Puisi dan Seni Rupa di Bentara Budaya Yogyakarta

0
185
Ana Ratri dan Yoyok
Ana Ratri dan Yoyok

Puisi dan seni rupa bertemu di Bentara Budaya Yogyakarta. Bukan puisi ditempelkan di dekat karya seni rupa, tetapi puisi mengisi acara pembukaan pameran seni rupa, yang diberi tajuk ‘Buka Tutup’, karya dua perupa Agus Nuryanto dan Iskandar, Sabtu, 14 Juli 2018 di Bentara Budaya, Kotabaru, Yogyakarta.

Dua puisi dibacakan oleh seorang penyair perempuan sekaligus pengajar di jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM, Novi Indrastuti nama penyair perempuan tersebut, yang memang sering membaca puisi di beberapa tempat di Yogya. Dua bukunya sudah terbit, dan dibuat dalam formula puisi-fotografi, yakni kolaborasi puisi dengan karya fotografi. Novi menulis puisi dan Harno Depe, fotografer menyajikan karya fotografi.

Ketika diberi tahu bahwa Novi Indrastuti akan diminta membaca puisi, maka diharapkan agar membawa buku puisi karyanya Novi meresponnya dengan mengatakan: “Di hape saya selalu tersedia puisi karya saya”

Dan ketika Novi dipanggil oleh pembawa acara untuk membaca puisi, dia memang sudah siap untuk membaca puisi karyanya. Puisi, sepertinya tak bisa dipisahkan dalam keseharian Novi. Dia memang tipikal perempuan puitik.

Rupanya, dalam pembukaan pameran seni rupa karya Agus Nuryanto dan Iskandar tidak hanya disajikan pembacan puisi, tetapi juga ditampilkan lagu puisi dari Ana Ratri dan Nyoto Yoyok. Ana mengalunkan lagu dan Yoyok memetik gitar.

Ana dan Yoyok, demikian panggilan keduanya, sering menggunakan nama kelompoknya ‘Ujug-ujug Musik’ ini kalau formasi personelnya lengkap, ada gesekan biola, dan petikan satu gitar lagi, tetapi kalau hanya berdia Ana dan Yoyok, nama yang dipakai ya Ana Ratri dan Yoyok, tidak lebih, tidak kurang.

Novi Indrastuti
Novi Indrastuti

Ana Ratri mengalunkan 4 lagu puisi untuk mengisi pembukaan pameran lukisan, dan penampilan Ana dan Yoyok merupakan interaksi dari tiga karya seni, ialah puisi, musik dan seni rupa. Ketiganya sebagai bentuk dari apa yang disebut sebagai ekspresi budaya.

Ana Ratri dan Yoyok memang sering pentas mengisi acara kesenian di Yogya, atau diundang untuk menggarap puisi menjadi lagu di Jakarta misalnya. Keduanya sudah berulangkali tampil di Sastra Bulan Purnama, termasuk dengan kelompok musiknya yang bernama Ujug-ujug Musik.

“Serba mendadak, saya dikontak Jumat malam untuk mengisi pembukaan pameran karya Agus Nuryanto dan Iskandar. Karena ada sejumlah puisi yang sudah sering saya pentaskan, maka saya bersedia mengisi acara pembukaan pameran ini,” kata Ana Ratri mengawali.

Sebut saja, Ana Ratri dan Yoyok sudah sering mnggarap puisi beberapa penyair mejadi lagu, termasuk puisi karya Ana Ratri sendiri dibuat menjadi lagu. Malam itu, Ana Ratri juga mengalunkan satu puisi karya perempuan penyair Novi Indrastuti.

“Kebetulan bu Novi Indrastuti ikut mengisi membaca puisi, dan saya akan membawakan lagu puisi karya bu Novi, tetapi bukan yang tadi dibacakan,” ujar Ana Ratri.

Puisi dan seni rupa, sesungguhnya selalu saling mengisi. Chairil Anwar misalnya, pernah menggoreskan kalimat pada karya seni rupa. Pertemuan puisi dan seni rupa, seperti pada pembukaan pameran karya Agus Nuryanto dan Iskandar, hanya melanjutkan interaksi masa lalu dari dua jenis kesenian yang berbeda, yang hari-hari ini, nampak putus, atau terasa tidak lagi akrab seperti dulu. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here