Memutuskan diri untuk beralih profesi bukan merupakan keputusan yang mudah dan ringan. Ada banyak konsekuensi dan tanggung jawab yang harus dipenuhi di dalamnya. Lebih-lebih jika profesi awalnya adalah profesi yang cukup mapan, menjanjikan, dan dapat memberikan penghasilan yang cukup dan ajeg. Namun itulah yang ditempuh Yassir Malik. Setelah lulus dari perguruan tinggi ISI Yogyakarta ia menjadi dosen di sebuah perguruan tinggi. Sekian tahun menjalani profesi itu ia merasakan kejenuhan. Sekian tahun itu pula ia menganggap dirinya mengalami hibernasi dari dunia kesenirupaan karena hari-harinya disibukkan oleh urusan dunia mengajar. Artinya, hanya ada waktu sedikit untuk berkarya.

Night and Day,50 x 40 cm, print and watercolor on paper, 2018, karya Yassir Malik-Foto-A.Sartono
Night and Day,50 x 40 cm, print and watercolor on paper, 2018, karya Yassir Malik-Foto-A.Sartono

Keputusannya berhenti menjadi dosen atau pengajar dan kemudian menjadi seniman yang mengandalkan diri berkarya belaka tentu bukan keputusan main-main. Hal ini berimplikasi pada banyak hal. Terutama tentu pada penghasilannya yang semula tetap, dan selalu dapat “dijagakake” (diharapkan). Menjadi seniman dengan mengandalkan hidup pada kegiatan berkarya seni saja tentu bukan persoalan ringan dan sederhana. Namun itulah keputusan Yassir Malik. Ia mengambil keputusan itu dan kemudian memamerkan hasil karyanya (grafis dan lukis) di Galeri Tembi Rumah Budaya. Pameran itu ia bingkai dalam tema Hybernated. Pameran diselenggarakan mulai 13-28 September 2018.

Tak urung apa yang diputuskan oleh Yassir Malik ini membuat Dr Edy Sunaryo terkejut. Bagi Edi Sunaryo profesi pengajar adalah profesi yang menjanjikan. Selain itu, ada banyak kebaikan yang bisa ditularkan dengan profesi ini. Bisa berbagi ilmu serta menyebarluaskannya. Selain itu, seseorang yang berprofesi sebagai pengajar sesungguhnya masih bisa juga berkarya di rumah. Jadi, untuk menjadi seniman tidak harus meninggalkan profesinya sebagai pengajar. Kedua-keduanya sesungguhnya bisa dijalani bersama. Hanya tinggal kemampuan membagi waktunya yang harus cermat.

What Love Got To Do With It, linocut print, 44 x 30 cm, 2018, karya Yassir Malik-Foto-A.Sartono
What Love Got To Do With It, linocut print, 44 x 30 cm, 2018, karya Yassir Malik-Foto-A.Sartono

Kuss Indarto yang menuliskan kurasinya atas pameran ini menyatakan atau menduga bahwa Yassir telah menemukan “rumah baru” dalam dirinya sebelum rumah baru yang secara fisik tengah dipersiapkan beberapa waktu lagi di kota tempatnya menempuh studi puluhan tahun lalu. Hal berikutnya, perihal perspektif, akan memberi banyak hal dinamika persoalan. Akan tetapi juga bisa sebaliknya, akan memberi fokus pada “pemilik perspektif” tersebut. Maksudnya, misalnya pencapaian seorang seniman itu bergantung pada perspektif mana yang dibidik.

Moon & Tree, 40 x 76 cm, linocut print & watercolor, 2008, karya Yassir Malik-Foto-A.Sartono
Moon & Tree, 40 x 76 cm, linocut print & watercolor, 2008, karya Yassir Malik-Foto-A.Sartono

Ada kelompok seniman yang karya kreatifnya banyak menginspirasi seniman lain dan komunitas di sekitarnya. Ada kelompok kreator yang merasa telah memiliki pencapaian ketika karya-karyanya diserap dengan baik bahkan gegap gempita oleh pasar. Ada pula kelompok seniman yang merasa memiliki pencapaian ketika karya-karya mereka mampu memberi daya gugah pada tradisi yang telah menuju titik nadir karena asing dari lingkungannya sendiri, dan sekian banyak bentuk pencapaian yang berbeda-beda. Sekali lagi, ini masalah persepktif.

Yassir Malik (hem putih-tengah) berfoto bersama seniman dan budayawan dalam pembukaan pamerannya di Tembi Rumah Budaya-Foto-A.Sartono
Yassir Malik (hem putih-tengah) berfoto bersama seniman dan budayawan dalam pembukaan pamerannya di Tembi Rumah Budaya-Foto-A.Sartono

Oleh karenanya, ketika seorang seniman atau sekelompok seniman telah memiliki perspektif sebagai basis atau garis kreatifnya dalam berkarya seni, sesungguhnya dia/mereka telah memenangkan separuh dari sebuah pertarungan dalam pergulatannya berkarya seni. Yassir Malik telah mengakrabi seni rupa abstrak sejak masih kuliah di ISI. Pilihan kreatifnya saat kuliah memang di jalur itu. Tidak mengherankan jika basis karya kreatif yang dibuatnya dengan medium silk screen atau hardboard cut sebagai bagian dari teknis seni grafis atau printmaking art, cenderung banyak mengeksplorasi bentuk-bentuk abstrak. Yassir sendiri mengakui bahwa karya-karya yang dibuatnya itu seperti puisi: tidak mempresentasikan sebuah kerumitan dengan detailnya begitu rupa, namun cukup dengan lanskap sederhana dan mengena. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here