Bulan cerah menghiasi, di atas amfiteater Tembi Rumah Budaya, yang lokasinya ada di tengah persawahan. Udara dingin merambat di tubuh. Dalam suasana seperti itu, penonton yang hadir dalam pergelaran Sastra Bulan Purnama edisi 82 menikmati puisi karya tiga perempuan penyair yang me-launching antologi puisi karya masing-masing.

Tiga perempuan penyair itu ialah, Ristia Herdiana, yang tinggal di Jakarta, buku puisinya berjudul ‘Lebaran Tanpa Ibu’ dan, Yuliani Kumudaswari, tinggal di Sidoarjo, buku puisinya berjudul ‘Menyusuri Waktu’, dan Novi Indrastuti, tinggal di Yogyakarta, buku puisinya berjudul ‘Kepundan Kasih’.

Yuliani tampil pertama membacakan puisi karyanya, dan para pembaca yang lain, Yantoro, Alfi Idris dan Essy Massita ikut membacakan puisi karya Yuliani. Jadi, Yuliani tidak tampil sendirian, melainkan didampingi para pembaca lainnya.

“Saya sudah beberapa kali tampil di Sastra Bulan Purnama, selain di amfiteater, pernah pula tampil membaca puisi di pendapa Tembi, yang letaknya di depan dari bangunnan ini, dan entah mengapa, saya selalu merasa senang setiap kali tampil membaca puisi di Tembi,” kata Yuliani mengawali sebelum mulai membaca puisi.

Penampil kedua, Novi Indrastuti, penyair, sekaligus pengajar di jurusan Sasra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM. Buku puisi Novi berupa puisi dan fotografi. Maka, dalam penampilan Novi didampingi Harno DP untuk menjelaskan kolaborasi dan puisi.

“Ini memang menjadi ciri khas saya, bahwa dalam menerbitkan buku puisi saya berkolaborasi dengan fotografi karya Prof Harno, dan ini sudah untuk yang ketiga kali saya berkolaborasi dengan beliau,” kata Novi.

Harno DP, yang karya fotografinya berkolaborasi dengan puisi Novi Indrastuti menyampaikan, bahwa foto karyanya tidak menerjemahkan dari puisi, melainkan merupakan karya mandiri, yang kemudian berdampingan dengan puisi.

Konten Terkait:  Festival Musik Tembi 2016 (4): Ragam Warna nan Memikat

Selain dibacakan oleh Novi Indrastuti sendiri, puisi karyanya juga dibacakkan oleh pembaca lain, yakni Aminoto, yang sering menggunakan nama mBah Noto, seorang pengajar di Fakultas Hukum UGM dan Agus Leylor, seorang pengajar di Jurusan Teater Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta.

Penampil terakhir, seorang perempuan penyair yang tinggal di Jakarta, Ristia Herdiana, yang membacakan beberapa puisi karyanya dan juga didampingi seorang pembaca Uzi Fauziah, dan satu puisinya yang berjudul ‘Susuk’ diolah menjadi pertunjukan oleh satu komunitas sastra yang menamakan diri Sastra Mantra.

“Saya sebenarnya ingin ditempatkan di awal, atau malah di tengah, bukan di bagian terakhir seperti malam ini. Kalau saya ditempatkan di awal, perasaan grogi saya masih kuat, kalau di bagian terakhir, grogi saya sudah berkurang, meskipun masih terasa kental,” kata Ristia berseloroh.

Puisi-puisi Ristia banyak menyajikan kisah mengenai ibunya yang sudah tiada, setidaknya suasana duka ditinggalkan oleh ibunya. Maka, buku puisinya diberi judul ‘Lebaran Tanpa Ibu’.

“Seringkali, kalau saya mengingat ibu saya terus meneteskan air mata, mudah-mudahan, malam ini, saya tidak mewek saat membaca puisi untuk mengenang ibu saya, karena air mata saya seperti sudah mulai tumpah,” kata Ristia.

Ketiga perempuan penyair yang kali ini tampil di Sastra Bulan Purnama memang dipertemukan di bulan purnama Tembi, dan ketiganya terus saling bersahabat, puisi sepertinya membuat persahabatan ketiganya semakin terasa akrab. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here