Sudah menjadi tradisi di lingkungan Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa yang beralamatkan di Jl Dipokusuman, Keparakan, Mergangsan, Kota Yogyakarta bahwa pada setiap hari Selasa dengan pasaran atau naptu Legi, menyuguhkan karya tari. Untuk Selasa Legi malam, 18 September 2018 YPBSM menyajikan Tari Serimpi Pandelori. Seperti biasa pula sebelum sajian tari utama dilaksanakan seluruh siswa YPBSM menarikan Tari Rengga Mataya. Selain Tari Serimpi Pandelori juga ditarikan jenis tari lain seperti Tari Golek Ayun-ayun, Tari Klana Alus Cengklek, dan Tari Klana Raja.

Tari Serimpi Pandelori yang ditarikan oleh empat orang remaja putri berusia belasan tahun. Para remaja putri ini telah belajar tari di YPBSM sejak berusia 6-7 tahun. Jadi, mereka telah mempelajari Tari Serimpi Pandelori dan jenis tari lainnya di YBSM sejak 4-7 tahun yang lalu. Rentang waktu seperti itu tentu bukan rentang waktu yang singkat. Butuh ketekunan dan stamina serta niat yang kuat untuk menjalaninya.

Empat penari Tari Serimpi Pandelori dari YPBSM bersama salah satu pelatihnya-Foto-A.Sartono
Empat penari Tari Serimpi Pandelori dari YPBSM bersama salah satu pelatihnya-Foto-A.Sartono

Azas dan tujuan YPBSM, yakni mendidik generasi muda dalam bidang kesenian khususnya tari klasik dan karawitan, gaya Yogyakarta dengan maksud menanamkan rasa cinta terhadap seni budaya bangsa sendiri; mengembangkan dan melestarikan budaya khususnya tari klasik dan karawitan gaya Yogyakarta dengan tujuan dapat meneruskan nilai-nilai budaya adiluhung kepada generasi penerus; membantu program pemerintah dalam bidang kepariwisataan. Azas dan tujuan ini terasa begitu cocok untuk generasi muda Yogyakarta di mana pada saat ini semua sisi kehidupan seperti telah dipengaruhi oleh berbagai nilai budaya asing, baik itu dari Barat maupun Timur yang pada banyak sisi kurang sesuai dengan budaya Indonesia.

Salah satu tampilan Tari Serimpi Pandelori oleh Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa-Foto-A.Sartono
Salah satu tampilan Tari Serimpi Pandelori oleh Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa-Foto-A.Sartono

Tari Serimpi Pandelori yang ditarikan oleh empat orang penari putri pada intinya menceritakan tentang dua orang putri yang memperebutkan seorang pangeran. Kisah ini diambil dari cerita Menak (Arab). Kedua orang putri yang dimaksudkan bernama Dewi Sudarawerti dan Dewi Sirtupilaeli. Keduanya memperebutkan tokoh yang bernama Wong Agung Jayengrana. Peperangan kedua putri tidak dimenangkan oleh siapa pun. Artinya, tidak ada yang menang maupun kalah. Oleh karena itu akhirnya keduanya diperistri oleh Wong Agung Jayengrana.

Konten Terkait:  Pendadaran Sokalima, Pandawa Murid Berprestasi

Tari Serimpi Pandelori dipercaya diciptakan oleh Sultan Hamengku Buwana VI dan Sultan Hamengku Buwana VII. Properti Tari Serimpi Pandelori di antaranya adalah cundrik (keris berukuran relatif kecil) dan juga pistol. Konon jenis Tari Serimpi diciptakan pada saat Kerajaan Mataram dipimpin oleh Sultan Agung (1613-1645). Tari Serimpi kemudian diwarisi oleh empat kerajaan pewaris Kerajaan Mataram, yakni Kasunanan Surakarta, Kasultanan Yogyakarta, Kadipaten Paku Alaman dan Kadipaten Mangkunegaran. Dalam perjalanannya masing-masing kerajaan mengembangkan jenis Tari Serimpi sesuai dengan tujuan dan kreativitas masing-masing kerajaan.

Tari Golek Ayun-ayun oleh siswa-siswi YPBSM-Foto-A.Sartono
Tari Golek Ayun-ayun oleh siswa-siswi YPBSM-Foto-A.Sartono

Menurut Kanjeng Brongtodiningrat empat penari dalam Tari Serimpi melambangkan empat mata angina tau empat unsur dunia (alam), yakni Api, Udara, Air, dan Tanah. Tari Serimpi merupakan salah satu jenis tari yang dianggap sebagai pusaka keraton. Tema inti dari Tari Serimpi (termasuk Tari Serimpi Pandelori) adalah pertarungan perihal baik dan buruk yang tidak pernah berakhir. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here