Pameran seni rupa di Yogyakarta yang penuh sesak dengan seniman seperti sebuah perlombaan tanpa akhir. Kali ini kelompok seniman yang menamakan dirinya Tenggara Art Group memamerkan karya-karya mereka di Jogja Gallery tanggal 2-12 Agustus 2018.

Kelompok ini beranggotakan Agus Baqul, Ayu Arista Murti, Dadi Setiyadi, Hery Pur, Luddy Asthagis, Sumbul Pranov, Suryadi Suyamtina, Utin Rini dan Yaksa. Pameran ini merupakan penanda bagi keberadaan mereka maupun proses yang telah dilalui. Seberapa banyak hal yang didapatkan dan seberapa jauh mengelola dengan mendalam perihal gagasan/ide, teknik, penguasaan materi, dan mengolahnya. Capaian-capaian pada sisi-sisi itu akan menunjukkan tingkat kematangan dan kedewasaan.

Peluitphobia, 62 x 53 cm (3 panel), AOC, 2018, karya Yaksa Agus-Foto-A.Sartono
Peluitphobia, 62 x 53 cm (3 panel), AOC, 2018, karya Yaksa Agus-Foto-A.Sartono

Secara pribadi akan muncul pula pertanyaan tentang keberadaan diri, tujuan maupun proses berkarya dalam mewujudkan gagasannya. Dengan demikian, karya seni yang ditampilkan, tidak hanya sebuah benda dengan nilai keindahan tertentu. Karya bisa dipandang sebagai celah untuk mengintip seorang seniman dalam memahami hidup. Pada sisi itu kejujuran menjadi kunci antara keselarasan rasa perjalanan, kedewasaan dan karyanya itu sendiri. Lingkungan pun akan memiliki pengaruh terhadap cara pandang seniman terhada seni sebagai karya maupun seni sebagai kehidupan.

Seren Taun Party for Dewi Sri, 110 x 150 cm, AOC, 2015, karya Dadi Setiyadi-Foto-A.Sartono
Seren Taun Party for Dewi Sri, 110 x 150 cm, AOC, 2015, karya Dadi Setiyadi-Foto-A.Sartono

Pameran ini dimulai dengan kesadaran terhadap perjalanan yang telah dilalui dan memberikan banyak pengalaman. Tema “Seyogyanya” dipilih dengan suatu alasan bahwa istilah tersebut diartikan sebagai sebuah ikatan antara masing-masing individu dengan Yogyakarta, yakni tempat mereka belajar dan berproses dalam berkesenian. Yogyakarta menjadi ibu yang melahirkan mereka dalam dunia seni. Layak bila istilah Seyogyanya kemudian dipilih untuk membingkai pameran mereka.

Istilah itu dapat juga dimaknai sebagai sebaiknya. Sebaiknya sebagai seniman itu begini atau begitu. Sebaiknya Yogyakarta tetaplah dikenang sebagai tempat mereka mengenal, mendalami, dan mempresentasikan karya seni mereka. Seyogyanya atau seharusnya juga dimaknai sebagai introspeksi oleh Kelompok Tenggara.

Konten Terkait:  Keseharian dalam Keluarbiasaan Karya Perupa Vietnam Ho Hung
Percakapan Halus, 150 x 130 cm, mixed media on canvas, 2018, Ayu Arista Murti-Foto-A.Sartono
Percakapan Halus, 150 x 130 cm, mixed media on canvas, 2018, Ayu Arista Murti-Foto-A.Sartono

Tema Seyogyanya dapat juga dimaknai sebagai kesadaran untuk kembali kepada ibu atau kemurnian tujuan berkarya. Banyaknya persaingan dan beratnya tanggung jawab baik di dalam berkesenian atau di luar itu kadang-kadang mengganggu proses berkarya. Seyogyanya menjadi semacam saran atau ajakan agar karya kembali murni sebagai media untuk menyampaikan gagasan atau pemikiran dan bukan hanya sebagai media untuk menarik perhatian.

Natural Password, 200 x 150 cm, AOC, 2018, karya Agus Baqul Purnomo-Foto-A.Sartono
Natural Password, 200 x 150 cm, AOC, 2018, karya Agus Baqul Purnomo-Foto-A.Sartono

Kesadaran terhadap tema Seyogyanya itulah yang dijadikan semangat untuk membuat karya yang dipamerkan. Masing-masing seniman mencari hubungan yang sangat pribadi antara diri dan karyanya. Setiap karya menjadi media atau bahasa kejujuran untuk mengungkapkan ide atau gagasan. Setiap karya mempunyai cerita yang saling berkaitan antara pengalaman hidup, proses berkesenian, dan kemampuan memaksimalkan sumber daya yang ada. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here