Satu Sosok Diponegoro Digarap Lima Pelukis

0
94
Kolaborasi Pangeran Diponegoro, 250 x 250 cm (5 panel), OOC, 2018-Foto-A.Sartono
Kolaborasi Pangeran Diponegoro, 250 x 250 cm (5 panel), OOC, 2018-Foto-A.Sartono

Orang begitu familier dengan visualisasi Pangeran Diponegoro yang berserban putih, menunggang kuda sambil mengacungkan sebilah keris, atau menuding. Visualisasi semacam itu yang terwujud dalam karya patung maupun lukisan menjadi populer, salah satunya oleh karena karya Nicolaas Pieneman yang melukiskan peristiwa penangkapan Diponegoro. Lukisan karyanya menggambarkan Diponegoro yang tertunduk lesu dan seolah menyerah kalah.

Cengkir, 120 x 90 cm (2 panel), Oil, Acrylin on Canvas, 2018, karya C Roadyn Choerodin-Foto-A.Sartono
Cengkir, 120 x 90 cm (2 panel), Oil, Acrylin on Canvas, 2018, karya C Roadyn Choerodin-Foto-A.Sartono

Karya Pieneman ini dijawab oleh Raden Saleh dengan tema yang sama namun dengan penggambaran sosok Diponegoro yang berbeda. Pada karya Raden Saleh sosok Diponegoro digambarkan menentang tajam wajah Jenderal De Kock. Tampak sorot mata kebencian Diponegoro pada De Kock yang menangkapnya dengan tipu muslihat yang licik. Berawal dari sini sepertinya kemudian terpateri dalam benak hampir semua orang, bahwa sosok Diponegoro selalu bersurban dan berjubah putih. Inilah gambaran yang paling familier tentang sosok Diponegoro.

Ndoro Pangeran, 125 x 95 cm, Pencil, Chinese Ink, Charchoal, Oil on Canvas, 2018, karya Eddy Sulistyo-Foto-A.Sartono
Ndoro Pangeran, 125 x 95 cm, Pencil, Chinese Ink, Charchoal, Oil on Canvas, 2018, karya Eddy Sulistyo-Foto-A.Sartono

Hal itu pulalah yang menjadi semacam ikon pada pameran Warisan di Omah Petroek, Karangkletak, Hargobinangun, Pakem, Sleman pada 28 Juli-3 Agustus 2018. Pameran yang diikuti oleh Andy Miswandi, C Roadyn Choerudin, Endro Banyu, Sigit Raharjo, dan Muji Harjo yang tergabung dalam kelompok Liquid Colour serta dibuka secara resmi oleh Drs H GBPH Yudaningrat MM ini juga dilengkapi dengan lomba lukis anak-anak dan workshop. Lukisan Diponegoro dengan pakaian berupa jubah dan surban berwana putih dan keris terselip di bagian depan tubuhnya menjadi karya kolaboratif dari para pelukis tersebut.

Tema yang diangkat oleh kelompok Liquid Colour adalah “Warisan”. Warisan dipahami sebagai sesuatu yang diwariskan haruslah dijaga, dirawat, dan dilestarikan karena apa yang diwariskan dan dilestrarikan itu bisa menjadi alat atau sarana untuk mengenangkan sesuatu atau seseorang dari generasi satu ke generasi berikutnya. Demikian seterusnya.

Konten Terkait:  Sushi Harga Kaki Lima
Pengendalian 4 Sifat, 100 x 120 cm, karya Endro Banyu-Foto-A.Sartono
Pengendalian 4 Sifat, 100 x 120 cm, karya Endro Banyu-Foto-A.Sartono

Para peserta pameran kali ini membuat karya bersama-sama untuk mempersatukan pemikiran masing-masing peserta tentang apa yang disebut sebagai warisan ini. Terciptanya sosok Pangeran Diponegoro adalah benang merah yang menyatukannya. Sosok Pangeran Diponegoro dengan semangat dan perjuangan heroiknya melawan kolonialis Belanda merupakan salah satu sosok penting dalam perjalanan kesejarahan Indonesia yang harus terus dinarasikan kepada generasi berikutnya sebagai warisan kebangsaan.

Selain lima orang yang tergabung dalam kelompok Liquid Colour, Liquid Colour juga menghadirkan satu peserta tamu, yakni Eddy Sulistyo. Karya-karya mereka mencoba menafsir ulang tentang makna warisan Diponegoro. Baik itu warisan berupa semangat juang, heroisme, penolakan pada sebuah dominasi asing atas negeri sendiri, maupun sejarah dan kebudayaan.

Petruk Zaman Now, 150 x 100 cm, AOC, 2018, karya Muji Harjo-Foto-A.Sartono
Petruk Zaman Now, 150 x 100 cm, AOC, 2018, karya Muji Harjo-Foto-A.Sartono

Harapan atas pameran ini kiranya mampu menjadi daya kejut bagi bangsa untuk berkaca ulang, introspeksi, dan menata kembali karakter dan jati diri bangsa sehingga dengan demikian kita sebagai bangsa tidak lagi diperolokkan sebagai bangsa yang lupa pada jati diri bangsanya sendiri.
(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here