Meskipun nama belakangnya Simatupang dan merupakan tanda marga dari Batak, Landung lahir, besar dan tinggal di Yogyakarta, sampai hari ini. Nama Simatupang berasal dari marga ayahnya. Rupanya, meski orang Jawa yang memiliki marga Batak, Landung bisa berbahasa Batak, laiknya orang yang lahir di sana, setidaknya bahasa Batak yang diucapkan Landung, kita dengar saat dia membaca novel “Menolak Ayah” karya Ashadi Siregar, Sabtu, 4 Agustus 2018 di Tembi Rumah Budaya.

Dalam diskusi novel karya Ashadi Siregar, yang berjudul Menolak Ayah, diselenggarakan kerjasama antara Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), Tembi Ruamh Budaya dan LP3J sekaligus peluncurkan novel tersebut. Mengawali diskusi, setidaknya untuk memberi imajinasi pada para hadirin, Landung membacakan episode terakhir dari novel setebal 400-an halaman itu.

“Saya percaya, hadirin yang hadir dalam diskusi ini, pasti sudah ada yang membaca novel karya Bang Hadi, saya akan membacakan bagian akhir dari novel ini untuk memberi gambaran bagi para hadirin, mungkin ada yang belum sempat membaca,” ujar Landung mengawali pembacaan novel Menolak Ayah.

Novel ini memang berkisah menyangkut etnis Batak dengan latar belakang sejarah PRRI. Karena itu, di dalam bahasa Indonesia yang sangat bagus digunakan oleh Ashadi Siregar, seperti dikatakan oleh Jeany Linsay, dalam dialog saat diskusi berlangsung, ditemukan bahasa lokal setempat, dan tentu ada terjemahannya dalam bahasa Indonesia.

Dan Landung, mampu mengucapkan dalam bahasa Batak, berikut logatnya persis seperti orang Batak. Sungguh memang Simatupang ini orang Batak, yang tinggal di Yogya, tetapi tidak kehilangan ke-Batak-annya.

Peserta diskusi mendengarkan Landung membaca novel
Peserta diskusi mendengarkan Landung membaca novel

Dalam novel yang terasa serius kisahnya, dan kalau dibaca tidak menimbulkan tawa, tetapi begitu dibaca Landung dengan logat Bataknya, yang tampak serius pada teks, bisa menimbulkan tawa, dan terdengar gelak tawa dari hadirin.

Konten Terkait:  Ronggeng Kulawu, Kisahkan Perjuangan Penari Ronggeng Zaman Penjajahan Jepang

“…..sudah korupsi komunis pula..” begitu Landung membaca dengan logat Batak, dan suara tawa hadirin terdengar, bahkan termasuk Ashadi Siregar penulis novel, ikut tertawa.

Setiap kalimat atau kata yang menggunakan logat Batak, Landung mengucapkannya dengan persis seperti orang Batak ngomong, apalagi hanya kata pendek seperti ‘bah’ atau ‘ley’, Landung begitu fasih.

Sejak menerima novel Menolak Ayah, sekitar dua minggu sebelum diskusi diselenggarakan, Landung memang membaca dengan tekun sambil memilih bagian mana yang akan dibacakan. Rencananya akan dibacakan potongan-potongan dari bagian-bagian di setiap bab agar bisa memberi gambaran pada para peserta diskusi, namun akhirnya Landung memilih bagian penutup.

“Ons, saya akan bacakan bagian akhir dari novel Bang Hadi, karena bagian akhir ini sebenarnya, bagi saya, awal dari seluruh masalahnya, dan tidak bisa 30 menit, tetapi 40 menit,” kata Landung melalui telpon.

Rupanya, ketika Landung membaca bagian akhir dari novel Menolak Ayah, yang durasi waktunya 40 menit, tidak terasa panjang, dan hadirin tampak tidak meninggalkan tempat duduk, bahkan terlihat menyimak, dan tertawa ketika Landung menghadirkan hal yang lucu, meskipun teksnya tidak lucu ketika dibacaka sendirian.

Landung Simatupang
Landung Simatupang

Ketika Landung menyudahi membaca bagian akhir dari novel Menolak Ayah, tepuk tangan hadirin mengiringi, dan Ashadi Siregar, penulisnya, beranjak dari tempat duduk berdiri menyalami Landung Simatupang.

Sungguh, teks yang bisu dari Menolak Ayah, telah dihidupkan oleh Landung Simatupang. Aktor teater ini, memang tak ada duanya. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here