Penuh energi, kreatif, inovatif, produktif, dan tidak bisa berhenti. Barangkali itu kesan umum yang dapat ditangkap pada sosok seniman Samuel Indratma. Gagasan dan karyanya bisa dikatakan hampir selalu “nganeh-anehi”. Tidak umum sekaligus lugas dan terbuka. Demikian pun dengan pameran tunggalnya di Jogja Gallery yang ia beri tajuk Maju Jaya.

Pameran ini secara resmi dibuka Minggu malam, 19 Agustus 2018, dan berlangsung hingga tanggal 29 Agustus 2018. Dalam pameran ini Samuel memajang sekitar 50 karya drawing. Hal yang nganeh-anehi dari karya Samuel di antaranya adalah bahwa karya-karyanya dengan sengaja tidak diberi judul. Tidak ada caption. Tampaknya ia memang sengaja memancing apresian atau penonton untuk bertanya di dalam hati: apa makna dari karya yang dipamerkan ini? Samuel beralasan bahwa judul pamerannya adalah Maju Jaya yang mewakili seluruh judul karya dalam event ini.

Karya yang lain dari Samuel Indratma-Foto-A.Sartono
Karya yang lain dari Samuel Indratma-Foto-A.Sartono

Dalam berkaya ia membayangkan seperti membuat atau menyusun sebuah cerita. Satu karya mungkin sama dengan satu halaman cerita dalam sebuah buku cerita. Jika dilihat dari sisi ini, maka halaman-halaman memang tidak menyajikan cerita yang utuh, namun keberadaannya menjadi unsur atau eksponen yang tidak bisa ditinggalkan untuk bangunan sebuah cerita yang utuh. Unsur atau eksponen itu jika dicermati mungkin juga sudah “bercerita” namun cerita itu mungkin tidak atau belum tamat. Belum utuh dan final. Halaman cerita melengkapi halaman cerita yang lain. Bagian-bagiannya harus dicermati untuk dapat merekonstruksi keutuhan bangunan ceritanya.

Karya-karya Samuel Indratma-Foto-A.Sartono
Karya-karya Samuel Indratma-Foto-A.Sartono

Pemajangan karya-karya rupa Samuel juga tidak terlalu umum, ada yang ditempel, digantung, digeletakkan, dibingkai, tanpa bingkai, dan ada pula yang terkesan disangkutkan pada seutas tali atau bambu. Terkesan ramai, hiruk pikuk. Samuel sendiri menyatakan bahwa pamerannya memang layaknya seperti pasar malam.

Konten Terkait:  Pameran Trilateral “Mangsimili” ala Perupa Bambang Herras

“Fiesta, pasar malem, ndesit (ndesa), tetapi unpredicatable.” Lay out dan pemajangan karyanya memang dibuat sedemikian rupa sehingga memang terkesan ramai. Selain itu, di lokasi pameran itu pula Samuel juga terus berproses berkarya. Jadi di area pameran terdapat satu ruangan yang menyatu dengan ruang pajang karya dan berfungsi sebagai studio dadakan bagi Samuel. Di tempat itu ia terus melengkapi cerita yang disusunnya dalam rupa. Tidak berhenti. Namun bukan bersifat mekanik dan monotonisasi yang stagnan kreasi serta kedalaman. Ia terus menjelajahi dunia batinnya yang kaya seperti rimba raya dengan segala kemungkinan yang tak terduga.

Tiga karya Samuel Indratma-Foto-A.Sartono
Tiga karya Samuel Indratma-Foto-A.Sartono

Samuel Indratma boleh dikatakan sebagai seniman ajaib. Dalam proses kreatif dan keputusan artistiknya kadang tidak ajeg. Ia acap kali menggunakan teknik pengetahuan bahan yang tidak menjurus pada pencapaian kementerengan atau kemewahan (luxury) pada kekaryaannya sebagai kecenderungan kekaryaan seni rupa pada umumnya. Samuel tidak menyasar pada presisi, kesempurnaan maupun hasil yang classy.

Malah pada pamerannya kali dapat dikategorikan sebagai hasil yang biasa-biasa saja, ordinary. Sederhana. Sederhana pada sisi ini tidak diartikan sebagai simplicity ataupun minimalisme, namun daya ungkap kreativitas yang tulus orisinil, lurus niat, tinggi semangat seperti motto yang dicantumkan Samuel dalam poster pamerannya. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here