Puisi Ade Novi

0
185

Kabar Kabut

Sudah sembilan bulan ia tak bersajak
Sejak langit terlihat terlalu biru
Sehingga tak ada sesuatu yang baru
Yang bisa dijadikannya larik-larik menarik

“aku mau langit berwarna coklat!” serunya bosan
Ia pun menggambarkan langit dengan crayon warna tembakau

Seseorang tertawa, Tawa yang membuatnya lumpuh
Tawa dalam kabut, luluh ia pun mengejar kabut jauh
Kabut yang membelai helai-helai rambut
” bukankah engkau perempuan kuning? mengapa tidak menggambar matahari berwarna mentega?”

Ia terpukau, kabut itu secoklat langit dengan taburan wangi tembakau
Tiba-tiba saja dadanya sibuk
Dengan debar yang menyerubuk

Jakarta, 10 Juni 2018

Sebuah Pagi

Pada sebuah pagi yang sumringgah
Burung burung singgah, mematuki bebijian
Seperti memetik putik-putik puitik
Lalu mereka memeluk suluk untuk mewuwung suwung

Jakarta, 16 Mei 2018

Hati Tersihir

Bagaimana aku sebuta ini?
Sebuta ikan bermata suram yang semalaman kelopaknya tak mampu rekah karena lelah
Sebab sudah semalaman kupandang bulan dalam pasu dan belaga

namun bulan tak basah-basah juga karena air
Dan air tak pernah pecah-pecah juga karena bulan
Seperti itulah aku membuta

Jakarta, 16 Mei 2016

Pangeran

Bagaimana aku bisa?
Mengharapkan pangeran berwajah emas dari istana
Berajah tembaga
Pangeran asap yang bersayap
Yang napasnya menghamburkan harum tembakau
Sehingga ketika ia lenyap
Aku tetap saja mabuk dalam kegaiban pesona yang ajaib

Seperti itulah aku mengharapkannya

Jakarta, 16 Mei 2018

Kepada A.W

Teduh suara subuh
Sepi bunyi tubuh
Gerimis mendenting hening
Dan kau tak bergeming

Jakarta, 10 Juni 2018

Ade Novi, perempuan kelahiran Jakarta, 10 November ini aktif di dunia sastra. Menulis puisi dimulainya sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama. Karyanya sudah banyak diterbitkan dalam antologi tunggal dan bersama dengan para penyair nusantara. Selain menulis puisi Novi piawai menulis cerpen. Beberapa cerpennya pun sudah terbit dalam antologi tunggal dan bersama. Sebagai guru ia aktif di berbagai organisasi di Jakarta dan Depok.

Konten Terkait:  Puisi Marlin Dinamikanto

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here