Tanam Paksa Picu Kemiskinan di Banyumas

0
13

Tanam Paksa (Cultuur Stelsel) secara resmi dilaksanakan pada tahun 1830-1870 oleh penjajah Belanda. Melalui sistem tanam paksa pemerintah kolonial Belanda melakukan eksploitasi sosial ekonomi dan menanamkan kekuasaaan. Sistem tanam paksa ditandai dengan dibukanya banyak perkebunan dengan penanaman berbagai tanaman wajib untuk komoditas ekspor. Tanam paksa dilaksanakan secara besar-besaran menggunakan tanah pertanian serta tenaga kerja penduduk yang sering direkrut secara paksa, demi keuntungan yang maksimal. Dari hasil tanam paksa ini pemerintah kolonial Belanda melunasi berbagai utangnya, bahkan mampu memberi kas dalam jumlah besar ke negara induk.

Banyumas merupakan salah satu daerah yang dijadikan area tanam paksa. Tanaman yang banyak diusahakan adalah tebu dan kopi. Sedangkan teh, tembakau, lada dan kayu manis hanya dalam skala kecil. Masuknya sistem tanam paksa ini tentu saja membawa berbagai perubahan dalam masyarakat.

Pada periode 1880-an pihak swasta secara besar-besaran menanamkan modal pada perkebunan tebu dan pabrik gula. Pada saat itu terdapat kecenderungan bagi para pengusaha untuk menjalin kontak secara langsung dengan penduduk desa dalam rangka mendapatkan lahan dan tenaga kerja. Tenaga tanam paksa yang semula dilaksanakan secara “gugur gunung” (tetapi dalam prakteknya banyak pemaksaan), karena tidak mencukupi akhirnya muncul sistem upahan. Maka unsur-unsur Barat pun mulai lebih meresap ke dalam masyarakat, baik secara geografis maupun struktural. Perekonomian menjadi lebih terbuka, ikatan tradisional (baik ikatan desa maupun feodal ) semakin berkurang. Secara perlahan dalam masyarakat pedesaan mulai tumbuh dan berkembang semangat individual.

Petani dan penduduk desalah yang paling merasakan dampak negatif tanam paksa. Misalnya tebu. Tebu ditanam di lahan pertanian dengan sistem bergilir dengan tenaga kerja yang cukup banyak. Mereka bekerja sejak masa persiapan tanam sampai panen bahkan sampai di pabrik tebu. Seringkali mereka bekerja dengan jam kerja yang panjang tapi upah tidak memadai. Tebu juga memerlukan waktu lama dari tanam sampai panen. Tanaman pangan (padi) dipastikan hasilnya menurun akibat lahan yang berkurang dan tenaga kerja yang sudah tersita untuk tanam paksa. Di perkebunan kopi, tenaga kerja bahkan ada yang membuat tempat tinggal sementara di area perkebunan. Hal ini disebabkan oleh tempat tinggal mereka yang jauh dari perkebunan.

Konten Terkait:  Daladi ‘Rindu Setua Waktu’ di Tembi

Dampak eksploitasi sosial ekonomi melalui tanam paksa ini membuat masyarakat Banyumas menderita kemiskinan. Kelaparan dan wabah penyakit terjadi di mana-mana. Akhirnya timbul reaksi anti kolonial dalam bentuk perlawanan sebagai bentuk protes terhadap ketidakadilan.

Judul : Tanam Paksa di Banyumas. Kajian mengenai sistem, pelaksanaan, dan dampak sosial ekonomi.
Penulis : Dr. Tanto Sukardi, M.Hum.
Penerbit : Pustaka Pelajar, 2014, Yogyakarta
Bahasa : Indonesia
Jumlah halaman : xiii + 194

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here