Didik Nini Thowok menceritakan sejarah karier seni tarinya di Salihara International Performing Arts Festival di Jakarta, yang bertajuk “Tradisi Lintas Gender dalam Seni Pertunjukan di Indonesia” pada 7 Agustus 2018. Didik Nini Thowok dikenal sebagai seniman yang memopulerkan seni tari lintas gender (cross gender) di Indonesia.

Sejak kecilnya ia sudah gemar menari, terutama tarian daerah. Dalam perkembangan selanjutnya, Didik Nini Thowok tidak sekadar menguasai tarian, tapi juga mengikuti setiap ritual sebagai wujud penghormatan kepada leluhur sekaligus mendalami setiap gerakan yang ada pada tarian dari masing-masing daerah yang disambangi.

Diskusi Tentang Dunia Tari Yang Digelutinya
Diskusi Tentang Dunia Tari Yang Digelutinya

“Untuk ritual itu sendiri, saya biasanya puasa, simpelnya, kalau puasa itu kan membersihkan diri dan kalau kita ikhlas, suci dan bersih juga kan doa kita akan cepat sampai ke Tuhan. Dan hal itulah yang saya lakukan saat saya sedang mendalami tarian daerah di Indonesia,” ujar Didik Nini Thowok.

Di setiap daerah yang dia sambangi, laki-laki kelahiran 13 November 1954 ini belajar tentang banyak hal. Bukan hanya tari, melainkan juga tentang kearifan. Hampir semua guru di tempat ia belajar sosoknya rendah hati. Selain Indonesia, Didik juga belajar dari para penari dari negara lain, seperti Sangeeta, Richard Emmert, Sadamu Omura, Jetty Roels, Gojo Masanosuke, serta beberapa nama maestro lain dari sejumlah negara.

Performing Art Dari Didik Nini Thowok
Performing Art Dari Didik Nini Thowok

“Kalau ingin belajar tari, yaa harus datang ke tempat tarian itu dilahirkan, agar lebih bisa mendalami tarian tersebut,” kata Didik Nini Thowok, yang telah menyambangi sekitar 30 negara di dunia untuk menari dan belajar tari.

Dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Salihara itu, Didik banyak menceritakan tentang seni pertunjukan lintas gender yang ada di Indonesia maupun di mancanegara. “contohnya seperti wayang wong di Yogyakarta, semua penarinya laki-laki, dan alasannya kalau menari tarian wayang wong itu bisa sampai 3 jam dan stamina laki-laki sangat diperlukan dalam tarian ini. Selain itu dalam Islam laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim dilarang bersentuhan, jadi ya peran perempuan diambil alih oleh laki-laki,” kata Didik. (*)

Konten Terkait:  Akhirnya, Nonaria Telurkan Album Perdana

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here