Selembar koran yang telah menjadi bungkus barang atau makanan hari ini pada sepuluh atau lima puluh tahun mendatang ternyata bisa memiliki arti sangat penting karena informasinya. Pada sisi inilah letak pentingnya bukti sejarah. Tulisan pada koran atau media cetak lain bisa menjadi bukti tentang potret kehidupan di masa lalu. Hal ini dapat menjadi salah satu sarana refleksi kehidupan masa kini untuk melangkah pada masa depan yang jauh lebih baik. Pendeknya, koran dan majalah tempo dulu dapat memberikan pengetahuan yang sangat berharga dalam segala hal. Tidak aneh pula jika Presiden RI pertama, Ir Soekarno terkenal dengan slogannya “Jasmerah” (jangan sekali-sekali melupakan sejarah).

Koran Surabaja Post terbitan Sabtu 10 Juni 1967-Foto-A.Sartono
Koran Surabaja Post terbitan Sabtu 10 Juni 1967-Foto-A.Sartono

Berdasarkan itu pula Bentara Budaya Yogyakarta melakukan pameran koran dan majalah kuno dengan tema Titi Mongso. Selain itu, pameran ini diadakan mengingat pentingnya peran koran/majalah dalam kehidupan kita. Apalagi zaman sekarang ini banyak koran dan majalah yang terpaksa gulung tikar karena semakin majunya teknologi digitalisasi pada semua lini kehidupan. Hanya tinggal sebagian dari masyarakat Indonesia yang masih membaca koran atau majalah. Sedangkam kaum muda umumnya lebih memilih sosial media untuk mendapatkan berita.

Koran Djogdja Bode terbitan 9 Juni 1938-Foto-A.Sartono
Koran Djogdja Bode terbitan 9 Juni 1938-Foto-A.Sartono

Istilah titi mongso dapat dimaknai sebagai waktu, saat, atau periode. Pameran ini mengambil materi dari koran-koran dan majalah yang terbit dalam kurun seratus tahun, mulai 1871-1972. Pelaksanaan pameran yang dibuka secara resmi pada hari Selasa malam, 3 Juli 2018 oleh Seniman Budi Ubrux dan dimeriahkan dengan performing Perempuan Berkebaya Jogja serta musik Host Band ini juga bertepatan dengan ulang tahun Direktur Bentara Budaya, Frans Sartono. Pameran diselenggarakan mulai tanggal 3-11 Juli 2018.

Pembukaan Pameran Titi Mongso di Bentara Budaya Yogyakarta-Foto-A.Sartono
Pembukaan Pameran Titi Mongso di Bentara Budaya Yogyakarta-Foto-A.Sartono

Tidak hanya berita, koran dan majalah juga memuat foto-foto tokoh, peristiwa, pemandangan alam, teknologi baru, kejadian perang, kemanusiaan, dan masih banyak lagi. Jika melihat foto yang tercetak di koran/majalah dengan caption-nya, maka foto tersebut menjadi lebih menarik perhatian daripada berita-berita di koran itu, kecuali bagian headline. Iklan juga menarik perhatian. Banyaknya iklan juga menandakan banyaknya uang mengalir ke koran/majalah tersebut.

Konten Terkait:  Taman Indonesia Kaya di Jawa Tengah Resmi Dibuka
Majalah-majalah kuno yang dipamerkan dalam Titi Mongso di Bentara Budaya Yogyakarta-Foto-A.Sartono
Majalah-majalah kuno yang dipamerkan dalam Titi Mongso di Bentara Budaya Yogyakarta-Foto-A.Sartono

Perwajahan atau desain grafis pada koran/majalah tempo dulu ternyata bisa menjadi sebuah pembelajaran tentang seni grafis yang menarik, bagaimana dengan keterbatasan alat cetak yang masih menggunakan handpress dan teknologi yang sederhana bisa menghasilkan cetakan yang terhitung bagus, gambar-gambar yang dibuat dengan sketsa, yang disusun kolom per kolom dalam papan cetak. Semuanya itu terjadi sebelum ditemukannya mesin cetak elektrik pada tahun 1870-an.

Pameran ini merupakan proyek bersama yang dimotori oleh Bentara Budaya Yogyakarta dengan menggandeng Komunitas Literasi dari Colomadu, Surakarta, pimpinan Bandung Mawardi. Selain itu ada pula pecinta koran dan majalah tempo dulu yang dilibatkan dalam pameran ini yakni Haris K dari Magelang, Yan Arista, Nasirun, dan Weza dari Yogyakarta. Demikian seperti yang disampaikan Hermanu selaku kurator Bentara Budaya Yogyakarta.

Majalah Djojobojo terbit 2 x sebulan, terbitan tahun ke 2, 15 Desember 1946-Foto-A.Sartono
Majalah Djojobojo terbit 2 x sebulan, terbitan tahun ke 2, 15 Desember 1946-Foto-A.Sartono

Katalog pameran ini juga dilengkapi dengan tulisan panjang dari E.F.E. Douwes Dekker selaku Acting Editor Bataviaasch Nieuwsblad tentang kelahiran, pertumbuhan, dan perkembangan jurnalisme di Hindia Belanda. Selain menuliskan perjalanan lahir-tumbuh-kembangnya, Douwes Dekker juga menuliskan watak isi dari media yang ada di Hindia Belanda waktu itu. Salah satu kalimat yang dituliskan Douwes Dekker mengenai hal itu berbunyi, Koran Melayu tertua adalah Bintang Soerabaja, didirikan tahun 1861. Ini adalah organ yang selalu menentang pemerintah. Di bawah manajemen Mr. Courant, makalah ini memberi jalannya dan memiliki beberapa pengaruh di antara orang Cina dari Partai Modern di Jawa Timur. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here