Puisi Setiyo Bardono

1
88

Dawet Ireng

Engkau lebih memilih hitam
yang lebih sejati dari hitam kereta api
biar hitam banyak yang menanti.

Tangkai pari telah belajar kerendahan hati,
sekian lama tubuh kurus merunduk digelayuti bernas padi.

Panen bagimu tangis perpisahan,
tubuh terbakar menghitam arang.

Tak lagi menjalani tradisi membasuh rambut bidadari
Serpihan hati mewarnai adonan kental airmata sepi.

Aku, buah kelapa kehilangan pegangan,
terjatuh payah menggumuli tanah.

Parut-parut luka mengucur putih santan,
menjemput larutan gula senja memerah,
rindu nira yang mengental terpanggang api cinta.

Dalam mangkuk itu merah putih bertemu, gurih manis Indonesiaku.
Serpihan dawet hitam, terombang-ambing dalam lautan rasa yang menderu.

Di sepanjang jalan itu, kakimu akan terantuk mangkuk.
Singgahlah mereguk segar rindu walau seteguk.

KRL Commuter Line, 16 Mei 2017

Onde-Onde

Rasanya aku tak akan kuat
menyekap hati yang lumat
dalam keyakinan bulat.

Pada wajahmu yang merona
bintang-bintang terpesona
jatuh dalam peluk cinta.

Telah kau maknai kesabaran
malam larut teraduk adonan.
Aku tersesat dalam hitungan.

Saat engkau tertawa,
bumi telanjang bulat terbuka.
: inikah gambaran semesta?

Dalam rongga yang tercipta,
ijinkan aku menitipkan rasa
agar bisa turut menyelami luka.

Jika nanti kenyataan mengigit
biarkan aku ikut merayakan sakit
dengan sedikit perlawanan sengit.

Depok, 13 Mei 2017

Anak-Anak Kata

Selembar kertas termangu di beranda.
Sudah lama ia ingin menulis puisi untuk senja.

Namun huruf-huruf lepas berlarian
Di sepanjang gang dan pekarangan,
juga kenangan yang berkelindan.

Berlarian dengan kaki-kaki yang belum kukuh,
aku cemas mereka jatuh, tersandung batu jatuh dan mengaduh.

Ah, mungkin senja lebih suka melihat anak-anak kata bergembira,
daripada terhimpun di senyap puisi yang hanya menguras airmata.

Kubiarkan huruf-huruf lepas berlarian di beranda senja.
Di kedamaian malam, mungkin mereka akan terangkum menjadi puisi.

Depok, 14 Februari 2017

Lelaki dan Pantai

Selama dua puluh tahun lelaki itu bermimpi bisa membangun tanggul raksasa di lepas pantai. Ini satu-satunya jalan untuk memisahkan pengaruh air laut yang melemahkan daratan.

Konten Terkait:  Nggelar Klasa, Ekspresi Perupa dalam Kebersamaan dan Kesetaraan

Tanggul yang mengepung teluk akan menciptakan ceruk serupa mangkuk raksasa, tempat aliran air tiga belas sungai bercengkerama dan bermuara.

Air laut yang surut dalam mangkuk itu menghamparkan pelataran luas dalam rancangan pemikiran, tanpa perlu memindahkan daratan atau menimbun lautan. Rumah-rumah nelayan akan leluasa berlabuh meninggalkan ruang sempit kumuh.

Namun laut tak akan menyerah mengempurkan debur rindu pada kukuh tanggul penjaga, mencari celah agar kembali bisa membelai pantai, kekasihnya.

Depok, 2 Maret 2017

SETIYO BARDONO, penulis kelahiran Purworejo ini, telah menerbitkan antologi puisi tunggal berjudul Mengering Basah (Aruskata Press, 2007), Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (Pasar Malam Publishing, 2012), dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Enterprise Malaysia, 2012).

Karya-karya puisinya singgah dalam beberapa buku antologi bersama seperti Dian Sastro For President #2: Reloaded (AKY, 2003); Nubuat Labirin Luka (AWG, 2005); Jogja 5.9 Skala Richter (Bentang, 2006); Peta Kamasurta (Alvabet, 2009); Kakilangit KESUMBA (Kopisisa, 2009); Antologi Puisi G 30 S (Sokobuku, 2010); Resonansi (Dewan Kesenian Purworejo, 2010); Empat Amanat Hujan (Dewan Kesenian Jakarta, 2010); Kerlip Puisi Gebyar Cerpen Detak Nadi Sastra Reboan (Pasar Malam Publishing, 2011); Tuah Tara No Ate (TSI IV, 2011); Karena Aku Tak Lahir dari Batu (Sastra Welang, 2011); The Beauty of Indonesia Railways (Kereta Anak Bangsa, 2012); Cinta Gugat (Pasar Malam Publishing, 2013); Sendaren Bagelen (Paguyuban Penulis Purworejo, 2013); Negeri Abal-Aba (Kosa Kata Kita, 2013); Negeri Langit (Kosa Kata Kita, 2014); Bersepeda Ke Bulan (Indopos, 2014); Pengantin Langit (KSI dan BNPT, 2014); Negeri Laut (Kosa Kata Kita, 2015); Negeri Awan (Kosa Kata Kita, 2017); Pesona Ranah Bundo (2018); serta Negeri Bahari (Kosa Kata Kita, 2018).

Penulis bergiat di Paguyuban Sastra Rabu Malam (Pasar Malam) dan bisa dihubungi melalui email [email protected]

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here