Ide atau inspirasi bagi seorang pekerja seni bisa berasal dari apa dan mana saja serta kapan saja. Persis seperti bunyi iklan softdrink di masa lalu. Demikian pun yang terjadi pada Prasetya Yudha DS, lulusan Jurusan Fotografi Institut Seni Indonesia Yogyakarta tahun 2016. Inspirasi tidak harus berawal dari sesuatui yang besar dan jauh “di luar jangkauan”. Ide atau inspirasi bisa berangkat dari sesuatu yang biasa, yang ditemui sehari-hari di sekitar diri. Pras juga menggulirkan hasil kreativitas kerja seninya berdasarkan hal-hal keseharian yang tidak jauh dari lingkup dirinya. Namun apa yang biasa, yang sehari-hari itu tidak bisa disebut lagi menjadi biasa ketika ia “digarap” dengan cara pikir dan kinerja yang sesungguhnya tidak biasa (luar biasa).

Puing mangku, karya Prasetya Yudha DS-Foto-A.Sartono
Puing mangku, karya Prasetya Yudha DS-Foto-A.Sartono

Pras mengambil ruang-ruang kosong dari rumah-rumah, toko, kios, warung, dan lain-lain yang sudah tidak berpenghuni sebagai objek garapan seni fotografinya. Ruang-ruang semacam itulah yang menjadi das ding ansich (benda/materi pada dirinya sendiri). Apa yang digarap oleh Pras ini pada awalnya merupakan sebuah kewajiban atau tugas kuliahnya di tahun 2011 dan ia mendapatkan nilai B untuk tugas ini, dan ia tidak peduli. Tahun 2013 ia memutuskan untuk berkarya di jalan fotografinya sendiri. Semua itu dimulai dengan pencarian jawaban atas pertanyaan, apa itu fotografi bagi dirinya sendiri? Kembalilah Pras pada ruang-ruang atau rumah tak berpenghuni, kali ini lebih fokus pada reruntuhan. Keberadaan dirinya di dalam reruntuhan itu disebabkan oleh hasratnya untuk berkarya, tetapi ia bingung mau motret apa.

Sisa Paku dan Karat, karya Prasetya Yudha DS-Foto-A.Sartono
Sisa Paku dan Karat, karya Prasetya Yudha DS-Foto-A.Sartono

Pada galibnya fotografi selalu meminta kehadiran diri dari objek yang membuat fotografi mempunyai ruang semu di dalamnya. Ruang semu yang menyisakan jarak antara bayangan atas objek dan objek itu sendiri. Apa yang menjadi bayangan seseorang terhadap suatu objek punya potensi yang sangat besar untuk bergeser karena keduanya tidak bisa lepas dari ruang dan waktu yang terus berubah. Demikian apa yang dipikirkan oleh Pras kala itu. Secara tidak langsung sudah mempertanyakan soal kuasa di sana. Bagaimana kerja utama fotografi pada pemikirannya kala itu hanya merespons, bagaimana kecanggihannya dalam bereaksi terhadap apa yang hadir di hadapannya menunjukkan seberapa jauh kemungkinan imajinasinya bekerja. Selain itu sangat disadarinya bahwa seorang fotografer mesti memiliki ketajaman intuisi untuk bisa tetap terus berkarya/bekerja.

Konten Terkait:  Bom Warna & Affandisme pada “Kebun Bunga” Widodo Djiaan

Apa yang disajikan oleh Pras dalam pameran tunggal fotografinya di Bentara Budaya Yogyakarta mulai 24-31 Juli 2018 dengan tema Mengeja Rumah pada galibnya memang berangkat dari pertanyaan tentang relasi kuasa yang ada di dalam rumah. Bagaimana idealnya posisi dan hubungan antaranggota keluarga. Melalui karya fotografinya itu Pras mengonstruksi benda-benda yang berasal dari rumah-rumah kosong tanpa penghuni. Berdasarkan hal itu ia meminjam dan mengintervensi ingatan kolektif yang dimiliki benda-benda tersebut untuk menyusun narasinya sendiri, sekaligus sebagai sublimasi.

Lubang Kunci dan Sepotong Karpet, karya Prasetya Yudha DS-Foto-A.Sartono
Lubang Kunci dan Sepotong Karpet, karya Prasetya Yudha DS-Foto-A.Sartono

Pameran tunggal fotografi oleh Prasetya Yudha DS ini seperti pengantar yang dituangkan dalam leafletnya, adalah semacam diary. Narasi visual atas karya foto dan teks pengantarnya menunjukkan kisah kegelisahan dan proses menuju pencapaian akan sesuatu yang mungkin tidak akan berakhir, selesai dan tuntas. Selesai di satu sisi namun berlanjut di sisi lain. Menutup di satu sisi namun sekaligus membuka pada sisi lain.

Turup Gelas Kelereng dan Sisir, karya Prasetya Yudha DS-Foto-A.Sartono
Turup Gelas Kelereng dan Sisir, karya Prasetya Yudha DS-Foto-A.Sartono

Di dalam rumah itu aku menikmati atmosfirnya. Aku benar-benar berusaha untuk menganggap rumah itu sebagai rumahku sendiri. Aku punya kecenderungan melihat detail. Jadi aku tertarik dengan hal-hal kecil yang ada di rumah kosong itu, seperti cat yang terciprat dan teroles di lantai, kayu, kaca jendela. Namun, yang membuat merasa bahwa aku benar-benar perlu untuk membuat pendekatan baru saat berada di sebuah ruang kosong itu adalah ketika aku menemukan kupu-kupu mati di dalam rumah itu. Kupu-kupu itu punya sayap bermotif mata. Aku memotretnya. Lalu aku menemukan binatang mati lain yang berbeda jenisnya di dalam rumah kosong itu. Demikian penggal “diary” dari Pras atas pameran tunggal fotografinya yang bertemakan Mengeja Rumah.
(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here