Hadir dengan konsep panggung yang menyatu dengan penonton, sekalipun ada batas tipis berupa tali rafia yang direkatkan di lantai panggung-semata untuk memberikan akses bagi aktor untuk keluar-masuk arena pentas. Gagasan diambil dari eksistensi kostum dan properti, tepatnya bekas kostum dan properti seni pertunjukan di masa lalu yang telah usang, rusak, bahkan cacat dan teronggok di gudang dan lemari. Hal demikian ditegaskan tidak saja melalui akting para tokoh yang hadir seperti berseliweran dengan kostum yang aneh, muskil, namun menyatu dengan watak dan wujud yang dimaui untuk dihadirkan di panggung.

Tampak bahwa aktor seperti terpaksa, dipaksa, atau memaksakan diri untuk ”merasuk” ke dalam kostum “sisa” dari masa lalu. Sekalipun demikian, kemampuan merasuk ke berbagai kostum yang menuntut atau mencerminkan gagasan, watak, dan eskspresi yang dituntut oleh “pengkostuman dan properti” tersebut dengan luar biasa mampu disuguhkan oleh semua aktor dengan cantik. Pada sisi ini tampak jelas bahwa kemampuan masing-masing individu dalam hal berakting menjadi tuntutan yang tidak bisa ditawar. Masing-masing aktor dapat tampil dengan sangat prima.

Kostum yang aneh dan muskil pun bisa hadir dan berbicara banyak-Foto-A.Sartono
Kostum yang aneh dan muskil pun bisa hadir dan berbicara banyak-Foto-A.Sartono

Dengan demikian bagian-bagian pengadeganan sekalipun kelihatan seperti lepas-lepas dan tampak seperti potongan-potongan peristiwa yang berdiri sendiri-sendiri, namun keseluruhannya adalah sebuah keutuhan gagasan yang mengental dan menegas di akhir pertunjukan. Kecepatan perpindahan adegan yang nyaris tak kentara dalam hal jeda menjadikan apa yang dipentaskan oleh Kalanari demikian hidup, organik. Tampilnya tokoh pria berkostum merah minimalis dan berpayung membantu penonton untuk menjalin dan menyimpul adegan-adegan yang tampak seperti bertaburan dengan segala daya kejutnya yang tak terduga.

Semua aktor mencoba merasuk pada tumpukan kostum peninggalan masa lalu untuk tampil kini-Foto-A.Sartono
Semua aktor mencoba merasuk pada tumpukan kostum peninggalan masa lalu untuk tampil kini-Foto-A.Sartono

Itulah yang disuguhkan oleh Kalanari Theatre Movement dalam rangka pementasan Parade Teater Yogyakarta yang dilaksanakan di hari pertama sesi pertama Selasa malam, 4 September 2018. Parade Teater Yogyakarta itu sendiri dilaksanakan hingga Rabu malam 5 September 2018 di Gedung Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta. Ada pun tema yang diambil dalam Parade Teater Yogyakarta ini adalah Linimasa: Perjumpaan Antara Lampau dan Masa Depan. Keseluruhan pementasan selama dua hari itu dilakukan oleh empat kelompok teater, yakni Kalanari Theatre Movement, Teater Jubah Macan (SMA N 3 Yogyakarta), Dewan Teater Yogyakarta, dan Mantradisi. Bertindak sebagai kurator atas parade teater ini adalah Koes Yuliadi, Elyandra Widharta, dan Sipriana Dinda.

Konten Terkait:  Ramadhan dalam Puisi di Tembi
Tokoh anak kecil yang mencari ibunya dan berakhir dengan nasib tragis-Foto-A.Sartono
Tokoh anak kecil yang mencari ibunya dan berakhir dengan nasib tragis-Foto-A.Sartono

Setiap zaman tentu melahirkan pembaharuan kreativitas bahkan produktivitas kelompok atau komunitas teater di Yogyakarta lahir dengan berbagai gaya dari lintas generasi keilmuan, intelektual, disiplin, bahkan klultural. Linimasa sebagai bingkai tema dan menjadi metafor juga merujuk pada spirit yang lahir dari pengalaman atas perjumpaan dan berbagai generasi teater yang lampau dan masa depan. Parade Teater Yogyakarta 2018 ini diharapkan menjadi medium alternatif perjumpaan lintas batas kultural dimana tua dan muda, dulu dan kini, boleh saling bertegur sapa, bertukar pengalaman, berbagi pengetahuan, bereksplorasi, bereksperimentasi tentang gagasan-gagasn teater Yogyakarta hari ini. Demikian sedikit nukilan tulisan oleh kurator atas Parade Teater Yogyakarta 2018.

Kalanari menyuguhkan judul karya (Un) Fitting: Sebuah Percobaan Menyandang Sejarah Teater yang Mendekam dalam Gudang dan Lemari. Tema yang diusung ini merupakan sebuah percobaan menenun teks-teks baru dari kostum dan properti pertunjukan –pertunjukan Kalanari sebelumnya. Semua kostum yang tersisa itu kemudian dicoba dilepaskan dari segala kisah, ide, karakter, dan sejarah pertunjukan yang pernah menghidupinya di panggung terdahulu.

Semuanya lalu dipertemukan dengan tubuh-tubuh pelaku baru, yang diharapkan melahirkan berbagai perlakuan dan pemaknaan baru terhadap artefak-artefak dari masa lalu Kalanari itu. Hanya ada dua kemungkinan yang akan muncul ketika semua kostum dan properti itu disandang oleh tubuh-tubuh baru: sesuai (fitting) atau tidak sesuai (unfitting). Dua kemungkinan inilah yang dimain-mainkan Kalanari untuk membangun pertunjukan.

Tokoh berbaju merah seperti perangkai benang merah peristiwa-Foto-A.Sartono
Tokoh berbaju merah seperti perangkai benang merah peristiwa-Foto-A.Sartono

Sekalipun demikian, tidak bisa dipungkiri bahwa sesuatu yang tidak mudah bahkan mustahil untuk sepenuhnya melepaskan teks-teks masa lalu dari artefak-artefak tersebut. Kemungkinan gagal membendung lintasan-lintasan masa lalu itu menjadi sebuah kemungkinan yang selalu bisa terjadi. Itulah yang ditampilkan Kalanari hasil dari arahan sutradara dan penggagas teks, Ibed Surgana Yuga. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here