Sejak pentas perdana pada 21 April 2003 di GOR Djarum Kaliputu – Kudus, Jawa Tengah, Teater Djarum terus berproses untuk memberi warna tersendiri dalam dunia teater Indonesia. Kali ini, Teater Djarum menampilkan lakon NARA yang tidak hanya menghibur, namun juga memiliki banyak pesan moral yang dapat menginspirasi penikmat seni.

Ditulis dan disutradarai oleh Asa Jatmiko, dengan artistik sederhana namun penuh makna, pada Sabtu, 8 September 2018, selama kurang lebih 60 menit, lakon NARA mengisahkan tentang seorang perempuan sebatang kara bernama Nara, ia tinggal di pesisir pantai bersama bocah kecil ceria bernama Gendhuk dan Ibu dari Gendhuk, yang sudah menganggap Nara seperti anak sendiri.

Nara Sedih Saat Kehilangan Gendhuk
Nara Sedih Saat Kehilangan Gendhuk

Nara merupakan perempuan cantik, cerdas, pemberani dan kerap ikut melaut untuk membantu warga pesisir lainnya mencari ikan. Nara dibawa secara paksa ke Kotapraja oleh penguasa pesisir yang bernama Gola. Tidak terima dipisahkan dengan Nara, Gendhuk dan Ibunya ikut bersama Nara ke Kotapraja.

Di Kotapraja segalanya terpenuhi, Nara, Gendhuk, dan Ibu Gendhuk bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan tanpa harus berusaha keras. Namun kemudahan itu tidak serta merta membuat Nara bahagia, di Kotapraja Nara merasa kemerdekaannya direnggut, karena Nara dijauhkan dari warga-warga pesisir yang ia cinta, suasana pantai, dan ombak yang menjadi sumber keceriaannya.

Nara Sosok Perempuan Tangguh dan Berani
Nara Sosok Perempuan Tangguh dan Berani

Kemudahan- kemudahan tersebut hilang ketika Gola tiada, segala kebutuhan yang awalnya terpenuhi mulai menghilang. Nara kini harus membayar pajak kepada Wira, pemimpin baru di Kotapraja. Sebagai sosok yang selalu bersemangat dan berusaha, Nara tidak menyerah. Nara membuka usaha galeri bersama seorang pengusaha bernama Prana.

Kesuksesan bisnis Nara membuat Wira geram dan akhirnya membakar galeri milik Nara. Bukan hanya usahanya saja yang hilang, Nara juga harus kehilangan Gendhuk, ibu Gendhuk, dan Prana. Nara yang merasa putus asa, akhirnya bangkit dengan semangat yang membara dan memulai semuanya kembali dari awal.

Konten Terkait:  Harap Hati-hati, Masih Musim Penyakit
Pemain dan Pendukung Teater Djarum
Pemain dan Pendukung Teater Djarum

“Lakon NARA merupakan simbolisasi dari semangat hidup yang tidak pernah menyerah. Nara yang beradaptasi dengan cara berpikir, budaya dan gaya hidup yang berbeda dengan apa yang biasa ia rasakan. Melalui sosok Nara ini kami ingin mengajak penikmat seni untuk selalu bersemangat, gigih dan pantang menyerah dalam menghadapi berbagai rintangan dan masalah di dalam kehidupan, seperti api yang menyala, selalu menerangi dan memberi semangat bagi sekitarnya” ujar Asa Jatmiko, penulis naskah dan sutradara NARA usai pentas.

Teater Djarum merupakan kelompok seni pertunjukan yang menjadi wadah ekspresi dan berbagai gagasan estetika para karyawan PT. Djarum. Terdiri dari seluruh lapisan dan berbagai departemen/bagian. Teater Djarum terus berproses dan bermetamorfosa, berusaha menjadi kelompok teater yang semakin baik, indah, dan karyanya dapat memberi manfaat pembelajaran dan penyadaran bagi anggota dan organisasinya. Jumari HS, Yudhi Ms, dan Asa Jatmiko merupakan sosok-sosok pendiri Teater Djarum, dengan dukungan penuh Thomas Budhi Santoso dan Oey Riwayat Slamet. Termasuk di dalamnya ada Adi Pardianto ketika masih di Kudus, sempat turut mengawal dan mengolah Teater Djarum.

Pentas Teater Djarum
Pentas Teater Djarum

Saat ini anggota Teater Djarum tidak kurang dari 35 orang. Menjalankan proses berteater, dan juga melakukan agenda-agenda pembelajaran untuk dunia teater di lingkungannya. Selain memproduksi karya-karya seni pertunjukan, Teater Djarum juga mengembangkan kegiatan kunjungan ke teater-teater sekolah, mengadakan Festival Teater Pelajar secara rutin setiap tahunnya, melakukan kegiatan sosial. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here