Sehabis mandi Ki Bayi Panurta memanggil istrinya Ni Malarsih dan anaknya Niken Tambangraras di jerambah, tempat untuk duduk lesehan di ruang tengah rumah induk. Dalam kesempatan tersebut, Ki Bayi membicarakan tamunya yang bernama Seh Amongraga. Menurut pandangan dan penilaian Ki Bayi, tamunya kali ini adalah seorang santri yang istimewa. Ia, selain berperilaku utama, wajahnya tampan kulitnya bersih dan bercahaya, seperti yang ditulis pada tembang berikut ini:

44. Nimbali garwanirèki
pinarak anèng jêrambah
sarta putranira Nikèn
Tambangraras anèng ngarsa
Ki Bayi lon lingira
kae santri kang mêrtamu
dhayohmu Ki Amongraga

45. Sadangune suntingali
pasang sêmune jatmika
awênês wêning sênênne
salamine ngong tamiyan
santri kang wus utama
tan kadyèki lêgawèngsun
cipta lir nggyan ngong ayoga

Oleh karena kekaguman Ki Bayi, ia memerintahkan istri, anak dan para pembantunya untuk melayani tamunya dengan menghidangkan berbagai jenis masakan istimewa di antaranya:

76. Pès-pèsan tambra têngiri
bothok jambal mangut utak
bakaran angsalan klalèn
basêngèk opor kambangan
masin ayam mênjangan
ragi ponjèn êmpal duduh
dhèndhèng gêpukan gorèngan

77. Prit gangsir kathik gulathik
dhèndhèng age ati lidhah
srêgan limpa rêmpah gadhon
lombok kêncêng pêtis banyar
cokak kêlawan kecap
lalaban sêmangka timun
têmu poh terong lan kacang

Suasana macapatan foto Indra
Suasana macapatan foto Indra

Walaupun Ki Bayi Panurta sangat mengagumi sikap dan penampilan Amongraga, ia belum lega jika belum mengetahui seberapa dalam kawruh ilmu yang dikuasainya. Demi tujuan itulah, pada suatu malam setelah istri, anak dan kerabatnya menata hidangan, Ki Bayi Panurta meminta agar mereka meninggalkan dirinya dan Seh Amongraga berdua saja di tempat itu.

Setelah ruangan tersebut menjadi sunyi, Ki Bayi mengawali dengan sebuah pertanyaan kepada Seh Amongraga, “Sesungguhnya apa yang menjadi keperluan untuk datang dari jauh bertemu dengan ku, coba katakan.” Seh Amongraga pun menjawab, bahwa ingin menanyakan makna yang ada di dalam ungkapan “curiga manjing rangka” (keris masuk wadhah) dan “rangka manjing curiga” (wadah masuk keris) dan “Suksma masuk badan” dan “Badan masuk suksma” seperti pada tembang berikut ini:

Konten Terkait:  Gelar Tari Kontemporer Mata Matra Mantra di TBY

88. Bab ing basa kang piningit
dununge ana lan ora
apan sayêkti anane
curiga manjing warangka
warangka manjing marang
ing curiga balikipun
suksma manjing maring badan

89. Badan manjing ing suksmèki
lan cacahe malaekat
Nabi Wali ing cacahe
apa iku anakingwong
kang dadi rubêdira
pira-barane nakingsun
yèn bisa amadhangêna

Ki Bayi Panurta tertegun dengan pertanyaan santri tamu tersebut. Ia balik bertanya, coba jelaskan apa yang kau ketahui tentang curiga manjing rangka, rangka manjing curiga dan suksma manjing di badan dan badan manjing di suksma. Ki Amongraga pun mebeberkan kawruhnya. Ki Bayi tersenyum. Hatinya lega. Inilah santri istimewa yang selama ini ditunggu-tunggu oleh putrinya, Niken Tambangraras.

Pengrawit Mardi Budoyo foto Indra
Pengrawit Mardi Budoyo foto Indra

Kisah yang ditulis dalam bentuk tembang macapat dalam Serat Centhini tersebut telah ditembangkan pada acara Macapatan Malam Rabu Pon putaran 165 di Tembi Rumah Budaya Yoyakarta, pada 26 Juni 2018. Ikut menyemarakan acara macapatan kelompok Karawitan Mardi Budoyo, Tirtonirmolo Kasihan Bantul pimpinan bapak Sukijo dengan pesinden: Nika Yunia, Sri Utami dan ibu Kasi.

Acara rutin setiap selapan (35 hari) ini dihadiri oleh pecinta macapatan di Yoyakarta, khususnya di Kabupaten Bantul, dimulai pukul 20.00 dan berakhir pada pukul 23.00. Angger Sukisno sebagai pemandu berhasil menjadikan acara ini menarik. Ada kalanya antara tembang dan karawitan berjalan sendiri-sendiri. Dan ada saatnya antara tembang dan karawitan berjalan bersama.

Annger Sukisno, setia menghidupi dan menghidupkan acara macapatan Rabu Pon di Tembi rumah Budaya foto Indra
Annger Sukisno, setia menghidupi dan menghidupkan acara macapatan Rabu Pon di Tembi rumah Budaya foto Indra

Hingga sampai pada waktu terakhir, saat Angger Sukisno menutup acara, para pecinta macapat dan karawitan masih bertahan duduk bersila di pendapa sambil menikmati teh serta hidangan yang disuguhkan. Seperti halnya Seh Amongraga yang menjadi tamu istimewa dari Ki Bayi Panurta, mereka pun menjadi tamu istimewa bagi Tembi Rumah Budaya. Karena dengan kesetiaannya mereka selalu datang untuk bersama-sama menghidupi seni tradisi macapat, yang mulai dilupakan oleh generasi muda. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here