Kolaborasi Seniman 6 Negara dalam “City of Darkness”

0
19

Pertunjukan yang melibatkan seniman dari 6 negara yakni Martinus Miroto (Indonesia), David Glass (Inggris), Max lee dan Cheung lok-Kan (Hongkong/China), Yuko Kawamoto (Jepang), Ling Tang (Malaysia) serta Jinyao Lin (Taiwan) ini membawakan naskah tragi-komedi dengan mengedepankan tubuh dan visual sebagai media komunikasinya pada Jumat, 7 September 2018 di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Teater Ash menghadirkan pertunjukan tentang kisah manusia secara komikal dan bernuansa sastra kontemporer. Alice, tokoh utama dalam pementasan City of Darkness, harus menjalani hidup dalam kemiskinan dan kesengsaraan, Alice bersahabat dengan pamannya yang ajaib sekaligus penuh masalah.

Alice dalam Ruang Yang Menyerupai Rumah
Alice dalam Ruang Yang Menyerupai Rumah

Dengan berlatar kota berdinding Kowloon, Hongkong, Teater Ash menyiasati visual Kowloon hanya dengan kotak kayu yang menyerupai bangunan kota kecil di Hongkong. Pengalaman baru juga diberikan Teater Ash yang bermarkas di Hongkong ini, dengan menghidupkan semua properti panggung atau dalam bahasa lainnya Extreemly moving property.

“Inspirasi kali ini dari kisah di Hongkong yang sampai sekarang masih tercatat sebagai tempat terpadat. Meski sudah tidak ada, tetapi masih menjadi suatu yang membekas bagi pengungsi atau orang China yang melarikan diri dari kampung halamannya,” ujar David Glass, sang sutradara.

Alice dan Para Pemain Dalam Pentas City of Darkness
Alice dan Para Pemain Dalam Pentas City of Darkness

Tidak hanya mengolaborasikan seniman dari 6 negara saja, pertunjukan ini juga menggabungkan beberapa unsur tradisi Asia seperti Opera Cina, Butoh Jepang, Tari Jawa Indonesia, dan Tari Teater boneka Asia dengan balutan disiplin teater Barat seperti Meyerhold dan LeCoq. “City of Darkness” juga didukung dengan keindahan visual video mapping, tata cahaya, tata busana, artistik, dan komposisi musik oleh seniman-seiman dari sejumlah negara tersebut.
“Dengan bentuk pertunjukan seperti ini, diharapkan tema yang disajikan mengenai perjuangan, kesengsaraan, dan harapan bisa menjadi lebih universal,” lanjut sutradara City of Darkness itu. (*)

Konten Terkait:  Benturan Emosi dan Pikiran dalam Nishkala di Tembi

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here