Dapur dan Kelengkapan Memasak Tradisional Jawa

0
13

Dalam tradisi Jawa antara rumah, tanah dan penghuninya merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Perasaaan bersatu menyebabkan rasa tenteram dan aman bagi penghuninya. Dalam penataan ruang, orang Jawa mempunyai cara-cara dan aturan tertentu. Salah satunya adalah penataan ruang dapur.

Dalam bahasa Jawa dapur disebut pawon, yang mempunyai dua arti. Pertama, bangunan yang khusus disediakan untuk tempat memasak. Yang kedua, berarti tungku. Kata pawon berasal dari kata awu (abu = bahasa Indonesia, merupakan kata benda) yang mendapat awalan pa dan akhiran an, menjadi pawon yang menunjukkan arti tempat. Dengan demikian pawon (pa+awu+ an) berarti tempat awu (abu). Hal ini berasal dari kegiatan memasak yang memakai bahan bakar kayu, ranting, daun kering atau yang lain sehingga menghasilkan abu. Keadaannya kotor karena abu, sawang yang bergelantungan, jelaga yang menempel di mana-mana, juga perabotan yang hitam berjelaga.

Karena penampilan yang serba ‘hitam dan berjelaga’, dapur biasanya diletakkan di belakang, dekat sumur serta merupakan bangunan tersendiri yang dibuat lebih sederhana. Ciri pengenal khusus dapur tradisional Jawa ditekankan pada kendhil (alat menanak nasi) dan kebul (asap). Sehingga ada ungkapan ben kendhile jejeg (supaya kendhilnya tetap berdiri), ben pawone tetep kumebul (supaya dapurnya tetap berasap). Artinya tetap dapat rutin memasak atau lebih luas dapat memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Ciri lain dapur tradisional adalah pemakaian tungku tradisional (luweng, keren, dhingkel, anglo). Alat-alat untuk memasak dapat terbuat dari tanah liat (kuali, cowek, kendhil, pengaron, gentong), bambu/kayu (kukusan, tambir, tenggok, enthong, wakul), logam (panci, piring, gelas, sendok, dandang, soblok), kaca (gelas, piring, mangkok) atau plastik (ember, gayung, mangkok).

Konten Terkait:  Mobil Kuno di Indonesia

Tujuan utama kegiatan di dapur adalah untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum sehari-hari. Tetapi ada juga dapur yang dibuat untuk memenuhi kebutuhan khusus bahkan untuk keperluan yang sifatnya luar biasa dan insidental. Dapur khusus tersebut misalnya dapur untuk kegiatan yang bersifat ekonomi/produksi atau menghasilkan uang, misalnya pembuatan gula jawa atau tempe. Untuk keperluan ini dapur dapat dibuat terpisah atau tetap menjadi satu dengan dapur untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Untuk kepentingan ekonomi ini biasanya ada peralatan tersendiri. Untuk dapur yang sifatnya luar biasa atau insidental, misal saat mempunyai hajatan (ewuh = bahasa Jawa), seringkali dibuat tambahan dapur yang sifatnya hanya sementara. Hal ini disebabkan pada saat hajatan kegiatan masak memasak cukup banyak.

Judul : Dapur dan Alat-alat Memasak Tradisional Daerah Istimewa Yogykarta
Penulis : Dra. Sumintarsih, dkk
Penerbit : Depdikbud, 1990-1991, Yogyakarta
Bahasa : Indonesia
Jumlah halaman : xxi +205

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here