Estetika Magis dalam Karya Rupa Genevieve Couteau

0
22

Presisi bentuk dan figur dewa Hindu, peralatan upacara yang terpajang dalam Pameran Estetika Magis yang diselenggarakan di Museum Sonobudoyo Yogyakarta mulai 13 Juli -2 Agustus 2018 merupakan koleksi benda-benda kuno yang mampu menggiring imajinasi nuansa masa lalu. Benda-benda kuno tersebut dipersandingkan dengan karya seni rupa dari perupa Prancis, Genevieve Couteau yang merepresentasikan ke dalam post impresionisme.

Sapuan warna yang lunak, dan mendasarkan pada saturation colour juga mengajak apresian pameran ini untuk mengapresiasi masa lalu. Beberapa karya hitam putih yang memvisualisasikan figur-figur pendeta Bali sepertinya tidak saja ingin berbicara prosesi keagamaan, melainkan ingin mengungkapkan nilai religiusitasnya. Pada sisi itulah pertemuan “suasana magis” yang dapat dikatakan sebagai pertemuan “estetika magis” karya seni klasik dan seni modernisme.

Kekhasan Genevieve Couteau adalah merepresentasikan suasana magis melalui karyanya, sedangkan koleksi seni klasik dari Museum Sonobudoyo menunjukkan magisnya media dan properti upacara. Kemasan itulah yang menjadi tajuk pameran lukisan yang diintegrasikan dengan koleksi seni klasik. Oleh karenanya pameran ini menyuguhkan koleksi seni klasik yang harus dibahasakan dengan bahasa historiografis: benda-benda, media, maupun properti upacara dikaitkan dengan line story dalam karya-karya Genevieve. “Ether” suasana magis ini mampu membangkitkan “estetika magis” yang dipunyai oleh kedua materi dalam pameran.

Pada sisi lain karya rupa Genevieve yang bernuansa post impresionisme mampu merepresentasikan “the picture thinking” dalam imajinasi pelukis dibaca secara hermeneutika. Perpaduan artefak koleksi seni klasik ternyata mampu menjelaskan suasana magis karya-karya seni lukis post impresionisme.

Maket Pura Desa Koleksi Museum Sonobudoyo dalam Pameran Estetika Magiis-Foto-A..Sartono
Maket Pura Desa Koleksi Museum Sonobudoyo dalam Pameran Estetika Magiis-Foto-A..Sartono

Ada hal penting yang hendaknya dicatat pada diri Genevieve. Pertama, Genevieve melihat kenyataan dengan mata wanita, yaitu dia melihat kaumnya dengan cara yang berbeda dengan pelukis pria. Selain itu, Genevieve menanggapi persinggahannya atas Laos dan Bali tepat sebelum kedua budaya itu dilanda dan dirombak oleh gelombang modernisasi. Laos belum tumbang dari komunisme (1975). Sedangkan Bali pada tahun 1960-1970-an adalah pulau yang masih hidup pada ritme lamban dari tradisi agrarisnya. Penduduk masih berjalan kaki dan wayang masih menjadi sarana budaya utama. Semuanya itu adalah teater, musik, alam, dan keanggunan. Jadi, Genevieve Couteau adalah saksi terakhir, tanpa prasangka kolonial dari keaslian visual atas Laos dan Bali.

Konten Terkait:  Ragam Gerak Air dan Citra Sunyi dalam Adu Domba # 8
Mangku Ubud, 48 x 63 cm, Drawing On Paper, Karya Genevieve Couteau-Foto-A.Sartono
Mangku Ubud, 48 x 63 cm, Drawing On Paper, Karya Genevieve Couteau-Foto-A.Sartono

Meskipun demikian, Genevieve Couteau tidak hendak memberikan suatu “deskripsi” realis dari kelainan kultural Bali dan Laos. Dia sebaliknya menawarkan pengilhaman pribadi, sebagai seorang wanita atas spiritualitas khas yang di matanya mengenangi kehidupan sehari-hari dari kedua masyarakat yang bersangkutan. Karyanya merupakan upaya untuk mengungkapkan inti dari identitas “yang beda” sebagai unsur lintas budaya yang universal. Pendeknya nuansa magis-spiritual yang ditanggapi Genevieve Couteau pada Bali dan Laos adalah bagian dari spiritualitasme universal yang diimpikannya. Demikian nukilan catatan kuratorial dari Dr Drs Hadjar Pamadhi MA Hons dan Jean Couteau atas pameran ini. Pameran Estetika Magis ini terselenggara atas kerja sama Dinas Kebudayaan DIY, Museum Sonobudoyo, Kedutaan Besar Prancis dan Institut Francais.
(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here