Guna memelihara, menumbuhkan, mengembangan, dan melestarikan kegiatan kesenian di Kabupaten Bantul, maka Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul menyelenggarakan salah satu kegiatan yang dinamakan Bantul Art to Day. Kegiatan ini dilaksanakan mulai tanggal 6-8 Juli 2018. Kegiatan meliputi semua jenis kesenian. Baik Seni tradisi, modern, maupun kontemporer. Baik itu seni pertunjukan maupun seni rupa. Kegiatan tersebut diselenggarakan di Tembi Rumah Budaya, Sewon, Bantul, Yogyakarta. Ada pun jenis-jenis kesenian yang ditampilkan terdiri dari Karawitan siswa-siswi SD Grogol Bambanglipuro, Tari Matirta, Obor Fire Dance, 16 seniman perupa, Lukis Mural, dan Bee Coustic.

Sajian Bee Caustic dalam Bantul Art to Day-Foto-A.Sartono
Sajian Bee Caustic dalam Bantul Art to Day-Foto-A.Sartono

Gagasan untuk menampilkan kreasi seni oleh seniman Kabupaten Bantul dengan titik tekan pada pada generasi muda di kisaran usia 20-an tahun ke bawah menjadi tanda kepercayaan dan keyakinan bahwa anak-anak muda mampu dan bahkan menjadi tulang punggung bagi tumbuh kembang kesenian di wilayah ini. Jagad seni adalah ruang tak terbatas untuk berekspresi dan bereksplorasi. Dikejar pun tidak akan pernah tercapai dan menuntaskan hasrat karena jagad seni sesungguhnya memang jagad yang tidak punya batas. Pada sisi lain apa yang disebut kesenian juga akan berhenti atau mandheg jika masyarakat pendukungnya juga berhenti menghidupi.

Sajian karawitan anak dari SD Grogol Bambanglipuro-Foto-A.Sartono
Sajian karawitan anak dari SD Grogol Bambanglipuro-Foto-A.Sartono

Bantul Art to Day merupakan acara oleh Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul yang dibangun berdasarkan kesadaran akan pentingnya membuka diri, mewadahi, menampilkan, sekaligus mengkaji dan menyodorkan kembali karya kepada publik. Pada ranah ini baik secara langsung maupun tidak publik akan diajak untuk mengapresiasai karya seni karya anak-anak muda Bantul. Daripadanya diharapkan muncul interaksi, dialog seni yang intens dan kemudian menumbuhkan sikap saling menumbuhkembangkan antara satu dengan yang lainnya. Apresiasi, dialog, akan dapat menghasilkan formulasi-formulasi, gagasan, dan kreasi baru di bidang seni yang daripadanya apa yang disebut sebagai tumbuh-kembang seni di Kabupaten Bantul itu sungguh-sungguh tumbuh mekar dinamis.

Sajian mural dalam Bantul Art to Day-Foto-A.Sartono
Sajian mural dalam Bantul Art to Day-Foto-A.Sartono

Bantul Art to Day di Pendapa Tembi dibuka dengan suguhan karawitan dan panembrama oleh siswa-siswi SD Grogol, Bambanglipuro. Pada sajian ini kelihatan bahwa anak-anak SD tersebut telah menyiapkan tampilan mereka dengan baik. Pada galibnya karawitan adalah semacam orkestra. Tidak bisa main solo. Hakikatnya adalah kebersamaan dalam harmoni dan porsi yang sesuai dengan tuntutan aransemennya. Ketukan menentukan, namun kepekaan rasa menyitir bunyi sangat dominan.

Konten Terkait:  Foto Rumah Bupati Bandung pada Tahun 1870-an

Sajian seni mural sebagai lanjutan dari sajian karawitan yang diiringi dengan musik oleh Bee Coustic menjadi suguhan yang mungkin tidak biasa bagi awam. Mural dengan gambar atau lukisan realis tentu bukan pekerjaan mudah mengingat material cat yang digunakan disemprotkan langsung dari tube atau botolnya. Garis dan gradasi warga dengan menggunakan teknik semprot langsung membutuhkan keterampilan tersendiri. Bee Coustic yang menyusup masuk memberikan sentuhan dan bangunan suasana juga dituntut untuk peka dan tanggap. Pemilihan jenis musik dan lagu pada sisi-sisi ini menjadi penting.

Sajian Obor Fire Dance dalam Bantul Art to Day di Tembi Rumah Budaya-Foto-A.Sartono
Sajian Obor Fire Dance dalam Bantul Art to Day di Tembi Rumah Budaya-Foto-A.Sartono

Matirta sebagai bentuk komposisi tari modern atau kontemporer disuguhkan memikat dalam komposisi tari dan pilihan bentuk gerak. Gerak bukan sembarang gerak, namun adalah gerak yang dibentuk dan dilatih untuk mengekspresikan suara jiwa. Gerak yang penuh makna di samping tentu menekankan pada esensi estetisnya.

Obor Fire Dance sebagai pamungkas penyajian menjadi puncak seluruh sajian. Permainan tari dengan menggunakan api sebagai property utama menuntut keterampilan yang prima. Selalu ada ancaman pada kecelakaan karena terbakar. Baik itu bagi penarinya sendiri maupun bagi penontonnya. Komposisi tari dan keterampilan individual tidak bisa diabaikan. Pun juga ketika tari dipungkasi dengan tarian yang menggunakan petasan. Alhasil sajian Bantul Art to Day yang mencoba menawarkan sajian jenis seni tradisi hingga kontemporer menampakkan keberhasilannya. Usai menikmati seni pertunjukan yang penuh dengan tegangan-tegangan publik diarahkan untuk menikmati pameran senirupa oleh 16 perupa muda dengan berbagai kreasinya. Di sini publik dapat “mat-matan” mengapresiasi karya rupa yang lebih menuntut ketenangan.
(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here