Puisi Yanti S Sastro Prayitno

0
100

Senja Kesekian

Senja kesekian saat memasuki kotamu
deretan mobil motor membuat pepat jalanan
berkejaran dengan kenangan
masa lalu dan sekarang saling berlompatan

Ada haru yang membiru
mengenang kepulanganmu juga satu dua sahabatmu
telah tunai semua tugasmu
mengingatkanku betapa berharganya waktu

Waktu sudah begitu jauh berlalu
meninggalkan ribuan jejak bisu
tak akan pernah lagi kita mencandakannya
mimpi masa muda yang pernah bersama kita eja

Senja kesekian di kotamu
selalu memenjarakanku dalam rindu

Yogya, 17 Agustus 2018

Memandang Senja

Ketika senja hampir tiba
hamparan jingga membayang di mata
kepak camar berkejaran dengan kenangan
dan kerinduan tergambar nyata dalam setiap ingatan

Aku masih berdiri di sini
mendekap selaksa mimpi
berharap bahagia bukan sekedar ilusi
di rembang senja tatkala warna jingga meraja

Senja berarak pulang
malam semakin temaram
berharap gemintang kembali bertandang
menyelipkan mimpi di kerlipnya
hingga pagi kelak menyapa

Semarang, 7 Agustus 2018

Suatu Hari

Suatu hari kau mungkin tak lagi merindukanku
apakah nanti aku akan menangis tersedu
memungut keping-keping hati
merajutnya kembali agar hidup terus berjalan lagi

Suatu hari kau mungkin tak lagi menyapaku
apakah nanti hatiku akan seperih sayatan sembilu
mengemas semua relung-relung rindu
agar kaki tetap melangkah meski kuyu

Suatu hari kau mungkin melupakanku
apakah nanti saat kusebutkan namamupun tak akan terusik hatimu
taksudikah kau menengok kenangan yang pernah kita gores bersama
meski bagimu tak lagi bermakna

Mengapa resah harus melanda
jika senyatanya perjalanan telah penuh luka
tak akan ada cinta yang menyapa
jika ketakutan dibiarkan meraja

Begitu angin malam membisikkan desaunya

Semarang, 29 Juni 2018

Bulan Sabit

Kekasih
di tempatku duduk kini bulan sabit seolah menyepi sendiri
kutitipkan sekuntum rindu di redup sinarnya
melagukan melody sepenuh jiwa
merenda serpihan asa
berharap senja masih berwarna jingga

Kutitipkan sekelumit puisi dalam sendunya
menggamit rindu yang semakin mengharu biru
entah sampai kapan temukan waktu

Sragen, 18 Juni 2018

Pada Sebuah Rindu

Pada sebuah rindu yang melintas di kalbu
kubisikkan kata sabarlah menunggu
berkacalah pada waktu
karena ia tak pernah mengkhianati bayangnya

Kepada cinta yang tengah megah bertahta
kubisikkan rasa jangan membelenggu dada
lembutlah merengkuh jiwa
menaungi sepasang hati hingga ujung usia

Kepada pemilik hati
kulantunkan nada di keheningan hari
bermohon waktu masih memberi arti
di kedalaman rasa
yang tak pernah sanggup kita selami

Semarang, 9 Juni 2018

YANTI S SASTRO PRAYITNO, Ibu dari empat anak ini lahir di Sragen, 5 Februari 1969 dengan nama asli Sriyanti. Sehari-hari ia bekerja sebagai dosen di Departemen Kimia Fakultas Sains dan Matematika, Universitas Diponegoro, Semarang. Kegemarannya membaca mendorongnya untuk mencoba menulis, di antaranya artikel tentang wanita, kesehatan dan fiksi di majalah berbahasa Jawa. Aktif juga berkiprah di Bengkel Sastra Taman Maluku (BeSTM) Semarang. Buku antologi puisi tunggal yang pernah ditulisnya: Ketika Cinta Menunjukkan Wajahnya (2017), sedangkan antologi puisi dan gurit bersama yang pernah diikuti di antaranya: Antologi gurit Wanodya (2017), Antologi gurit Wanodya (2018), Negeri Laut (Dari Negeri Poci 6/2015), Negeri Awan (Dari Negeri Poci 7/2017), Negeri Bahari (Dari Negeri Poci 8/2018), Perempuan di Ujung Senja (2017), Kepada Hujan di Bulan Purnama (2018), Menjemput Rindu di Taman Maluku (2018).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here