Nunung Membaca Puisi Darmanto Yatman di Sastra Bulan Purnama

0
52
Nunung Deni Puspitasari, foto Budi Adi
Nunung Deni Puspitasari, foto Budi Adi

Ini kali kedua Nunung Deni Puspitasari tampil membaca karya sastra di Sastra Bulan Purnama Tembi Rumah Budaya. Kali pertama tampil ketika Noorca dan Rayni meluncurkan buku karya keduanya, dan Nunung membaca karya Rayni Massardi. Kali ini, dua puisi karya Darmanto Yatman ia bacakan, di acara Sastra Bulan Purnama edisi 81, Jumat 29 Juni 2018 mengambil tempat di Amphiteater Tembi Rumah Budaya.

Nunung terbilang masih muda, usianya belum genap 40 tahun. Dia lahir 30 Oktober 1981, dan sejak 1999, artinya saat usianya 18 tahun mulai bergulat dengan kesenian, dan sampai hari ini, Nunung seperti tak bisa dijauhkan dari dunia seni.

Suatu kali, ketika bertemu dalam satu acara pembukaan pameran seni rupa di Padepokan Seni Bagong Kusudiardja, Nunung menyapa sambil bertanya, sekaligus untuk berbincang karena memang kita saling mengenal.

“Acara Sastra Bulan Purnama kapan lagi, pak?” tanya Nunung.

“Oh, bulan Juni nanti diisi untuk mengenang yang sudah tiada, salah satunya Darmanto Yatman. Bagus kalau kamu ada waktu membaca puisi karya Darmanto bersama Landung Simatupang,” kata Saya.

Nunung menyanggupi sambil akan melihat jadwalnya, dan akan mencari puisi karya Darmanto Yatman, yang cocok untuk dibacakan. Rupanya, kesungguhan Nunung dalam mencari puisi Darmanto Yatman mendapatkan puisi yang cocok, dan seperti janji dia untuk memberi kabar kalau dia bisa, melalui WA dia mengabarkan.

“Pak Ons, saya akan membaca dua puisi Darmanto Yatman berjudul ‘Istri’ dan ‘Bla..Bla..” tulis Nunung melalui WA.

Pergulatan dia di teater mempengaruhi dalam penampilannya membaca. Tidak hanya membaca puisi, tetapi juga membaca cerpen. Sampai sekarang Nunung masih aktif di teater Gandrik. Sebelumnya pernah terlibat di Teater Garasi, Bengkel Mime Theater, Forum Aktor Yogyakarta dan lainnya.

Rupanya, selain berteater, Nunung juga aktif menulis. Sejumlah cerpennya pernah dipublikasikan di media cetak. Novelnya juga sudah diterbitkan. Dunia menulis dan teater, agaknya, adalah jalan hidup yang dia pilih.

Hadirin menikmati SBP di Amphytheater, foto Budi Adi
Hadirin menikmati SBP di Amphytheater, foto Budi Adi

Sebagai pemain teater, Nunung mencoba untuk menghidupkan puisi Darmanto yang ia bacakan. Justru gaya membacanya berbeda dengan gaya pembacaan yang biasa dilakukan penyairnya, Darmanto Yatman. Mungkin, dia memilih puisi berjudul ‘Isteri’ karena Nunung seorang istri, sehingga melalui puisi Darmanto, ia menghayati perannya sebagai istri.

Konten Terkait:  Semar Gugat Mengusir Kuasa Jahat

Puisi Darmanto menjadi terasa lain dibacakan Nunung, dan dia sendiri, seperti sedang menyajikan kisah hidupnya, sekaligus kisah hidup para istri, yang kebetulan hadir melihat pertunjukan Sastra Bulan Purnama. Berikut ini puisi Darmanto Yatman yang berjudul ‘Istri’, agar publik membaca memiliki imajinasi bagaimana Nunung membacakan puisi tersebut.

ISTERI

isteri mesti digemateni
ia sumber berkah dan rejeki
(Towikromo, Tambran, Pundong, Bantul)

Isteri sangat penting untuk ngurus kita
Menyapu pekarangan
Memasak di dapur
Mencuci di sumur
mengirim rantang ke sawah
dan ngeroki kita kalau kita masuk angin
Ya. Isteri sangat penting untuk kita

Ia sisihan kita,
kalau kita pergi kondangan
Ia tetimbangan kita,
kalau kita mau jual palawija
Ia teman belakang kita,
kalau kita lapar dan mau makan
Ia sigaraning nyawa kita,
kalau kita
Ia sakti kita!
Ah. Lihatlah. Ia menjadi sama penting dengan
kerbau, luku, sawah dan pohon kelapa.
Ia kita cangkul malam hari dan tak pernah ngeluh walau cape
Ia selalu rapih menyimpan benih yang kita tanamkan dengan rasa
sukur; tahu terima kasih dan meninggikan harkat kita sebagai lelaki.
Ia selalu memelihara anak-anak kita dengan bersungguh-sungguh
seperti kita memelihara ayam, itik, kambing atau jagung.
Ah. Ya. Isteri sangat penting bagi kita justru ketika kita mulai
melupakannya:
Seperti lidah ia di mulut kita
tak terasa
Seperti jantung ia di dada kita
tak teraba
Ya. Ya. Isteri sangat penting bagi kita justru ketika kita mulai
melupakannya.

Jadi waspadalah!
Tetep, madep, manteb
Gemati, nastiti, ngati-ati
Supaya kita mandiri, perkasa dan pintar ngatur hidup
Tak tergantung tengkulak, pak dukuh, bekel atau lurah

Seperti Subadra bagi Arjuna
makin jelita ia di antara maru-marunya;
Seperti Arimbi bagi Bima
jadilah ia jelita ketika melahirkan jabang tetuka;
Seperti Sawitri bagi Setyawan
Ia memelihara nyawa kita dari malapetaka.

Ah. Ah. Ah
Alangkah pentingnya isteri ketika kita mulai melupakannya.

Hormatilah isterimu
Seperti kau menghormati Dewi Sri
Sumber hidupmu.
Makanlah
Karena memang demikianlah suratannya!
— Towikromo

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here