Puisi Cunong Nunuk Suraja

0
37

Bulan Menari

hari rebah membelah tanah menyisakan jejak cacing kemarau
subuh retak memar menggubah langgam dzikir memazmurkan cuaca
serangga bangkit nyanyikan mazmur dinihari membangunkan cahaya mentari
jejak cacing hilang terekam gerimis kepagian terlinndas lalu lalang imaji
pembunuhan berlanjut tuntas di batas grafiti urban mendarahkan warna langit

kubungkus bongkahan awan dan hujan dalam kardus kado pelangi sunyi
dihantarkan pikulan arsitektur gerimis tajam dikemas sepatu kaca tokoh peri
mitos peri meranggas di tubuh pohon salju bergelantungan lonceng cinta
terimalah dengan seksama sepihan usia dipahat dinding metafora

kota kelahiranku lusuh kusam mengidap flu parah
lelehan ingusnya menyemburkan grafiti warna senja
penduduknya bergelung terpapar kusta bahasa program
terserimpung suluran serat optik menjerat waktu jeda
ribuan ruang terziarahi serapah penyair renta dimakan encok

tertancap kuat tenaga kuda duabelas melaju jalan
menerjang gerumbul perdu di simpang kota

laut alam malapetaka ancaman melesat sesat mata angin berputar pada puisi terikat
jangkar diksi tali layar metafora pada pantai antologi sabda penyihir nyinyir

ulat geliat wajah pasi mimpi pelangi melintasi musim membeku kemarau
dilipat gebalau kacau pemanasan atmosfir bumi retak tertembak penjuru retak
berkendali memporak-porandakan jejak petani membenamkan benih

talu genderang hujan bulan Juni menarikan imaji penyair mahir mengutungi
tentakel gurita birahi kuasa koyakan media telanjang bulan purnama tergusur
pasang laut perbani membusukkan semangat pancaroba

latu menerbangkan asa perkawinan masa berat sengsara persetubuhan

Bogor-2018

Bulan Melengkung

di kolam tenang
katak kecil berenang-renang
di langit gerimis membuat sarang
angin bergulung di pasir pantai

di kolam petang sepasang capung bercinta
kecipak air mengiring deru syahwatnya
langit merah membara membakar asmara
bayangan di kolam memanjang hinngga bagian terdalam

bulan bulat mengintip cakrawala
di tepi kolam berkasih-kasihan sepasang burung malam
irama sunyi malam makin membenamkan cuaca
larut dalam kegalauan punggu yang menghitung cahaya bulan

malam menggenapkan hitungan tasbihnya
peronda mencoa mengetukkan penannda jam
dalam senyap mata merapat menawar mimpi berlarat

lengkung langit gagal menciptakan puisi pelangi

Bogor-2018

Bulan Patah Arang

pertikaian dan perhelatan larut
sepasang tangan bersilangan menutup percakapan
sesaat senyap dan sunyi bertarung mimpi

perjamuan dan pesta diunggah
dalam pecik lampu warna-warni
menyelipkan belati kianat janji
di ujung jalan sepi ditikamnya

kematian tanpa sakti
bulan menangis di sudut cakrawala
pertikaian sia-sia dan pembunuhan tak berharga
mahkota tumbang dan negeri kehilanngan asa
ribuan burung migran meneriakkan caci maki sumpah serapah!

Konten Terkait:  Bulan Purnama Edisi ke-77, Jumat, 2 Februari 2018, menampilkan "Tiga Buku Tiga Penulis" karya Noorca Massardi, Ryani N Massardi, dan Jodhi Yudono.

Bogor 2018

Bulan Tersalib

serentak menumbuhkan jarak
untuk berseberangan dalam perjudian mencari pemenang
padahal sebebarnya kita cuma bersorak-sorai
tanpa kemampuan taktis memenangkan!

bola liar di lapangan rumput palsu
diperebutkan empatpuluh lima menit kali dua
jika perlu diperpanjang dua kali limabelas menit
sampai pada peruluran permainan sudden death
saat satu gol tercipta masuk gawang kiper

Bogor-2018

Rumah Rembulan

Maklum makin parah setelah singgah di kedai kopi jika makin parah singgah ke warung nasi mencomot makanan yang tersedia dengan tanpa ragu dompet terbelah hutang. Hujan yang tak datang lebih dari sepekan mengoyak tanah berlubang menaburkan debu. Hujan jadi harapan. Pohonan sudah lusuh terdera angin penuh butiran debu. Bulan puisi setengah mengayun langkah cakrawala jauh.

Lelaki itu mengaku penyair di kepala botaknya untuk menandai waktu menelikung segala gasingan sejarah yang semula membelah-belah keberpihakan. Puisinya memang menatap ke cakrawala kuasa ideologi yang menunjukkan penguasa negara arah mata angin simbol perjuangan tak kunjung padam. Layaknya sastrawan pujangga negeri yang tak pernah luput puja-puji kebijaksanaan penguasa mengkota memajukan bangsa. Bangsa yang mempercayakan para durjana penguasa gerombolan yang mengacungkan bayonet ideologi kelompok sajak bagi kepentingan gerombolannya. Lelaki itu bukan lelakinya masih mengorok menyisakan ngilu seusai pergumulan dalam debat kritik sastra berkelas taring kuda dan sekarang dinantinya pintu imaji diketuk petugas hotel yang tentunya ditemani polisi dan paramedis untuk memastikan kematian tokoh fiktif dalam karya yang selesai dibantai kritiknya. Kritik yang menggunakan baju liyan yang bercorak menyerang tanpa sungkan-sungkan. Mendengar cerita sehari-hari mendengar puisi yang belum bunyi terkunci diksi dan metafora buta juga majas-majas liyan yang tersesat pada teori klasik linguistik yang senantiasa bicara fonem, morfem, suprasegmental juga intertekstualitas yang bagai keong merah merayapi dinding kolam menempelkan telur-telurnya hingga terhangati matahari.

Kritik membuat marah. Membuat gundah dan kacau semua rencana yang tersusun padat. Pagi juga mulai menghidangkan kritikan pedas serasa makanan cepat saji di warung nasi terbakar matahari. Gorengan suhu menciptakan gejolak kopi panas tanpa gula cukup dan creamer yang wangi.

Bogor, 2018

Cunong Nunuk Suraja lahir di Yogyakarta, 9 Oktober 1951 pensiunan pengajar yang sekarang tinggal di Bogor. Buku puisi tunggalnya “My Beloved Nite” 2016 email [email protected]

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here