Cat Air Suyasa Peduli Alam

0
13
Karya-karya Suyasa didisplay di pohon dan ruang terbuka. Foto Barata
Karya-karya Suyasa didisplay di pohon dan ruang terbuka. Foto Barata

I Nyoman Suyasa, pelukis kelahiran Bali yang berdomisili di Yogyakarta, memamerkan karya-karya cat airnya yang mengekspresikan kepedulian ekologisnya. Sebagai orang Bali yang mengakar pada filosofi Tri Hita Karana, pameran ini ia mengangkat filosofi palemahan, yang dijadikan tajuk pamerannya.

Tri Hita Karana merupakan filosofi kearifan lokal Bali, yang terdiri dari parahiyangan (hubungan harmonis manusia dengan Tuhan), pawongan (hubungan harmonis antarsesama manusia) dan palemahan (hubungan harmonis manusia dengan alam lingkungannya).

Bagi Suyasa, alam memberikan segalanya untuk kebutuhan manusia, sebaliknya alam membutuhkan uluran tangan manusia untuk keberlangsungan kehidupan alam dan isinya. Memelihara alam, menurutnya, sama halnya menghormati ciptaan Tuhan, dan secara otomatis memelihara hubungan dengan sesama manusia. Dengan persepsi ini, tidak heran jika karya-karya Suyasa banyak menampilkan pohon dan wajah manusia.

Batu-batu putih bergambar ekspresi wajah manusia di sela akar pohon bodhi. Foto Barata
Batu-batu putih bergambar ekspresi wajah manusia di sela akar pohon bodhi. Foto Barata

Guru besar Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta Dwi Marianto yang membuka pameran ini mengatakan, Suyasa menghadirkan tanda-tanda yang mengonotasikan energi, kesuburan, kemengaliran, sekaligus kemeranggasan, dan relasi antara manusia, lingkungan hidup, satwa dan fauna, dan simbol-simbol kebesaran alam. Dwi melihat Suyasa bermanuver bebas dalam memetik dan merakit ide dari ranah berbeda. Improvisasi ini, menurut Dwi, ditambahi Suyasa dengan responsnya atas bentuk atau nuansa warna yang terjadi akibat suatu kebetulan karena lelehan cat air, dan efek goresan dari sapuan kuas yang catnya hampir habis, yang memang dikondisikan.

Salah satu hal menarik dari pameran ini adalah penempatan karya di ruang terbuka, sebagian dipajang di antara pepohonan, sebagian digantung di batang dan dahan pohon. Penempatan seperti ini terasa menguatkan tema Palemahan. Pengunjung berjalan di alam terbuka, dan saat menikmati lukisan, pandangannya berakrab dengan pepohonan. Bahkan lewat metafora yang kuat, ia menggambar aneka ekspresi wajah manusia di batu-batu putih yang terserak di bawah pohon bodhi. Sebuah lukisan orang bermeditasi di antara pohon dan wajah Budha ikut dipajang di dekat pohon tersebut. Pohon bodhi dikenal dalam sejarah agama Budha, ketika Sidharta Gautama bermeditasi di bawah pohon bodhi, dan mendapat pencerahan.

Konten Terkait:  Penyair Negeri Bahari Bertemu di Tegal

I Nyoman Suyasa, 'Daun II', 19x28 cm, cat air pada kertas, 2018. Foto BarataKarya cat air Suyasa sendiri menarik karena mengintegrasikan manusia dan pohon, disertai persoalan di dalamnya. Lengkap dengan optimisme dan harapan di satu sisi, dan kekhawatiran di lain sisi. Ada kesedihan pada gambar hitam putihnya yang menampilkan tumpukan balok kayu di sisi pabrik bercerobong asap, senada dengan gambar lainnya, wajah-wajah muram di sekitar pohon meranggas dekat pabrik dan gedung bertingkat. Namun sebagian besar karyanya memancarkan keteduhan optimisme, dengan warna biru, kuning, hijau yang menonjol.

I Nyoman Suyasa, 'Dua Sisi', 48x72 cm, tinta dan cat air pada kanvas, 2018. Foto Barata
I Nyoman Suyasa, ‘Dua Sisi’, 48×72 cm, tinta dan cat air pada kanvas, 2018. Foto Barata

‘Mencari Matahari’, gambar yang lembut, menampilkan sejumlah bunga mekar dan kuncup bunga yang meliuk di bawah matahari. Di tanah yang biru sederet wajah manusia menyunggingkan senyum. Dalam ‘Lahir Kembali’, di dalam batang pohon sederet kepala manusia tumbuh secara vetikal bersamaan dengan tumbuhnya dedaunan.

Pameran yang masih berlangsung di Hotel Puri Pangeran Paku Alaman ini adalah pameran tunggal Suyasa yang ketiga. Sebelumnya alumnus program S1 dan S2 di ISI Yogyakarta ini pernah berpameran tunggal di V-Art Gallery Yogyakarta dan Tembi Rumah Budaya Yogyakarta, di samping hampir setiap tahun berpameran bersama. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here