Sebanyak 14 seniman Timur Tengah memamerkan karya-karya seni kontemporernya yang kental dengan soal isu sosial politik di Langgeng Art Foundation, Yogyakarta. Bertajuk ‘The Arrangements of The Soul in The Universe’ pameran ini banyak menampilkan karya video yang kritis dan menohok, berpijak pada identitas asal sekaligus mengkritisi situasi sosial politik di dalamnya. Pada akhirnya, karya dalam pameran ini adalah refleksi kemanusiaan yang penting dan mendasar.

Dikuratori oleh Mo Reda yang berasal dari Kuwait, pameran ini melibatkan Adel Abidin, Arwa Al Neami, Cristiana de Marchi, Hasan Hujairi, Larissa Sansour, Lawrence Abu Hamdan, Mohammad Salim, Sadik Kwaish Alfraji, Sama Alshaibi, Tareq de Montfort, Vivek Vilasini, Walid Siti, Walid Al Wawi, dan Youssef Nabil. Deskripsi pada setiap karya menjelaskan teknik dan makna karya-karya mereka sehingga pesannya sampai dan daya bicaranya lebih mengena.

Larissa Sansour, 'Space Exodus', video single channel, 5 min 34 sec, 2008. Foto Barata
Larissa Sansour, ‘Space Exodus’, video single channel, 5 min 34 sec, 2008. Foto Barata

Lawrence Abu Hamdan mengangkat persoalan yang kebetulan pernah ramai di sini, yakni volume pengeras suara di masjid. Dalam video bertajuk ‘The All-Hearing’, seniman Yordania ini melakukan kritik atas polusi suara yang diakibatkan oleh pengeras suara, khususnya pengeras suara tempat-tempat ibadah di Kota Kairo. Pada video ini ditampakkan bagaimana persaingan pengeras suara menjadi sebuah polusi suara yang bisa berdampak buruk pada pendengaran. Lawrence mengkritisi keadaan ini melalui dokumentasi lima pemuka agama yang sedang berdakwah mengenai makna tutur dan suara menurut Islam. Menurut mereka, tutur dan suara dalam Islam bersifat lembut dan merdu sehingga tutur bisa masuk ke dalam kalbu setiap umat.

Sama Alshaibi, 'To Eat Bread', photograpy, 2008. Foto Barata
Sama Alshaibi, ‘To Eat Bread’, photograpy, 2008. Foto Barata

Persoalan konflik antarbangsa dan negara yang mewarnai Timur Tengah sejak lama tentu tidak luput dari para seniman ini. Soal Palestina diangkat seniman Larissa Sansour melalui film fiksi sains yang satiris. Kebuntuan penyelesaian masalah Palestina mendorong seniman kelahiran Yerusalem Timur ini berkhayal tentang negara yang terletak gedung pencakar langit, The Nation State, yang merupakan bagian dari peradaban tinggi. Di dalamnya tinggal semua warga Palestina, dimana setiap kota memiliki lantainya sendiri.

Seniman Irak Adel Abidin membuat video sederhana pada hari ketiga pemboman Amerika di Baghdad pada tahun 1991. Dalam video berdurasi tiga menit, ia menampilkan seekor sapi di ujung jembatan yang terputus di atas Sungai Tigris di jantung Kota Baghdad. Metafora lain diangkat Cristiana de Marchi yang menggunakan konsep tentang bordir dan perbatasan. Dia memilih kata yang berangkat dari istilah sosial dan politik kemudian mengaplikasikannya lewat bordir buatan tangan. Setelah kata itu selesai dijahit dia membongkar kembali hasil jahitannya. Melalui karyanya, Cristiana mengajak audiens memeriksa ulang makna atas kata yang digunakan dalam gagasan sosial dan politik, memeriksa status atas kata tersebut untuk membayangkan perspektif baru dalam kehidupan sehari-hari.

Konten Terkait:  Merasakan Senyap Malam Lewat Foto
Tareq de Montfort , 'Syirian Rose' & 'Darling Buds'. photograpy, 2013. Foto Barata
Tareq de Montfort , ‘Syirian Rose’ & ‘Darling Buds’. photograpy, 2013. Foto Barata

Seniman Irak Mohammad Salim menampilkan text artwork berupa paspor miliknya dan keluarganya. Karya berjudul ‘Identity’ disertai keterangan pihak hukum atau otoritas cenderung melupakan aspek manusiawi, mengambil identitas mereka dan melucutinya menjadi tidak lebih dari sebuah angka. Berdasarkan Indeks Passport Henley, warga Irak tidak memiliki hak untuk bepergian ke 196 zona. Stempel pada paspor, tutur Salim, memisahkan keluarganya. Visa mereka ditolak untuk berkumpul dengan ayahnya yang mendapat kerja di luar Irak. “Kami tidak punya pilihan di mana kami akan berada, rumah kami adalah sebuah stempel di atas kertas,” ujar Salim.

Seniman Walid Siti mengangkat persoalan perang secara universal lewat video ‘Wheel of Fortune’, dimana sebuah lingkarang berkawat duri terus berputar, dan seiring dengan itu orang-orang yang berpijak di sana berjatuhan.

Persoalan gender diangkat oleh seniman Saudi Arabia Arwa Al Neami yang memamerkan foto-foto wahana bom bom car yang sebelum tahun 2018 menjadi satu-satunya tempat yang memperbolehkan perempuan merasakan sensasi mengendarai mobil. Baru pada tahun 2018 ini perempuan diizinkan mengemudi dan memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM). Arwa sekarang dalam antrian nomor 60.000 dalam proses pengajuan SIM di Saudi Arabia.

Karya lainnya, video ‘Red Lipstick’, menampilkan wajah perempuan yang diam bergeming. Hanya terpaan angin yang menutup dan membuka burkanya. Saat burka terbuka, gincu merah di bibirnya pun tampil mencolok. Dalam video ini Arwa bermain dengan gagasan atas wanita, citra dan makna tubuh. Namun seniman Vivek Vilasini lewat karya still fotonya justru mengritik larangan negara-negara Eropa yang melarang burka di ruang publik. Menurut Vivek, apa yang dikenakan perempuan, baik dengan menggunakan burka atau tidk, adalah bentuk kebebasan sebagai manusia.

Walid Siti, 'Wheel of Fortune', single channel video 10 min, 2017. Foto Barata
Walid Siti, ‘Wheel of Fortune’, single channel video 10 min, 2017. Foto Barata

Pameran yang berakhir pada 29 Agustus ini sejatinya mengingatkan soal kemanusiaan. Pada lantai di muka pintu masuk ruang pameran, terpampang kain yang dibordir Mo Reda, ‘The Universal Declaration of Human Rights’ yang menyatakan bahwa semua manusia lahir merdeka dan setara, yang diplesetkannya menjadi ‘The Universal Declaration of Human un-Rights’. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here