Sekitar 45 lukisan dipajang di dinding Bale Banjar Sangkring, Nitiprayan, Kasihan, Bantul Yogyakarta. Karya rupa sebanyak itu merupakan ciptaan lima perupa yang berpameran tunggal bersama di tempat tersebut. Kelima perupa itu adalah Ampun Sutrisno, Kuart Kuat, Ledek Sukadi, Lukman Van Gogh dan Rismanto. Pameran itu mereka bingkai dengan tema “Pameran 4 Sehat 5 Sempurna”.

Sengaja slogan dari masa lampau yang mengingat warga bangsa untuk sadar arti pentingnya gizi untuk kesehatan itu mereka usung. Pameran tersebut dibuka secara resmi oleh Dr Nasir Tamara pada Kamis malam, 12 Juli 2018. Pameran dilakukan hingga tanggal 25 Juli 2018.

Kesrimpet Bebed Kesandhung Gelung, 150 x 200 cm, AOC, 2018, karya Ledek Sukadi-Foto-A.Sartono
Kesrimpet Bebed Kesandhung Gelung, 150 x 200 cm, AOC, 2018, karya Ledek Sukadi-Foto-A.Sartono

Pameran tunggal bersama ini seperti ingin menegaskan bahwa yang mereka lakukan itu merupakan pameran tunggal yang “kebetulan” dilaksanakan bersama-sama di tempat dan waktu yang sama. Tampak jelas bahwa eksistensi masing-masing individu dengan kekhasan karya masing-masing adalah sesuatu yang sangat penting dan tetap individual. Kebersamaan bukanlah peleburan, melainkan bagaimana bergandengan tangan dalam kerukunan untuk menampilkan kekhasan karya masing-masing sungguh pun dibingkai dalam tema yang sama: 4 Sehat 5 Sempurna.

Anteng Ajeg, 145 x 200 cm, AOC, karya Rismanto-Foto-A.Sartono
Anteng Ajeg, 145 x 200 cm, AOC, karya Rismanto-Foto-A.Sartono

Jika dicermati, maka tampak sudut pandang, minat, idealisasi, dan ideologi kreatif masing-masing perupa memang berbeda. Barangkali titik pijaknya bisa sama, yakni tentang nilai-nilai kelokalan (local wisdom). Seperti apa yang disampaikan Apriadi Ujiarso, perupa Ampun Sutrisno menunjukkan visi artistiknya di medan kreatif “menggambar buwana ageng”. Ampun menghadirkan hal itu dalam ragam dekoratif. Pada sisi lain perupa Kuart Kuat mengambil konsep satria pengelana: berkelana dengan riang bersama VW Combi-nya, membaca tanda-tanda dan mencatat persoalan terkini yang muncul di sekitarnya.

Perupa Ledek Sukadi terus memanfaatkan pesan-pesan penting dari cerita rakyat, legenda, katuranggan, primbon, macam-macam ungkapan nilai tradisional Jawa, dari klasikal hingga modern sebagai energi penggerak kreatifnya. Sekian puluh katuranggan ayam (jago) ia torehkan pada kanvas sebagai cara menghadirkan nilai-nilai tradisional Jawa yang mungkin mulai dilupakan orang. Demikian juga halnya dengan Dewi Sri sebagai manifestasi kemurahan Sang Khalik pada manusia Jawa melalui hadirnya beras (pangan), kesuburan, dan ketenteraman oleh welas asih sang dewi atau Simbok Sri.

Pohon Kehidupan, 100 x 100 cm, mixed media on canvas, 2018, karya Ampun Sutrisno-Foto-A.Sartono
Pohon Kehidupan, 100 x 100 cm, mixed media on canvas, 2018, karya Ampun Sutrisno-Foto-A.Sartono

Jika Ledek beranjak dari berbagai nilai tradisional Jawa. Demikian pula halnya dengan perupa Lukman van Gogh yang beranjak dari permainan gambar umbul sebagai penggerak daya kreatifnya. Ia mengadopsi gambar umbul dan mengolahnya secara bebas. Dari situ pula Lukman berupaya menangkap esensi-esensi warna.

Rismanto yang kokoh dan teguh dalam pilihan realisnya menghadirkan lukisan alat-alat berat (bulldozer, back hoe, dan sejenisnya) seperti mengukuhkan kekukuhannya pada dunia seni lukis realis. Rismanto memanfaatkan motto Tiga A: Ajeg, Anteb, Anteng yang merupakan semboyan atau gambaran motivasi, semangat, dan tujuan industri gula di Jawa. Rismanto mengadopsi semboyan itu dan menerapkan pada dunia alat-alat berat sebagai pengeruk, pengaduk, dan pengangkut sumber daya alam yang tidak terbarukan.

Figure, 140 x 140 cm, AOC, 2018, karya Kuart Kuat-Foto-A.Sartono
Figure, 140 x 140 cm, AOC, 2018, karya Kuart Kuat-Foto-A.Sartono

Pada akhir pengantarnya Apriadi Ujiarso menyampaikan bahwa pencermatan diperlukan mengingat pada setiap karya memuat gagasan, penetapan strategi, teknik dan tujuan komposisional di mana proses menjadi lengkap saat lima perupa memahami pengertian “wasis ing sabarang kardi”, yaitu tingkatan tertinggi dalam tradisi lukisan Jawa di mana hal itu disebutkan dalam Babad Jaka Tingkir. Sejatinya artikulasi pencapaian tingkatan “wasis” kelima perupa itu telah diletakkan di dalam tajuk pameran ini.
(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here