Puisi Mahfud RD

0
42

Epitaf Sujud Hilang Denyut

kita ; menyemayamkan sesal dalam bait akad nan sakral
sehingga tanya tak lagi jatuh pada kening mereka
sepi telah tandas di balik getir yang bergetar di sudut bibir

malam tiba-tiba runtuh di pundak mereka
menimbun semarak di tengah segala gunjing serak

lalu, kita,

merayakan perjalanan di tempat duduk berbeda dan waktu tiba tak sama
segala cibir telah jadi senja yang padam bara
sebelum sujud kehilangan denyut
mari menegakkan kepala
meninju zaman yang tiada tertib
dan bersama mengeja nasib

Bantul, juli 2018.

Suatu Petang Sebelum Pindah ke Jogja

untuk petang kesekian lagi dan lagi kupandang rona di pipimu yang seperti senja kehilangan bara di balik gunung dan puncak bukit yang ranum
kecemasan melipat mataku
dan kau tetap tersandung murung
sehingga muka yang kau punya kerap menggiring getaran bibir untuk bertanya

‘akhirnya esok kita ke jogja!’
secuil asa terbit di retinamu
melukis halusinasi dari asin gurih masakan sendiri
dari nasib dalam waktu-waktu yang tua
dalam sepi yang siap menikam dada

‘kau begitu bahagia!’
sergahmu dalam menata buku-bukuku
dalam mengeja rapi harta-hartaku

‘ya! aku akan ke jogja! aku akan tercebur lagi dalam kubangan aksara! dan berkali-kali menenggelamkan diri!’

Tempursari, juli 2018

Sulang Lor I

Kutemukan segala pintu tertutup
di antara debu menerobos ingin dihirup
beku adalah nasib yang minta dibaca
oleh segala nasab dan duka yang kaji

Kukembali pada kubangan kebohongan kala tanganku lelah dan tubuhku serupa ranting patah
ini telinga tiada lagi peka dari dusta yang dipoles doa dan salam yang dibalut tikam

Ini tubuh telah menggigil dalam jauh pelarian yang gagal
dari asa yang dipaksa tanggal dari bahagia yang dipenggal-penggal

Konten Terkait:  Yudhistira Tampil di Sastra Bulan Purnama

Sebab candu telah membatu dalam belenggu dan botol-botol di segala nisbi yang jadi tolol

Bantul, juli 2108

Sulang Lor II

merayakan sepi ; sebaris puisi membunuh diri dari pintupintu tertutup
segala ingatan moksa,
dari tubuh menggigil
dalam gelap ratap memanggil

lalu
masa silam ;
menjelma doa penghapus dosa
dan yang paling suci adalah nisbi kehilangan daya

ini tangan menanak harap pada bulirbulir cemas
kepul demu kepul menanti dilahap tandas
lalu terkapar
tersebab bohong dan membohongi adalah kudapan dalam harihari

Bantul, juli 2108

Terminal Batu

aku hanya numpang lewat
sedang pada bangku bangku kosong itu ingatan senantiasa terawat
antara gelap dan terang seperti lampu kota jatuh di pelupuk mata

tersisa keluh kesah kala itu
pada kacakaca di matamu
yang menanti sandaran atau di mana tubuh kita layak dibaringkan

dingin tanpa sebab dibisik angin
di bibirmu
aksara resah dicumbu ingin

di songgoriti lelah dan rebah menabrak bimbang serta mengacak kondisi
antara pisah, kenang, dan ditinggal pergi

Batu – Jogja, februari 2018

Mahfud RD, lahir di Lumajang, 22 februari 1993. Mukim di Yogyakarta dan menempuh pendidikan di Universitas Ahmad Dahlan. Pernah diundang sebagai peserta dalam acara Kemah Sastra Nasional di Banyuwangi (2018). Beberapa puisinya pernah dimuat media daring dan cetak seperti; kibul.in, takanta.id, kawaca.com, Radar Banyuwangi dan Banjarmasin Post. Serta tergabung dalam antologi puisi Senyuman Lembah Ijen (2018).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here