Bujang Kesatria, Kisahkan Legenda Masyarakat Jambi

0
89
Bujang Kesatria Saat Ditemukan Oleh Raja Siam
Bujang Kesatria Saat Ditemukan Oleh Raja Siam

Sebuah legenda masyarakat Jambi pada masa kerajaan Melayu Jambi disuguhkan oleh Sanggar Gurindam 12 dalam bentuk tari tradisi kontemporer dengan iringan musik modern di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta, Minggu, 1 Juli 2018. Suguhan lengkap dan menarik.

Kisah Bujang Kesatria diawali hadirnya seorang panglima perang yang cukup disegani dari Negri Keling, India, bernama Tan Telenai yang sudah lama tinggal di Melayu Jambi. Ia kemudian menikah dengan seorang gadis Jambi. Terkenal kuat dan jago bela diri, sayangnya Tan Telenai memiliki sifat buruk dan suka merampas milik orang lain.

Tan Telenai dan Istri
Tan Telenai dan Istri

Singkat cerita, Istri Tan Telenai hamil, namun kehamilannya tidak disambut dengan gembira karena diramal oleh seorang ahli nujum, anaknya akan lahir dan menjadi perkasa seperti ayahnya, namun pada akhirnya akan membunuh ayahnya sendiri.

Setelah lahir, Tan Telenai membuang anaknya di sungai, dan ditemukan oleh Raja Siam yang sedang memancing ikan. Bayi tersebut dan dirawat oleh Raja Siam dan diberi nama Bujang Jambi atau Bujang Kesatria. Ia tumbuh menjadi lelaki dewasa dengan ilmu pengetahuan dan ilmu bela diri yang baik.

Bujang KesatriaPada suatu hari, tanah Jambi dihuru-hara oleh segerombolan penjahat yang diketuai Tan Telenai. Kabar itu sampai ditelinga Bujang Jambi. Dengan amarah yang tinggi ia menantang Tan Telenai untuk berduel dengannya. Pertarungan sengit berakhir dengan matinya Tan Telenai di tangan Bujang Jambi. Sambil menahan sakit Tan Telenai menunjuk tanda lahir di lengan Bujang Jambi, sambil meringis kesakitan ia berteriak memanggil dengan sebutan ‘Anakku..”

Tan Telenai Mati Oleh Anaknya Sendiri
Tan Telenai Mati Oleh Anaknya Sendiri

Bujang Jambi terkejut, kenapa dia memanggilnya dengan sebutan ‘Anakku’. Raja Siam kemudian menceritakan yang sebenarnya, bahwa ia bukan anak kandungnya dan benar Tan Telenai adalah ayah kandungnya. Bujang Jamb menangis dan menyesal telah membunuh ayahnya sendiri, namun sejak saat itu Negri Melayu Jambi menjadi aman dan tenang.

Sanggar Gurindam 12 menyajikan legenda rakyat tersebut dengan tari, teater dan musik yang menarik. Penonton dibuat penasaran dengan akhir kisah legenda rakyat ini. Di akhir pertunjukan tepuk tangan meriah diberikan oleh penonton untuk sanggar yang sudah sejak 2017 mengusung gerak tari tradisional kontemporer.

Sanggar Gurindam 12 dibentuk karena rasa prihatin terhadap situasi anak muda yang kurang tertarik dengan tari dan musik tradisi, padahal dengan berkembangnya teknologi saat ini, segala informasi tari dan musik tradisi bisa didapat dengan mudah.

Tari Selampit Delapan
Tari Selampit Delapan

Dedi Suhaedi sebagai sutradara pertunjukan berharap dengan adanya pertunjukan seperti ini, bisa menjadi bekal pengetahuan untuk generasi yang akan datang dan tari dan musik tradisi terus berkembang. “Dan tentunya pertunjukan seperti ini bisa mendapat panggung yang besar agar informasi dan pengetahuannya bisa diberikan lebih luas lagi,” ujar dia. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here