Pameran Wirid: Dunia Spiritualitas Nasirun

0
146
Bercermin (berdoa), OOC, 145 cm x 250 cm, 2018, karya Nasirun-Foto-A.Sartono
Bercermin (berdoa), OOC, 145 cm x 250 cm, 2018, karya Nasirun-Foto-A.Sartono

Dua puluh sembilan karya lukis dipamerkan Nasirun di Natan Art Space Jl Mondorakan Kotagede Yogyakarta. Pameran kali ini merupakan buah permenungan atau kontemplasinya selama bulan puasa. Semua karya itu dikerjakan Nasirun seusai shalat tarawih selama bulan suci tersebut. Jadi, begitu selesai menjalani ibadah shalat tarawih Nasirun kemudian berkonstrasi ke studionya dan mulai menciptakan karya-karyanya.

Dalam setiap malam seusai tarawih itu Nasirun menciptakan satu karya. Jadi, dalam 29 malam selama bulan puasa itu Nasirun tidak tidur. Pameran karya Nasirun dengan tema Wirid ini dibuka secara resmi oleh Dr Nasir Tamara MA MSc PhD selaku pemilik Dalem Natan pada tanggal 29 Juni 2019. Pameran itu sendiri dilaksanakan hingga tanggal 22 Juli 2018.

Bulan di Atas Rumah, OOC, 60 x 80 cm, karya Nasirun-Foto-A.Sartono
Bulan di Atas Rumah, OOC, 60 x 80 cm, karya Nasirun-Foto-A.Sartono

Apa yang dijalani Nasirun selama 29 malam tidak tidur itu memang sesuatu yang berat, namun Nasirun mampu menjalaninya dengan sukses dan tidak sakit. Nasirun sendiri tidak tahu bagaimana ia bisa memiliki energi selama 29 malam yang menghasilkan 29 karya dengan berbagai tema namun dalam satu bangunan tema: Wirid.

Pada usia lebih dari setengah abad ini tampaknya Nasirun banyak merenungkan atau berfikir tentang makna kehidupan yang sesungguhnya. Nasirun merasa bahwa telah terjadi perubahan yang begitu cepat dan terlalu besar dalam dunia ini dan dia melihat bahwa cara mengikutinya sulit, namun efektif jika istiqomah dengan doa. Ketika bulan Ramadhan tiba ia menyambut kesempatan itu dengan doa dan berdzikir, wirid sepanjang bulan suci yang dituangkannya pada kanvas tanpa henti.

Bulan Seribu Bulan, OOC, 140 cm x 200 cm, karya Nasirun-Foto-A.Sartono
Bulan Seribu Bulan, OOC, 140 cm x 200 cm, karya Nasirun-Foto-A.Sartono

Karya-karyanya kali ini tampak penuh kejutan dengan warna-warna yang cerah, warna hijau seperti dominan dengan berbagai nuansa dan variasi sehingga istrinya sempat berseloroh, “Seperti perupa kekurangan bahan.” Pada pameran kali ini pula seluruh karya Nasirun dibuat menggunakan cat minyak. Bahkan beberapa karya yang dipajang di Natan Art Space tampak belum kering. Padahal dulu Nasirun lebih sering menggunakan cat akrilik.

Rindu Romadhon, OOC, 70 x 90 cm, 2018, karya Nasirun-Foto-A.Sartono
Rindu Romadhon, OOC, 70 x 90 cm, 2018, karya Nasirun-Foto-A.Sartono

Pada bulan Ramadhan tahun 2018 ini Nasirun bekerja sedemikian cepat sehingga mencengangkan banyak sekali seniman. Nasirun berkarya ditemani suara televisi yang tidak ditontonnya. Sesekali untuk memecah rutinitas ia menelepon teman-temannya, mengundang mereka datang dan mengobrol sambil menunjukkan karya-karyanya.

“Ya, mau apa lagi, di bulan puasa saya tidak bisa mainan HP seperti orang lain. Karena itu saya melukis, melukis, dan melukis,” kata Nasirun seperti yang dituliskan dalam pengantar pameran oleh Nasir Tamara.

Apa yang dijalani Nasirun dalam berkarya sehingga menghasilkan 29 karya di Ramadhan itu oleh Nasir Tamara disebutnya sebagai Wirid On Canvas atau boleh juga disebut-bila menggunakan istilah dari Nasirun sendiri – latihan wirid memakai cara Gundono dan Iwan Fals sambil menembang gubahan Sunan Kalijaga di mana bentuk, garis, dan warna ia tumpahkan dalam melukis dengan berdoa dan harapan semoga semua orang senang.

Wirid di Tata Surya, OOC, 70,5 x 90 cm, 2018, karya Nasirun-Foto-A.Sartono
Wirid di Tata Surya, OOC, 70,5 x 90 cm, 2018, karya Nasirun-Foto-A.Sartono

Pengantar pameran oleh Nasir Tamara ini juga mengulas ke-29 karya Nasirun, satu per satu meskipun dalam ulasan yang singkat. Namun ulasan itu menjadi jendela dan pintu masuk yang jelas untuk “memasuki” dunia spiritual Nasirun melalui karyanya. Contohnya pada Lukisan ke-29: Ana Kidung Rumeksa Ing Bengi. Lukisan ini menjadi seperti melukis ulang kenangan akan kidung mantra karya Sunan Kalijaga yang sering dilantunkan untuk menjaga diri dari pengaruh roh-roh jahat atau untuk menolak bala. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here