Puisi Ben Sadhana

0
38

Sangkala

Pagi merekah menebar asa
Sepasangan paksi mencericit riang
Janganlah pagi sempat berakhir
Tatkala hati mendung menyongsong siang

Siang panjang menguak tabir nasib
Janganlah lega melepas siang
Sebelum hati riang penuh syukur
Mereguk segala manis keindahan

Sebab senja bersiap menyambut dalam kelembutannya
Segala hati bagi tubuh berpeluh penat bermadahkan syair Ilahi
Menghantarkannya kepada petang
Penuh kesyahduan

Bulan merayu diiringi tarian bintang-bintang
Membuai meninabobokkan
Jiwapun lelap dalam pelukan malam
Perlahan sang kala tunaikan bhakti putar lagu kehidupan

Surabaya 15092017

Kurasakan Malam Ini Begitu Gerah

Malam ini kurasakan gerah
Saat peluh tak pula sempurna terobos pori kulitku
Dibuatnya lengket sekujur tubuhku
Malam pun semakin beringsang

Kulihat anakku pulas dibuai mimpi
Dengkurnya merdu bak gita chanda kidungkan madah kasih
Kutengok ibu anakku lelap dalam temaram pradipa
Lembut embusan nafasnya sejuk laksana angin musim dingin

Sekawanan nyamuk bertempik sorai bernyanyi
rayakan pesta perjamuan
Dendangkan lagu cinta
Tiada hasrat mengusik

Ah, malamku tak lagi gerah kurasai
Dari balik tirai kamarku
Kusaksikan rembulan bermesra dengan gemintang
Tampilkan sinarnya nan gemilang lukisan malam

Surabaya, 31122017

Tobong

Pernah kusaksikan seorang Primadona
Amboi cantiknya ia
Parasnya, raganya dan elok wiraga tubuhnya
Gemulai seiring wirama

Tobong lah hidupnya
Dari sanalah ia terlahir
Bertumbuh dalam buaian gemulai tarian
Dan tonil yang gagah menjulang

Primadona kini tlah menua
Raganya tiada lagi mampu memantik benderang tobong
Tobong pun redup suram mengundang miris
Sunyi tanpa guruh gemirang penyuka

Primadona dan Tobong renta merintih
Ruhnya menjelang lepas
Tiada lagi gempita pemuja
Tonil kehilangan warnanya usang tergantung pasrah tanpa daya

Primadona gugur bersama Tobong
Tiada sedu sedan mengiringi
Hanya sesimpul senyum di bibirnya
Menghantarnya kepada keabadian

Surabaya, 25032018

Perjalanan

Waktu bersilih
Tik tik tik tik tik tik

Konten Terkait:  Puisi Hardho Sayoko SPB

Detik
Menit
Jam
Hari
Pekan
Bulan
Tahun
Windu
Dasawarsa

Meski almanak berpuluh kali berganti
Jam bertanggalan menyerah memilih berhenti berdetak
dimakan waktu dan usia

Bagiku tiada pilihan
Menolak waktu kutiada kekuatan
Lagipun bukanlah kuasaku tuk mainkan waktu

Ada masa aku pun digoda hasrat tuk berhenti tuk sekedar nikmati lelahku
Tapi apalah dayaku
Akulah wayang dalam lakonku

Surabaya, 24022018

Peron

Dalam diam di antara lalu lalang orang
Dan roda troli yang mendecit-decit bergesek dengan pualam
Pun para portir yang hilir mudik abaikan peluh membasah
sigap songsong berkah rezeki

Kuhanya terpaku
Saat lambaian tangan dan seulas senyummu
di antara mereka yang tergesa,
dan senyum yang kupaksakan

Hingga riuh berangsur senyap
Seiring kereta yang perlahan bergerak
Membawamu tinggalkan peron
yang kurasakan semakin kelam dan dingin

Surabaya, 20022018

Ben Sadhana, adalah nama pena dari Benediktus Agung Widyatmoko (lahir di Yogyakarta, 30 Maret 1972). Karya-karyanya terangkum dan telah terbit dalam bentuk buku yaitu : Indonesia Memahami Kahlil Gibran (BPPI, 2011), Hikayat Secangkir Robusta (Antologi Puisi – Krakatau Award, 2017), Pada Detik Terakhir (Antologi Cerita Pendek – Bajawa Press, 2017), Lelaki Yang Tubuhnya Habis Dimakan Ikan-ikan Kecil (Antologi Cerita Pendek – Rumah Pustaka, 2017), Semangkuk Sup di Malam Kudus (Antologi Puisi dan Pentigraf – Lingkarantarnusa, 2017), Mawar Untuk Gereja (Kumpulan Haiku – KKK, 2017), Surga Untuk Pohon Ulin (Antologi Pentigraf – Delima, 2018), Negeri Bahari (Antologi 199 Penyair dari Negeri Poci – KKK, 2018).

Ia pemenang pertama lomba mengarang tingkat SMA se-Kalimantan Tengah melalui karyanya “Serba Ada Belum Tentu Sayang Anak” (Depdikbud Kalimantan Tengah, 1990). Sejak tahun 2014 Ben Sadhana bermukim di Surabaya dan dapat dihubungi melalui pos elektroniknya dengan alamat : [email protected], WA/Line : 081803107847.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here