Kaum Indo dan Pandangannya tentang Nasionalisme

0
15

Kedatangan bangsa Belanda (dan Eropa lainnya) di wilayah Nusantara membawa berbagai akibat. Salah satunya adalah munculnya keturunan campuran antara orang Eropa dengan orang pribumi/asli atau timur asing lainnya. Secara umum keturunan ini disebut kaum Indo. Selain itu pertemuan antara budaya Eropa dan budaya setempat menimbulkan budaya baru yang disebut kebudayaan Indis, yang terdapat pada bentuk bangunan, pakaian, makanan dan juga varian bahasa. Dalam sejarah kolonialisme proses pembentukan masyarakat dan kebudayaan Indis ini berlangsung dan hanya dimungkinkan dalam kerangka hubungan antara daerah kolonial dengan negara induk Eropa. Tetapi di sisi lain Indis telah menegaskan sebuah keterputusan dengan dunia Eropa (Barat).

Pada masa penjajahan Belanda, masyarakat kolonial Hindia Belanda digolongkan menjadi tiga yaitu Eropa, Timur Asing dan Pribumi/asli. Dalam masyarakat tersebut, orang Indo menempati posisi yang unik. Masyarakat Indo Eropa pada saat itu dapat dikategorikan dalam empat lapisan. Pertama, kelompok Indo miskin atau Indo kecil, yang dianggap tidak memiliki pekerjaan layak menurut ukuran bangsa Eropa dan hidup berbaur dengan penduduk asli. Kedua, orang Indo yang bekerja sebagai pegawai tingkat rendah misalnya di lingkungan perkebunan atau industri swasta.

Ketiga, kelompok menengah yang rata-rata berpendidikan setingkat Hogere Burgerschool (HBS) yaitu sekolah menengah yang didirikan bagi calon ambtenaar oleh pemerintah Hindia Belanda. Keempat, intelektual yaitu mereka yang mencapai pendidikan universitas dengan kata lain mampu bersekolah ke Negeri Belanda. Kategori keempat inilah yang kemudian tampil untuk memperjuangkan emansipasi kaum Indo di antara kelompok penduduk yang menyandang status sebagai orang Eropa.

Golongan Indo sebenarnya adalah golongan yang “terombang-ambing”, di kalangan kulit putih tidak diakui seratus persen (mendapat diskriminasi), tetapi di kalangan penduduk pribumi walau minoritas merasa lebih tinggi. Walau membaur tetap terasa ada sekat-sekat tertentu. Tidak heran kalau kemudian muncul usaha-usaha agar mendapat pengakuan dan kedudukan yang sama dalam kalangan kulit putih. Muncullah semangat nasionalisme di kalangan Indo.

Sampai sekitar tahun 1908-1910 wacana gerakan kaum Indo masih bertahan pada upaya-upaya emansipasi yang bersifat moderat. Hal ini bertolak dari pengertian akan identitas Indis sebagai bagian dari keeropaan dan percaya bahwa suatu ikatan dengan negara induk diperlukan untuk mempertahankan posisi kaum Indo di tengah-tengah orang-orang Indonesia yang berjuang demi tanah airnya. Golongan ini berjuang hanya untuk kepentingan kaum Indo. Salah satu tokohnya adalah Frans Hendrik Karel Zaalberg (1873-1928).

Setelah tahun-tahun tersebut terjadi perubahan orientasi. Salah satu tokoh yang gagasannya mempunyai pengaruh besar adalah Ernest Douwes Dekker. Baginya kelompok Indo atau Indis diidentifikasikan sebagai orang ‘Timur’ sehingga sudah selayaknya jika kaum Indo bergabung dengan bumiputera. Douwes Dekker anti terhadap tatanan kolonial. Secara tegas ia mengatakan bahwa tujuan akhir dari setiap nasionalis adalah kemerdekaan. Gagasan radikal ini terutama didukung oleh sebagian besar lapisan bawah masyarakat Indo Eropa. Perjuangan tidak hanya ditujukan untuk kaum Indo tetapi untuk semua kalangan dan lapisan.

Judul : Yang Ter(di)lupakan. Kaum Indo dan Benih Nasionalisme Indonesia
Penulis : Pradipto Niwandhono
Penerbit : Djaman Baroe, 2010, Yogyakarta
Bahasa : Indonesia
Jumlah halaman : 221

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here