Di balik suksesnya pertunjukan teater, tentu saja tidak lepas dari semua peran yang terlibat. Salah satunya peran musik yang merupakan ornamen penting dalam menghidupkan suasana pertunjukan. Fero Aldiansyah Stefanus, komposer muda berbakat kelahiran 28 Maret 1988 ini merupakan tokoh di balik layar yang menjadi penata musik pertunjukan Teater Koma sejak 2009.

Teater Koma baru saja menggelar pertunjukan bertajuk “Gemintang” yang berlangsung sejak tanggal 29 juni sampai dengan 8 juli 2018 di Graha Bhakti Budaya, Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Pertunjukan tersebut mengusung tema imajinasi tanpa batas, cerita yang mengisahkan Arjuna, seorang astronom yang mengharap cinta Sumbadra yang berasal dari planet Ssumvitphphpah, berjarak 12 miliar tahun bumi.

Komposer yang biasa disapa Fero ini, membuat musik pertunjukan tersebut pun sesuai dengan tema. Ia berusaha membuat musik yang sangat sederhana. “Justru karena temanya imajinasi tanpa batas, aku membuat musiknya sesederhana mungkin, banyak sekali pengulangan. Lagunya tidak aneh-aneh, sederhana dan biarkan penonton yang berimajinasi,” kata Fero kepada Tembi di Galeri Indonesia Kaya beberapa waktu lalu.

Fero menceritakan kesulitan yang dialami dalam membuat musik dalam pertunjukan Teater Koma kali ini. Ia bercerita pertunjukan kali ini berbeda dengan pertunjukan-pertunjukan sebelumnya, ia dibebaskan menggarap musik dan tidak diarahkan spesifik di dalam naskah. “Di naskah sendiri di setiap bagian tidak ada arahan yang spesifik dan dibebaskan menggarap musik. Justru itu yang menjadi lebih sulit, karena tentu saja, kalau kita diarahkan akan menjadi mudah, ” jelas Fero.

Musik tersebut dimainkan secara live oleh 7 musisi dengan masing-masing musisi memainkan beberapa instrumen musik akustik dan elektrik. Fero mengaku inspirasi membuat musik tersebut tidak lepas dari naskah dan melihat latihan, karena hal tersebutlah yang memunculkan imajinasi. “Di Teater Koma, tidak pernah menggarap musik terpisah dari latihan,” kata Fero. Ia juga mengaku, proses membuat musik sama seperti jadwal latihan teater yang sudah berlangsung sejak Februari hingga akhir Mei 2018. Namun di balik proses yang sulit, musik menjadi organ penting dalam menghidupakan suasana pertunjukan tersebut yang bisa dinikmati menjadi satau kesatuan dalam pertunjukan.

Konten Terkait:  Jogedan Selasa Legen: Menghidupi Tari Klasik Yogyakarta

Selain menjadi penata musik Teater Koma, kegiatan pemuda lulusan Konservatori Musik Universitas Pelita Harapan ini sehari-hari adalah mengajar dan belajar. “Jika dulu bekerja untuk orang lain, saat ini bekerja untuk diri sendiri dengan mengajar aransemen dan komposisi di rumah,” cerita Fero. Ia mengaku, setelah lulus dari UPH belum melanjutkan pendidikan secara akademik tetapi ia tidak berhenti belajar. “Kalau belajar tidak harus sekolah, kalau sekolah belum tentu belajar,” kata Fero.

Fero juga mengaku, mendapatkan beasiswa dari Erasmus Huis (Pusat kebudayaan Belanda di Jakarta) sejak tahun 2014. Dari beasiswa tersebut, Erasmus Huis mempercayakan Fero sebagai komposer dan music director di berbagai kesempatan baik di dalam negeri maupun mancanegara.

Seperti kebanyakan orang pada umumnya, Fero mengaku menyukai musik-musik ringan seperti yang dibawakan oleh David Foster. Selain musik, ia senang menggambar dan fotografi. Mimpi yang belum tercapai, Ia ingin memiliki gedung pertunjukan sendiri, karena bagi Fero hal tersebut akan mempermudahkan segala hal. “Aku ingin membenahi musik di areaku dari sisi penggarapan sebagai pelaku seni. Membenahi dan mencoba diluruskan sebisaku,” harap Fero. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here