Puisi Yanu Faoji

0
51

Menggali Luka Lama

Aku menemukan api amarah di gambang yang kau ketuk
Bunyinya sumbang di apit telinga yang tuli
Hanya tubuh terbalut selendang yang dapat mengartikan

Dia menari di antara resah jemari yang lentik
Pinggulnya mengibas cemas yang bersarang di dada

Air mata yang bersandar pada gong : pecah
Mengalir pada kendang yang bertalun di jejak-jejak yang kau tapaki

Sedangkan seruling melengking
Menerobos kerongkongan panjang yang bercabang
Menjerit dan menggali luka lama

Juni 2018

Percakapan Roh Dan Jiwa

1/
Di suatu hari, aku menatapi genang telaga
Aku menemukan wajah yang serupa denganku
Telanjang, dan kami saling tatap
Seperti sodara lama tak pernah jumpa

2/
Di telaga, teratai yang mengambang menyemai tanya
Kepada katak yang menjerit memecah sunyi
Sedangkan aku, terjebak dalam tempurung cemas
Jiwaku hanya senyum, menyembunyikan pecah tawa
Di antara capit kepiting yang beringsut menyamping

3/
Kesedihan membuncah di cekung mata
Kurebahkan kepala pada dadanya
Tak kutemukan lagi, detak waktu melaju

Juni 2018

Bayangan Yang Enggan Mengecup Barat

1/
Bayangan itu menjuntai
Berpaling dari raga yang hilang
Diam-diam senyum malu
Menjauh dari raga yang penuh dosa

2/
Senja bersolek di ufuk barat
Ranum di pipi dan bibir pohon perawan itu
Dahan tertiup angin, ingin lepas dari kepala batangnya

3/
Lihatlah bayang-bayangmu
Tenang, telanjang penuh tunduk
Tabah dan menjauh dari barat
Yang senantiasa mengecup ubun-ubunnya

4/
Raga ber-ingsut menuju barat
Bayang-bayang tetap menoleh, menolak baratmu

Juni 2018

Meja Kecil Yang Menangos

Potret wajah yang menggantung pada dinding sunyi
Menghujam denyut nadi
Warnanya pucat, dengan kontras goresan air mata

Di muka jendela yang malu-malu, sembunyi dalam kelambu
Tersibak dalam tumpukan album ingat
Aku tersesat, di wajah-wajah baru yang mengecupku

Kau menaruh sajak-sajak pada senyum palsumu
Isinya petatah-petitih tentang hati yang merintih

Aku menaruh ingat pada sekuntum mawar
Yang disusun di meja kenangan kecil itu

Di sunyi yang kosong
Aku akan memeluk kenangan itu

Juni 201

Pelukis Tubuh

Lelaki itu telah mencoret seluruh tubuh utuhnya
Tenggelam pada telaga penyesalan yang dalam
Menggenggam sampan yang tak lagi sempurna

Dia melihat teratai yang bermekaran : putih
Air mata membungkam teriakan cemas
Riak-riak menertawai tubuhnya yang cemong

Dia bergumam di palung hati :
Adakah manusia yang cemong
Seperti hamba, ya Tuhan
Melukis warna pada orok-orok yang suci

Kerongkongannya sobek ditikam sesalnya
Nafasnya terbang diambang teratai yang tenang
Hempas dan tak bersuara lagi

Juni 2018

Yanu Faoji, lahir di Banyumas, Jawa Tengah, 13 Januari 1995, di Desa Samudra, Kecamatan Gumelar. Tulisannya dimuat di beberapa media cetak dan online. Aktif di Bengkel Seni PERRUAS. Tulisannya dimuat di beberapa antologi bersama : Antologi Puisi ASEAN Doa Seribu Bulan, Antologi Nasional Pematang Siantar, Tergabung di Lumbung Puisi Sastrawan Jilid VI, Antologi Puisi Stingghil Sampang, Antologi Puisi Cicalengka. FB : yanu faoji, Instagram : @yanufaoji, Alamat email : [email protected] atau [email protected]
No WA : 08811851733, No Hp : 085871551701

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here