Delapan seniman dari Singapura dan Indonesia diundang untuk menciptakan sebuah dialog visual melalui karya seni dengan sesama seniman, maupun publik. Pertemuan ini diawali dengan mempertanyakan atau menguji kebenaran polarisasi seni seniman Singapura dan Indonesia. Keunikan kedua ekosistem tersebut sering ditekankan hanya kepada kelebihan dan kekurangan ekstrem dari kedua pihak, sebuah mitos ketidakseimbangan ekstrem yang mungkin menjadi penghambat kemajuan dalam kedua ranah seni ini. Karenanya pameran ini diberi tajuk ‘Conversations on Lack & Excess’.

Pertanyaan selanjutnya, seperti dikemukakan dalam pengantar, adalah haruskah seorang seniman melestarikan ketidakseimbangan ini, atau malah memasarkan identitas diri yang dibangun di atas hambatan dan ketimpangan? Bukankah identitas diri selayaknya berangkat dari keunggulan?

Prajna Deviandra Wirata, 'Draupadi Vastraharan II Shatered Dreams', 2018, oil on canvas., 100x100cm Foto Barata
Prajna Deviandra Wirata, ‘Draupadi Vastraharan II Shatered Dreams’, 2018, oil on canvas., 100x100cm Foto Barata

Para seniman ini, menurut pihak galeri, berhasil menunjukkan bahwa ada sensibilitas yang tumpang-tindih, juga isu lokal yang paralel dalam ranah seni lokal kedua belah pihak, serta tetap memertunjukkan keunikan diri dan aspek personal dalam karya. Bahwa ada banyak unsur yang dibagi dan dirasa bersama, terlepas dari anggarapan kebertolakbelakangan di antara keduanya. Interaksi ini juga bertujuan untuk memancing kesadaran akan ‘diri’ (self) dan ‘orang lain’ (the other) -dalam pengertian ranah seni- yang melampaui stereotip klise yang dipopulerkan selama ini.

Empat perupa Indonesia adalah Etza Meisyara, Galih P Adika, Gofan Muchtar, dan Prajna Deviandra Wirata. Sedangkan empat perupa Singapura terdiri dari Jay Ho, Nature Shankar, Vanessa Lim Shui Yi, dan Zul Othman. Ada pula seniman Forrest Wong dari Malaysia yang menghadirkan performance piece sebagai karya konklusif dari eksibisi ini.

Etza Meisyara, Soul of Self in Hidden Space Iceland', 2018, patina on copper plate with sound piece, 100x50x2,5 cm. Foto Barata
Etza Meisyara, Soul of Self in Hidden Space Iceland’, 2018, patina on copper plate with sound piece, 100x50x2,5 cm. Foto Barata

Prajna Deviandra Wirata terpesona dengan kisah Drupadi dalam Mahabharata, terutama fragmen saat kain yang menutupi tubuh Drupadi ditarik paksa oleh Dursasana. Namun seberapa panjang kain itu ditarik, kain itu seakan tidak ada habisnya. Upaya Dursasana untuk mempermalukan Drupadi gagal. Sebaliknya, saat pecah perang Mahabharata, Dursasana tewas di tangan Bima. Drupadi pun mengeramasi rambutnya dengan darah Dursasana.

Konten Terkait:  Ekspresi Alami untuk OHD di Tahunmas Art Room

Prajna membuat tiga lukisan tentang berbagai Drupadi dari sudut belakang sehingga wajahnya tidak tampak. Dua lukisannya memosisikan Drupadi tersungkur dengan kepala di bawah. Cahaya terang dan gelap merupakan lambang Dharma dan Adharma bercampur di dunia, sedangkan alas berwarna mengekspresikan kebebasan dalam memilih kondisi yang ada sebelumnya yang adil dan tidak adil.

Nature Shankar, Out of Bounds', 2018, emboidered fabric stuff with archival fabric works etc, 120x180 cm. Foto Barata
Nature Shankar, Out of Bounds’, 2018, emboidered fabric stuff with archival fabric works etc, 120×180 cm. Foto Barata

Nature Shankar biasanya berkarya dengan tekstil dan sulaman. Karya-karyanya menaruh perhatian pada dinamika ras, warisan, kebenaran, akar dari prasangka dan eksistensi internal. Karya-karyanya seperti kutipan intim dirinya sebagai narasi personal ke dalam proses: sebuah dokumen pengakuan yang dibumbui dengan kejujuran, keberanian dan kerentanan.

Pameran yang berlangsung di Gajah Gallery (Yogyakarta Art Lab) hingga 2 September ini sangat menarik, baik dalam hal kekayaan konsep maupun ragam media, bentuk dan eksekusi karya. Ada yang ringan memikat dan modern seperti karya Vanessa Lim Shui Yi, ada glamour yang disangatkan seperti karya Goftar Muchtar, ada karya logam yang dikorosikan,dan sebagainya. Yang jelas pameran seniman dua bangsa ini lebih mengukuhkan apresiasi yang menyatukan. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here