Istilah bebrayan dalam khasanah kebudayaan Jawa dapat dimaknai sebagai berkeluarga. Selain itu, istilah ini dapat juga dimaknai sebagai bergaul atau berinteraksi dengan masyarakat. Tema Bebrayan itulah yang diangkat dalam perhelatan pameran seni rupa di Taman Budaya Yogyakarta pada 25-31 Agustus 2018.

Dengan tema ini diharapkan harmonisasi, kerukunan antarperupa dengan berbagai latar belakang dan usia semakin terjalin dengan baik. Bebrayan secara eksplisit maupun implisit juga mengandung makna menghindari konflik atau perselisihan. Pada sisi ini sesungguhnya apa yang disebut bebrayan juga menyarankan akan pentingnya mawas diri, tepa selira, peduli, dan berbagi. Sebab apa yang disebut dan dihidupi dalam bebaryan tidak mungkin terjadi tanpa itu semua.

Kerabat, mix media, 120 x 130 x 103 cm, 2018, karya Lumpang (kelompok)-Foto-A.Sartono
Kerabat, mix media, 120 x 130 x 103 cm, 2018, karya Lumpang (kelompok)-Foto-A.Sartono

Tema Bebrayan diambil untuk menggambarkan pertemuan-pertemuan dalam praktik seni rupa yang memberi makna pada praktik dan hubungan sosial yang lain. Dalam pengertian Bebrayan, praktik hubungan sosial yang terus-menerus dan bertumbuh melahirkan komunitas yang saling memahami, saling memaklumi, dengan terus-menerus beradaptasi dalam merespon konflik-konflik, sebagaimana dalam sebuah keluarga. Komunitas seniman tidak ada keberadaannya secara administratif, namun jejaring-jejaring yang dibentuk melahirkan percakapan-percakapan khas, hubungan-hubungan yang otentik, dan aksi-aksi kreatif yang terus-menerus berdialog dengan kelompok masyarakat lain.

Anak Manusia dan Ibu Pertiwi, AOC, 120 x 80 cm, 2018, karya Veronica Liana-Foto-A.Sartono
Anak Manusia dan Ibu Pertiwi, AOC, 120 x 80 cm, 2018, karya Veronica Liana-Foto-A.Sartono

Hal itulah yang dilakukan para perupa di Taman Budaya Yogyakarta tersebut yang juga menjadi program pameran seni rupa Nandur Srawung #5. Tema keseluruhan dari kegiatan ini adalah Bebrayan: D.I.W.O (Do It With Others). Untuk melengkapi dan memenuhi makna gelaran tema tersebut, maka kegiatan pameran itu juga dilengkapi dengan kegiatan yang disebut sebagai Srawung Sarujuk, Srawung Temu, Srawung Moro, Pasar Nandur, Pasar Srawung, Panggung Srawung, Lokakarya Srawung, Nandur Aksi: Temu & Moro, Srawung Wacana: Sarujuk, dan Srawung Selo.

Srawung Sarujuk adalah pameran bersama perupa-kelompok undangan dan terpilih. Srawung Temu adalah program residensi perupa individu/kelompok dari Yogyakarta untuk bertemu dan berkarya bersama dengan komunitas warga atau kelompok seniman di 4 kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta. Peserta dalam program ini mengajukan diri dalam proses seleksi. Srawung Moro adalah program residensi perupa-kelompok undangan dan terpilih yang berasal dari luar Yogyakarta untuk saling bertemu dan berkarya bersama di sembilan ruang kolektid di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pasar Nandur dan Pasar Srawung menjadi ruang interaksi dan jejaring antara kreator produk seni, pangan organik, dengan publik pengunjung pameran. Panggung Srawung adalah pertunjukan dan peristiwa seni oleh perupa undangan.

Lokakarya Srawung merupakan aktivitas berbagi pengetahuan oleh creator guna mendorong interaksi kreatif dengan pengunjung pameran. Nandur Aksi: Temu dan Moro adalah presentasi gagasan dan karya dari program Srawung Temu dan Srawung Moro. Srawung Wacana: Sarujuk adalah presentasi gagasan dan karya dari beberapa perupa program Srawung Sarujuk. Srawung Selo adalah aktivitas berbagi pengetahuan oleh kreator guna mendorong interaksi kreatif dengan pengunjung pameran.

Gotongan, mix media, 90 x 90 x 90 cm, 2018, karya Tumbuh Alami Studio (Kelompok)-Foto-A.Sartono
Gotongan, mix media, 90 x 90 x 90 cm, 2018, karya Tumbuh Alami Studio (Kelompok)-Foto-A.Sartono

Nandur Srawung sendiri adalah program seni rupa Taman Budaya Yogyakarta yang melibatkan seniman dan komunitas masyarakat lainnya dalam sebuah pameran bersama .Memasuki tahun kelima ini Nandur Srawung mengembangkan arah kegiatan untuk memperkuat gagasan mengenai srawung (bahasa Jawa, kumpul/pertemuan) melalui tema dan bentuk kegiatannya. Lima kurator dalam Nandur Srawung kelima ini merumuskan rangkaian program yang coba dirintis selain pameran seni rupa di ruang pamer.

The Little Messenger, AOC, 90 x 70 cm, 2016, karya AM Dante-Foto-A.Sartono
The Little Messenger, AOC, 90 x 70 cm, 2016, karya AM Dante-Foto-A.Sartono

Pameran yang diikuti oleh 161 perupa yang melibatkan lima kurator ini dibuka secara resmi olah Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Budi Wibowo SH MM. Pembukaan pameran Sabtu malam, 25 Agustus 2018 dimeriahkan dengan pertunjukan musik dan dilengkapi dengan penerimaan Life Achievement Award. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here