Pameran lukisan atau seni rupa tidak harus dan selalu di sebuah galeri yang mewah dan megah dengan segala fasilitas yang memadai. Pameran semacam itu bisa juga dilakukan di pinggir kali atau bahkan di kolong jembatan. Hal itulah yang dilakukan oleh anak-anak di Siluk, Selopamioro, Imogiri, Bantul.

Anak-anak yang terbina dalam kelas lukis oleh beberapa seniman andal ini pada tanggal 9-16 September 2018 melaksanakan pameran lukisan di Jembatan Edukasi Siluk. Pameran diselenggarakan mulai jam 10.00-17.00 WIB. Hal semacam ini mungkin merupakan sesuatu yang tidak lazim, namun itulah yang terjadi. Di tangan orang-orang kreatif dan punya greget, sesuatu yang muskil, yang kelihatannya tidak mungkin, sulit, dan sebagainya bisa menjadi mungkin. Bukan hanya itu, bisa menjadi seuatu yang penuh manfaat bagi sebanyak-banyak orang.

Suasana kegiatan seni anak-anak di JES Imogiri Bantul-Foto-A.Sartono
Suasana kegiatan seni anak-anak di JES Imogiri Bantul-Foto-A.Sartono

Di samping pameran lukisan anak-anak, disertakan pula pameran dari seniman-seniman beken di Yogyakarta, di antaranya adalah Budi Ubrux, Ampun Sutrisno, Dimas Adi Nugroho, Eko Cahyo Saputro, Kuart Kuat, Lukman Van Gogh, Ledek Sukadi, Rismanto, Samuel Indratma, Yana Setyawan, dan Yanwar Nugroho. Pembukaan pameran dilakukan oleh Dr Nasir Tamara MA MSc PhD. Penulisan atas pameran ini dilakukan oleh Yuswantoro Adi. Pembukaan pameran juga dimeriahkan dengan pementasan Wayang Dongeng Nusantara oleh Bagong Subardjo serta Karawitan Anak Sanggar Ismoyo Siluk. Seribu lukisan anak itu sendiri dikumpulkan dari karya yang dibuat sejak tahun yang lalu.

Jembatan Siluk di Imogiri, Bantul pada awalnya sering menjadi tempat orang buang sampah seenaknya. Sambil mengendarai kendaraan mereka main lempar sampah begitu saja dari atas kendaraannya. Lakuan tidak terpuji ini sering terjadi. Tentu hal ini menjadikan kawasan itu menjadi kotor, kumuh, dan tidak sehat. Pada 28 November 2017 Bantul juga diterjang banjir bandang. Sungai Opak yang mengalir melalui Siluk meluap. Sampah banyak tersangkut di kanan-kiri Jembatan Siluk. Warga setempat demikian prihatin dan gelisah atas kondisi tersebut.

Konten Terkait:  Potret dan Penyelidikan Estetis di Tangan 13 Perupa
Seribu lukisan anak dipamerkan bersama lukisan para seniman beken di JES-Foto-A.Sartono
Seribu lukisan anak dipamerkan bersama lukisan para seniman beken di JES-Foto-A.Sartono

Demi melihat hal semacam itu bangkitlah beberapa tokoh setempat untuk mengubah (kolong) Jembatan Siluk menjadi tempat yang nyaman dan bermanfaat. Usaha mengubah tempat itu menjadi tempat nyaman dan bermanfaat utamanya untuk edukasi anak dilakukan oleh tokoh setempat yang kebetulan berprofesi sebagai seniman. Upaya ini mendapatkan respons dan dukungan dari para seniman, muda-mudi, dan warga setempat serta siapa pun yang peduli akan hal itu.

Maslihar Panjul dan Bagong Subardjo, dua seniman anggota keluarga JES-Foto-A.Sartono
Maslihar Panjul dan Bagong Subardjo, dua seniman anggota keluarga JES-Foto-A.Sartono

JES (Jembatan Edukasi Siluk) awalnya dikreasi dan dilengkapi dengan perpustakaan sebagai tempat belajar, membaca, dan bersantai di pinggir sungai. Namun dalam perkembangannya kemudian diisi dengan berbagai kegiatan, di antaranya pada minggu ke-2 diisi dengan kegiatan melukis anak-anak, minggu ke-4 dilakukan kegiatan recycle barang bekas. Semuanya dilaksanakan dengan gratis. Anak-anak yang ingin mengikuti kegiatan itu hanya diminta untuk membawa botol bekas atau barang bekas lain. Semuanya akan dijual atau digunakan sebagai bahan kegiatan. Hasil penjualan barang bekas juga digunakan seluruhnya untuk penyelenggaraan kegiatan di tempat tersebut.

Seribu lukisan anak dipamerkan di bawah kolong Jembatan Siluk Imogiri Bantul-Foto-A.Sartono
Seribu lukisan anak dipamerkan di bawah kolong Jembatan Siluk Imogiri Bantul-Foto-A.Sartono

Maslihar dan Bagong Subardjo (keduanya seniman) dan sekaligus keluarga JES antara lain menyatakan bahwa titik-titik semacam JES ini perlu diadakan di tempat-tempat lain. Dengan demikian generasi muda kita semakin mekar berkembang dan kreatif serta cerdas sosial. Tidak hanya berkutat pada gadget atau alat komunikasi elektronik lain. Mereka akan lebih peduli pada lingkungan sosial maupun alam. Tidak asyik pada dunia individualnya belaka. Jika hal semacam ini tumbuh dimana-mana maka semakin berdayalah generasi muda kita. Tidak terbius dan tergerus oleh globalisasi. Keberdayaan lokal akan memberi warna dan nuansa yang lain pada apa yang disebut sebagai globalisasi. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here