Arsip mempunyai nilai penting bagi kesejarahan, sehingga perlu dihadirkan guna mengedukasi masyarakat tentang nilai-nilai kesejarahan yang sangat penting sebagai bahan refleksi atas masa lalu, bekal untuk masa kini menuju masa depan yang jauh lebih baik. Kecuali itu, arsip juga penting untuk kelengkapan data sebuah kajian berbagai ilmu pengetahuan. Penghadiran arsip di masyarakat juga penting untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap arsip itu sendiri serta potensi yang dapat digali dari arsip.

Oleh karena itulah Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD) DIY menyelenggarakan pameran arsip dengan tajuk “Menelusuri Kemolekan Budaya dan Pariwisata Yogyakarta”. Pameran arsip ini dilaksanakan di Gedung Sasana Hinggil Dwi Abad Alun-alun Kidul Yogyakarta, pada 25-31 Juli 2018.

Grebeg di Yogyakarta tahun 1978 dalam arsip-Foto-Repro-A.Sartono
Grebeg di Yogyakarta tahun 1978 dalam arsip-Foto-Repro-A.Sartono

Dalam pameran ini ditampilkan arsip-arsip tekstual, foto, dan audio visual yang berkaitan dengan budaya dan pariwisata Yogyakarta, yang dapat dikatakan sebagai basis budaya Jawa yang memiliki keunikan dan kemolekan. Bukan hanya molek dipandang tetapi juga nilai-nilai yang menjadi ruh dari budaya yang ada di Yogyakarta. Masuknya berbagai unsur budaya lain (Hindu, Budha, Islam, dan Barat) justru memperkuat karakter keunikan budaya Yogyakarta. Oleh karena itu budaya Yogyakarta memiliki daya magnetis yang memberi kontribusi bagi nilai-nilai budaya dan pariwisata di Indonesia.

Pemandangan Waduk Sermo Kulon Progo tahun 1994-Foto-Repro-A.Sartono
Pemandangan Waduk Sermo Kulon Progo tahun 1994-Foto-Repro-A.Sartono

Pameran juga bukan hanya menjadi ajang untuk mengagumi kemolekan budaya dan pariwisata di Yogyakarta pada masa lampau tetapi juga menjadi wahana untuk mempertanyakan komitmen warga Yogyakarta sendiri tentang rasa memiliki, kebanggaan sekaligus untuk melestarikan budaya Yogyakarta. Kekokohan pada nilai budaya bangsa menjadi sesuatu yang mendesak untuk ditumbuhkembangkan pada generasi saat ini mengingat gempuran budaya asing tidak terhindarkan lagi. Tanpa mengenal dan memahami budaya sendiri akan menjadi ancaman serius bagi rapuhnya jatidiri dan karakter bangsa.

Konten Terkait:  Karna (2): Kunti Menagih Janji

Apa yang disajikan dalam pameran ini dapat dikatakan hanya merupakan serpihan dari sebuah keutuhan dan kekayaan besar dinamika budaya dan pariwisata di Yogyakarta. Tentu tidak mungkin pameran ini menampilkan seluruh aspek budaya yang ada di Yogyakarta. Selain itu, jumlah arsip pun tentu terbatas juga. Sekalipun demikian, dari pameran ini diharapkan warga Yogyakarta tertantang membulatkan komitmen terhadap kelestarian harkat dan martabat dirinya melalui budaya.

PG Medari Sleman di masa lalu-Foto-Repro-A.Sartono
PG Medari Sleman di masa lalu-Foto-Repro-A.Sartono

Diharapkan pula bahwa pameran ini mampu menumbuhkan kemampuan untuk mengenali, memahami, melestarikan dan mengejawantahkan budayanya. Komitmen itu akan menjadi bukti bahwa status istimewa yang disandang Yogyakarta bukanlah sesuatu yang sia-sia, bukan pula sekadar menjadi nama atau predikat belaka tanpa isi, tetapi sungguh-sungguh memliki makna.

Tangga naik menuju Makam Imogiri tahun 1900-Foto-Repro-A.Sartono
Tangga naik menuju Makam Imogiri tahun 1900-Foto-Repro-A.Sartono

Pameran ini tidak hanya menampilkan arsip yang berkait dengan Kota Yogyakarta, namun juga yang berkait dengan kekayaan budaya dan hal-ihwal yang terjadi dan ada di kabupaten-kabupaten seperti Sleman, Gunung Kidul, Bantul, dan Kulon Progo. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here