Empat bulan terakhir, sosial media kita dipenuhi dengan unggahan foto-foto lukisan dan instalasi ruang bermotif polkadot; yang terdapat pada pameran karya Yayoi Kusama di Museum Macan, Jakarta. Karya-karyanya yang unik menjadikan Yayoi Kusama segera mendapat perhatian dari berbagai kalangan masyarakat Indonesia khususnya Jakarta. Bahkan saat Tembi berkunjung ke Museum Macam awal bulan ini, banyak pengunjung dari luar kota, yang sengaja datang ke Jakarta untuk menyaksikan pameran yang bertajuk Yayoi Kusama: Life Is The Heart of a Rainbow.

Salah satu Ruang Pameran Yayoi Kusama. The Obliteration Room, 2002.
Salah satu Ruang Pameran Yayoi Kusama. The Obliteration Room, 2002.

Yayoi Kusama merupakan seniman kontemporer Jepang yang berkecimpung di bidang pematungan dan instalasi. Ia juga aktif di bidang seni lukis, seni pertunjukan, film, mode, syair, fiksi, dan lain-lain. Karya-karyanya beraliran seni konseptual dengan membawa unsur feminisme, minimalisme, surealisme, Art Brut, seni populer, dan ekspresionisme abstrak yang dipadukan dengan konten otobiografi, psikologis, dan seksual. Dari berbagai sumber mengatakan, Yayoi Kusama diakui sebagai salah satu seniman Jepang paling berpengaruh di dunia. Bisa dibilang Yayoi adalah salah satu seniman ternama dunia yang masih hidup. Usianya saat ini telah menginjak 89 tahun, ia lahir pada 22 Maret 1929.

Salah satu Ruang Instalasi Yayoi Kusama.
Salah satu Ruang Instalasi Yayoi Kusama.

Pameran tersebut adalah pameran Yayoi Kusama pertama dan terbesar di Indonesia dengan menampilkan lebih dari 130 karya yang dibuat dalam jangka waktu 70 tahun. Setiap tema dalam pameran ini sangat dipengaruhi oleh perjalanan kehidupan Yayoi. Kisah hidupnya yang dramatis dan keras, ia tuangkan dalam karya seni. Seni merupakan pelarian Yayoi dari tekanan yang dihadapi didalam rumah, situasi tragis pada Perang Dunia II yang terjadi di Jepang. Ia mencoba mengatasi gejala halusinasi yang terus menerus ia alami sejak kecil.

Ketika ia masih kecil, ia mulai melihat dunia melalui sebuah layar penuh berisi polkadot mungil, yang menyelubungi apapun yang ia lihat— dinding, langit-langit dan bahkan seluruh tubuhnya. Selama lebih dari 40 tahun, ia telah membuat lukisan, patung dan karya fotografi menggunakan polkadot untuk menutupi bermacam-macam permukaan dan mengisi ruangan. Dalam keterangan di bingkai pameran, Yayoi menyebut proses ini ‘kemusnahan’ yang berarti hancur dan hilangnya suatu benda tanpa bekas sama sekali. Yayoi pun mengajak pengunjung untuk turut berinteraksi seni dengan salah satu ruang yang didalamnya terdapat mebel seperti meja, kursi, lemari dapur berwarna putih. Pengunjung diminta turut menutupi seluruh mebel dan dinding dengan stiker polkadot berwarna-warni. Agar pengunjung turut merasakan situasi yang dirasakan oleh Yayoi.

Salah satu Ruang Instalasi Yayoi Kusama. The Spirits of The Pumpkins Decendes Into The Heavens, 2015
Salah satu Ruang Instalasi Yayoi Kusama. The Spirits of The Pumpkins Decendes Into The Heavens, 2015

Tidak hanya ruang putih yang diisi oleh polkadot berwarna-warni, pengunjung juga dapat menikmati berbagai instalasi, lukisan, patung bermotif polkadot. Pengunjung diperbolehkan mengabadikan foto dengan menggunakan kamera pada telepon seluler, namun tidak diperkenankan menggunakan kamera profesional. Akan tetapi ada salah satu ruang yang pengunjung tidak diizinkan mengabadikan dengan semua jenis kamera, bahkan anak kecil pun tidak diperbolehkan untuk masuk. Ruang tersebut adalah ruangan yang berisi karya Body & Performance.

Karya-karya tersebut ditampilkan dalam bentuk dokumentasi foto dan video, saat ia tinggal di Amerika Serikat pada tahun 1960an dan 1970an. Pada saat itu, Yayoi memiliki sentimen personal yang sangat besar terhadap isu-isu politik dan sosial di negara tersebut. Sentimen tersebut mendorongnya untuk menampilkan banyak pertunjukan eksperimental, yang disebut happenings, di beberapa tempat ikonik New York, termasuk Brooklyn Bridge, Central Park dan Wall Street. Bagian pameran ini menampilkan dokumentasi terpilih dari happenings tersebut– diantaranya dikenal sebagai Body Festivals, Naked Happenings dan Anatomic Explosions. Sehingga dokumentasi yang ditampilkan banyak tubuh manusia tanpa busana, yang ditutupi dengan lukisan polkadot di sekujur tubuh.

Salah satu Ruang Pameran Yayoi Kusama. The Obliteration Room, 2002.
Salah satu Ruang Pameran Yayoi Kusama. The Obliteration Room, 2002.

Tidak mudah bagi Yayoi mengalami kekerasan, tekanan, dan sakit halusinasi yang terus menerus dalam hidupnya. Namun ia berhasil berhasil membuat karyanya dinikmati dan diapresiasi berbagai orang di belahan dunia. Ekspresi Yayoi yang dituangkan dalam seni membuktikan bahwa keterpurukan bukan alasan untuk menutup diri.
Pameran Yayoi Kusama di Museum Macan telah berlangsung sejak 12 Mei hingga berakhir 9 September lalu pun, dari berbagai sumber pun mengatakan pameran tersebut tak pernah sepi pengunjung.(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here