Sartono
Kolase mini karya Franky di Miracle Prints Studio-Foto-A.Sartono

Padahal Franky adalah orang Medan yang terkenal tidak suka basa-basi. Apakah kita akan langsung percaya dengan pernyataan seninya yang seolah berancang-ancang menegasi bila ada kritik terhadap karyanya yang dianggap kurang serius, kurang artistik, kurang teknik dan serba kurang lainnya. Hal yang terasa bertolak belakang dengan kegemarannya mengkritisi karya-karya dan sikap para seniman selama ini. Demikian Syahrizal Pahlevi menyatakan dalam tulisan kuratorialnya atas pameran Franky yang dilaksanakan di studionya itu.

Konten Terkait:  Kirab Siwur Awali Prosesi Nguras Enceh

Kebandelan Franky untuk terus menggambar dan kini kolase, agaknya didorong oleh kesepiannya di kota kelahirannya sendiri, Medan. “Medan kesepian”, katanya. Kesepian medan (seni rupa) rupanya ditambah lagi kini dengan kesepian dan kerajinan menggambar dan menempel. Kesepian ganda itu yang membuat Franky bercakap-cakap dengan kepalanya sendiri, dengan gambar-gambar, dan kini dengan kolasenya sendiri. Demikian pernyataan Hendro Wiyanto yang juga menuliskan kurasinya atas pameran Franky ini.

Salah satu figur hasil kolase karya Franky-Foto-A.Sartono
Salah satu figur hasil kolase karya Franky-Foto-A.Sartono

Lebih jauh Syahrizal Pahlevi menyatakan bahwa karya-karya Franky barangkali masih menyimpan provokasi sebagaimana kegemarannya, namun tidak dengan kata-kata atau “status-status pedas dan nyinyir” sebagaimana di media sosialnya. Ia tampil dengan permainan garis, bentuk, komposisi, warna melalui kreasi potongan kertas bergambar yang ditemukannya. Ini adalah provokasi lunak, yang tidak memancing munculnya “musuh-musuh” baru. Ok. “Tak Apa-apa” (dibilang ini-dibilang itu, dianggap begini-dianggap begitu, ditawar segini-ditawar segitu, dan seterusnya)…. asalkan….hmmm…. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here