Jazzkini Vol 3 : Diskusi Santai yang Berbobot

0
31
CEO Wartajazz Agus Setiawan Basuni (kedua dari kiri) sedang menceritakan pengalamannya sebagai juri Jazzahead 2017.
CEO Wartajazz Agus Setiawan Basuni (kedua dari kiri) sedang menceritakan pengalamannya sebagai juri Jazzahead 2017.

Komunitas Ke:kini Ruang Bersama menggelar diskusi yang bertajuk “Jazz Indonesia Menuju Panggung Dunia” yang diadakan di Gedung Ke:kini Ruang Bersama, Cikini, Jakarta Pusat, Selasa 25 September 2018.
Acara diskusi ini dihadiri oleh Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif Ricky Pesik, Kurator Europalia 2017 Ubiet, dan Juri Jazzahead 2017 Agus Setiawan Basuni. Acara ini dimoderatori oleh Felencia Hutabarat sekaligus Direktur Ke:kini Ruang Bersama.

Sebagai informasi, acara ini sebetulnya akan dihadiri juga oleh Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid. “Mohon maaf, Pak Hilmar mendadak tidak bisa hadir karena masih ada acara bersama Mendikbud,” kata Felencia.

Sebelum narasumber berbicara tentang diskusi ini, Felencia menjelaskan acara diskusi ini hadir karena semakin sempitnya ruang musik jazz di Indonesia dan semakin sempit juga ruang diskusi terkait musik jazz.

Musisi Ubiet (kiri) sedang berbicara tentang pengalamannya menjadi Kurator Europalia 2017
Musisi Ubiet (kiri) sedang berbicara tentang pengalamannya menjadi Kurator Europalia 2017

Terbukti ketika Agus yang juga CEO Wartajazz memberikan data soal pertunjukan jazz. Menurut data Wartajazz.com, kata Agus, hingga tahun 2018 ini Indonesia memiliki 70-an event jazz berskala festival. Angka ini berbanding terbalik dengan Prancisyang telah menyelenggarakan 700-an pertunjukan jazz berskala festival.

Selama acara berlangsung, diskusi terbilang santai dan hangat. Hal itu dibuktikan oleh Ricky, yang berdiskusi sambil memakan semangkuk bubur ayam yang telah ia pesan di depan gedung itu.
Dalam diskusi tersebut, Agus juga berbagi pengalaman ketika menjadi juri di Jazzahead 2017. Ia juga memberikan masukan kepada para musisi jazz Indonesia untuk International Music Market, yang terdekat pada saat ini ialah Womex The World Music Expo, yang diselenggarakan di Tampere, Finlandia.

Agus juga berbagi tips bagaimana karya-karya anak bangsa diterima di pasar Internasional. “Saya bingung, di sini kita masih berbicara bagaimana karya kita bisa masuk dan diterima pasar internasional. Sedangkan, masyarakat Prancis sudah berbicara bagaimana caranya bisa masuk ke pasar musik Indonesia. Artinya, kita masih global segmentasinya dan dia? Sudah signifikan sekali,” tegas Agus yang disambung dengan gelak tawa peserta diskusi malam itu.

Setelah Agus, Ubiet sang seniman musik bercerita tentang bagaimana pengalamannya menjadi kurator di Europalia 2017.

Ricky dari Badan Ekonomi Kreatif berbicara bagaimana cara agar pelaku yang berniat meminta bantuan kepada Bekraf bisa diterima oleh pihaknya. Entah itu hanya sekadar fasilitator maupun finansial. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here