Tinggal di ibu kota Jakarta dengan rutinitas kehidupan yang padat, membuat warganya harus tetap menjaga stamina fisik mereka agar tetap bugar. Dari berbagai sumber, aroma dan rasa khas yang dikeluarkan dari kopi, dipercaya memberikan energi dan mengembalikan stamina serta memiliki kandungan untuk menenangkan. Sehingga kedai kopi menjadi alternatif tempat yang ramai dipadati pengunjung, hanya untuk sekadar beristirahat dan menikmati kopi.

Khasiat kopi yang memiliki rasa dan aroma yang nikmat membuat kopi menjadi minuman yang selalu dicari penikmatnya setiap hari. Seiring waktu, kopi pun menjadi gaya hidup masyarakat perkotaan. Sehingga, banyak pengusaha berlomba membuka kafe atau kedai kopi di berbagai wilayah perkotaan, khususnya Jakarta. Sehingga, permintaan kopi untuk pasar domestik pun cukup pesat.

Festival Kopi Nusantara di Bentara Budaya Jakarta
Festival Kopi Nusantara di Bentara Budaya Jakarta

Persaingan bisnis kopi yang sedang marak ini memiliki pangsa pasarnya sendiri, dari harga yang murah, sampai yang mahal. Mereka pun tidak hanya bersaing dari harga tetapi aroma dan rasa dari kopi yang dihasilkan. Baik kedai dari lokal seperti Excelso maupun kedai-kedai kopi dari Amerika Serikat seperti Starbuck, Caribou Coffee pun selalu padat oleh penikmatnya; biasanya pasar mereka bersal dari kalangan menengah ke atas; karena harganya yang tergolong cukup tinggi , Rp 50.000 untuk secangkir / segelas kopi.

Melihat kopi saat ini sebagai gaya hidup, saat ini produsen kopi lokal pun turut bersaing memberikan cita rasa khas Nusantara. Kopi-kopi yang saat ini sedang digandrungi para penikmat kopi di Jakarta seperti oleh Kopi Tuku & Kopi Kulo memberikan harga yang tergolong tidak mahal, mulai dari harga Rp 20.000, namun rasanya tidak kalah dengan kedai-kedai mahal.

Padatnya pengunjung di Festival Kopi Nusantara 2018
Padatnya pengunjung di Festival Kopi Nusantara 2018

Tentu saja, seharusnya hal ini menguntungkan bagi petani kopi. Namun, menurut catatan liputan junalistik Kompas dalam “Jelajah Kopi Nusantara” yang dimuat oleh Harian Kompas sejak pada Maret hingga Mei 2018; mereka memetakan sejumlah persoalan mendasar yang dihadapi komoditas kopi mulai dari hulu hingga hilir. Persoalan itu antara lain produktivitas kopi yang rendah, yakni rata-rata 0,5 ton per hektar per tahun, petani nyaris tidak pernah mendapatkan pendampingan yang baik, bibit tanaman berkualitas rendah, panen yang belum matang, penanganan pasca panen yang belum optimal, bahkan teknologi pengolahan pun masih didominasi produk impor. Sementara fakta yang berkembang saat ini, minat masyarakat untuk minum kopi terus meningkat.

Konten Terkait:  Prosesi Kirab Siwur Jelang Upacara Nguras Enceh Pajimatan Imogiri
Petani Kopi dari Jawa Timur, turut serta meramaikan Festival Kopi Nusantara
Petani Kopi dari Jawa Timur, turut serta meramaikan Festival Kopi Nusantara

Pada tanggal 19-22 Juli 2018, Kompas pun menggelar Festival Kopi Nusantara di Bentara Budaya Jakarta sebagai lanjutan dari Jelajah Kopi Nusantara. Salah satu tujuannya untuk mempertemukan petani kopi dengan produsen kopi. “Kita mencoba memfasilitasi petani dan masyarakat yang produsen kopi untuk dipertemukan dengan petani lokal,” kata Jannes Eudes Wawa, panitia Festival Kopi Nusantara. Festival tersebut memiliki ragam acara antara lain kelas roasting, kompetisi manual brewing, cuping kopi, diskusi kopi. Tak hanya melihat dan merasakan ragam kopi, para pengunjung juga bisa menambah wawasan cara menanam bibit-bibit kopi hingga kopi siap disajikan.

Petani Kopi dari Malang, turut serta meramaikan Festival Kopi Nusantara
Petani Kopi dari Malang, turut serta meramaikan Festival Kopi Nusantara

Semoga dari hasil pertemuan tersebut, semua pihak mendapatkan wawasan dan bertukar pikiran sehingga petani kopi kita bisa terus mempertahankan dan menghasilkan bibit-bibit kopi yang berkualitas dan produsen kopi pun bisa mengolah dan menyajikan kopi lokal kita dengan nikmat. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here