Sejarah Tak Pernah Telanjang: Kostum, Film, dan Perubahan Sosial

0
249
Desain busana untuk Jan Pieterszoon Coen (Film Sultan Agung, Hanung Bramantyo, 2018) Karya Retno Ratih Damayanti-Foto-A.Sartono
Desain busana untuk Jan Pieterszoon Coen (Film Sultan Agung, Hanung Bramantyo, 2018) Karya Retno Ratih Damayanti-Foto-A.Sartono

“Ajining raga dumunung ana ing busana” (Nilai raga terletak pada (cara) berbusana), demikian bunyi salah satu peribahasa Jawa. Barangkali peribahasa ini sejalan dengan pameran kostum oleh Retno Ratih Damayanti yang dibingkai dengan tema “Sejarah Tak Pernah Telanjang”. Pameran ini diselenggarakan di Sangkring Art Project, Nitiprayan, Bantul mulai 10-24 Juli 2018. Hal tersebut mungkin sesuai dengan aforisme filsuf Marshal McLuhan (1911-1980) yang berbunyi, pakaian adalah kepanjangan kulit kita. Pakaian memang tidak hanya melindungi tubuh dari panas dan hujan, namun juga menunjukkan secara sosial siapa sesungguhnya diri kita. Demikian nukilan tulisan Budi Irawanto atas pameran ini.

Pakaian yang digunakan dalam pembuatan film atau seni pertunjukan, tidak bisa dipandang sebelah mata. Ia menduduki peran sentral untuk membangun imajinasi, ingatan, suasana, latar, dan nuansa yang hendak disajikan. Pada sisi ini desainer kostum dituntut memahami konteks zaman atau latar waktu yang dituntut untuk film atau seni pertunjukan tersebut. Film drama yang hanya menyajikan “pameran” kostum yang mewah tanpa melihat konteks latar waktu dan narasinya akan ditertawakan penonton. Kostum yang tidak selaras dengan konteks waktu hanya akan melahirkan anakronisme. Anakronisme yang demikian akan menggerus konstruksi naratif film/seni pertunjukan yang akhirnya juga akan menggerogoti kepercayaan penonton. Demikian pentingya posisi penata busana (desainer kostum), yang pada sisi lain di Indonesia justru kurang mendapatkan perhatian yang selayaknya.

Desain busana untuk anggota Sarekat Islam (Film Guru Bangsa Tjokroaminoto, Garin Nugroho, 2015), Karya Retno Ratih Damayanti-Foto-A.Sartono
Desain busana untuk anggota Sarekat Islam (Film Guru Bangsa Tjokroaminoto, Garin Nugroho, 2015), Karya Retno Ratih Damayanti-Foto-A.Sartono

Pada sisi lain Kris Budiman menyoroti perkembangan gaya berbusana dari peralihan abad XIX ke abad XX untuk mengantarkan pameran ini. Pada tulisannya yang berjudul Dasi Tjokroaminoto, Kebaya Kartini, dan Perubahan Sosial, Kris Budiman antara lain menyebutkan bahwa kemunculan busana (fashion) erat berkaitan dengan pertumbuhan kapitalisme perdagangan di Hindia Belanda. Busana menjadi penanda penting bagi budaya kolonial yang pada dasarnya adalah budaya urban yang kapitalistis. Pada zaman itulah busana modern (Barat), yang pada mulanya ditabukan oleh banyak orang secara berangsur-angsur mulai diadopsi oleh kalangan terbatas kaum terpelajar. Pergeseran dari kebaya dan sarung pada rok dan celana dapat mengungkapkan perubahan sosial pada periode sejarah penting yang pernah dilalui oleh masyarakat kolonial di Hindia Belanda.

Konten Terkait:  Menikmati Letupan Idealis Seni Preeet di Tembi
Desain busana untuk HOS Tjokroaminoto (Film Guru Bangsa Tjokroaminoto, Garin Nugroho, 2015), Karya Retno Ratih Damayanti-Foto-A.Sartono
Desain busana untuk HOS Tjokroaminoto (Film Guru Bangsa Tjokroaminoto, Garin Nugroho, 2015), Karya Retno Ratih Damayanti-Foto-A.Sartono

Popularitas busana Eropa (khususnya di negeri jajahan-Hindia Belanda) mulai tercapai pada peralihan abad XIX-XX. Akan tetapi sebelum itu, pengaruh busana itu mungkin telah terjadi sejak zaman Sultan Agung (awal abad XVII) atau Sunan Amangkurat I yang pakaiannya dirancang oleh orang Eropa. Pada sisi-sisi itu sesungguhnya telah terjadi hibridisasi gaya berbusana dimana hal itu secara rinci disebutkan dalam novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Pada novel itu Minke menyebutkan busana rancangan Tuan Moreno: kemeja dada-berenda, kain batik dengan ikat pinggang perak, blangkon bergaya paduan Jawa Timur dan Madura, sebilah keris, dasi kupu-kupu hitam, dan baju lasting hitam berbentuk jas pendek dengan cowak pada bagian pinggang. Oleh Pram gaya busana semacam itu menjadi penanda kelahiran zaman yang disebut modern.

Desain busana untuk Nyai (Film Nyai, Garin Nugroho, 2016), Karya Retno Ratih Damayanti-Foto-A.Sartono
Desain busana untuk Nyai (Film Nyai, Garin Nugroho, 2016), Karya Retno Ratih Damayanti-Foto-A.Sartono

Dalam perkembangan selanjutnya, pakaian wanita juga mengalami pembaratan terkunci di dalam wacana mode atau fashion. Perubahan, sebuah obsesi yang tiada habis-habisnya digeluti oleh dunia fashion, bahkan dapat dirunut semenjak Kartini pada akhir abad XIX yang masih mengenakan kebaya katun putih atau beludru hitam klasik, sebagaimana umumnya kaum perempuan ningrat Jawa pada zaman itu sampai dengan perkembangan yang paling kontemporer pada dekade awal abad digital ini.
(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here